GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TEKAD KUAT MELIANA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Adit merasakan kebahagiaan lagi karena pagi ini dia kembali memandikan putra-putranya. Adit memakaikan pakaian yang Dinda siapkan agar putra-putranya siap berangkat ke sekolah.


“Bun, Ayah anter ke sekolah, lalu Ayah langsung kantor ya,” Adit bicara sambil memakaikan kaos kaki Ghifari. Adit dan Dinda telah membuat  konsensus di depan anak-anak akan selalu saling memanggil ayah dan bunda. Bukan ber aku kamu seperti ketika mereka hanya berdua.


“Masalahnya yang bawa mobil Bunda tuh siapa? Mereka pasti enggak mau naik mobil Bunda kalau Ayah ada di mobil Ayah sendiri,” Dinda memberikan pandangan tentang bagaimana mereka bisa diantar Adit kalau Adit akan langsung berangkat kerja?


“Enggak apa apa. Ayah naik mobil Bunda aja saat berangkat. Bu Tari tetap ikut karena nanti pulang kan Bunda sama Bu Tari.” Jelas Adit.


“Terus Ayah kerja bagaimana?” kata Dinda bingung.


“Habis anak-anak masuk kelas, Ayah pulang naik ojek online lalu baru berangkat kantor,” jelas Adit selanjutnya.


“Oh ya sudah kalau Ayah punya pemikiran seperti itu,”  Dinda tidak banyak protes. Dia pun menyetujui semua usulan Adit.


“Iya yang penting anak-anak di kasih pengertian dulu Bun, bahwa Ayah kerja. Nanti pulang kerja baru Ayah ke sini lagi.”


“Iya anak-anak walau belum mengerti, tapi mereka tahu kalau di kasih penjelasan. Tapi ingat ya, Bunda enggak pernah ngebolehin kasih harapan palsu. Mereka harus tahu kenyataan sejak awal. Bukan dibohongi. Bila Ayah tidak bisa, katakan sejak awal. Jangan janjikan sesuatu yang kita tak mampu melakukannya.” Jelas sekali Dinda memberitahu pola asuh yang dia terapkan pada si kecil. Dinda tak mau ada kebohongan.


“Iya Ayah ngerti,” jawab Adit.


“Ya sudah ayo kita sarapan,”  pagi itu Dinda bikin sarapan buat Adit dan anak-anak juga dirinya. Dinda juga masak untuk makan siang Adit dan Eddy di kantor nanti. Semua sudah Dinda siapkan, tinggal Adit bawa.


Mereka pun sarapan bersama berempat. Sesekali Adit dan Dinda membantu Ghibran dan Ghifari.


“Bun, jangan lupa nanti kita lapor ke RT. Semalam kita lupa,” kata Adit sambil makan nasi uduk dan ayam goreng yang Dinda siapkan. Untuk anak-anak Dinda memberikan nasi uduk dan perkedel ayam cincang yang dia buat sendiri.


“Ayah udah sibuk mainan sama anak-anak padahal kemarin datang sebelum maghrib. Jadi lupa sama tujuan lapor RT. Ya sudah nanti malam kita lapor, bawa anak-anak aja biar jelas,” kata Dinda mengejek Adit.


“Ayo cepat, mau sekolah enggak? Kalian enggak akan berangkat sekolah kalau maemnya enggak habis,” Dinda merangsang anak-anak makanan dihabiskan bila ingin berangkat sekolah.


“Uwah, Yah uwah,”  kata Ghibran.


“Ya, kita ke sekolah sama Ayah,” jawab Dinda. Adit baru mengerti kalau Ghibran bilang mereka mau berangkat sekolah bersama ayah.


“Ya kalian sekolah bersama Ayah. Nanti saat kalian belajar, ayah kerja dulu ya. Nanti pulang kerja Ayah ke sini lagi. Ayah kerja dulu. Pulang sekolah kalian pulang bersama Bunda. Pulang kerja Ayah ke sini ya,” Adit bingung sendiri bicara dengan dua anak batita. Sehingga sering mengulang kata yang sudah dia ucapkan.


Mobil Dinda masuk hampir bersamaan dengan mobil ketua yayasan hanya letak parkir mereka pasti berbeda, parkir ketua Yayasan ada di VIP.


Adit menurunkan anak-anak bersama dengan Dinda, Bu Tari hanya mengikuti dari belakang.


‘Keluarga yang sangat harmonis,’ kata Meliana dalam mobilnya. Dia sengaj tak turun untuk memperhatikan keluarga Adit dengan leluasa.


‘Aku tetap ingin memiliki Adit. Bagaimana aku bisa? Aku harus bisa!’ tekad Meliana.


“Ayo salim dulu, Ayah mau berangkat kerja,” kata Adit pada Ghibran dan Ghifari. Adit jongkok di depan kedua putranya. Ghifari menatap mata Adit lekat-lekat seakan dia tidak mau Adit meninggalkan dirinya.


“Ayah kerja kantor Mas, nanti Ayah pulang kok,” bisik Adit seakan mengerti apa yang putranya rasakan. Ghifari memang terlalu perasa sehingga dia langsung  punya feel yang beda dengan yang Ghibran rasakan. Adit dan Dinda sudah menyadari hal ini sejak keduanya lahir.


“Mas,” kata Dinda yang ikut berjongkok di depan anak-anak.


“Ayah kerja kantor dulu. Nanti sore pulang ya, sekarang kita sekolah,” bisik Dinda pada Ghifari.


Akhirnya Ghifari mau salim pada Adit. Tanpa banyak protes Ghibran pun salim, lalu keduanya diantar Dinda dan Bu Tari masuk ke kelas. Adit mengikuti anaka-anak sampai depan kelas.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok