
“Bagaimana Dinda?” tanya Eddy saat mengantarkan telur setengah matang juga menu makan siang buat Adit dan Dinda.
Tadi sebelum berangkat Dinda sudah minum madu duluan dan Dinda yakin sebentar lagi juga papa akan bawain dia telur setengah matang dan madu yang tadi di pesan Adit sekalian makan siang.
“Dia masih tenang Pa, baru pembukaan 5, makanya biar makan siang dulu jadi enggak kehabisan energi. Aku bawa ini ke dalam. Papa ikut masuk aja. Sekarang kan masih boleh masuk Pa. Biar Papa bicara dulu sama Dinda,” ajak Adit.
“Ya udah Papa biar bicara dulu sama Dinda,” Eddy senang masih boleh bertemu putri cantiknya sebelum dia melahirkan. Biar Dinda menantu tapi bagi Eddy Dinda adalah putrinya.
“Ini makan telur setengah matangnya dulu Yank,” pinta Adit. Eddy tadi membeli 4 buah telur setengah matang ayam kampung di depan rumah sakit. Selain dia membeli 4 box makan siang, satu buat sopir tentunya.
Tanpa menolak dan tanpa membantah Dinda memakan semuanya. Dia tahu butuh perjuangan berat sehabis ini, sehingga tidak mau membuat repot. Dia makan apa yang disiapkan oleh suaminya.
“Doain aku ya. Pa,” pinta Dinda sambil makan.
“Pastilah kita semua berdoa buat kamu tanpa kamu minta,” jawab Eddy.
“Kakak-kakaknya sudah tahu?” lanjut Eddy.
“Tadi aku sudah telepon ke Mbok Marni, bilang aku siap on the way ke rumah sakit,” kata Dinda.
“Mereka dua sudah tahu kok. Paling Aidan yang belum mengerti,” jawab Dinda.
“Oh ya sudah kalau sudah tahu.”
“Aku titip anak-anak ya Pa, selama aku di rumah sakit,” Dinda mengakhiri makan siangnya.
“Iya.”
“Anak-anak enggak usah dibawa ke sini Pa. Enggak baik buat mereka. Biar mereka nanti ketemu di rumah saja. Jangan bawa mereka nengok aku di sini. Kalau mereka ingin bertemu nanti kita video call saja,” lanjut Diah.
“Oh iya, pasti Papa enggak akan bawa mereka. Papa enggak akan izinin mereka ke rumah sakit, kalau bukan buat berobat. Karena di sini itu bukan tempat yang baik buat mereka.”
“Terima kasih Pa kalau ngertiin.”
Mereka masih sempat ngobrol beberapa saat ketika suster datang.
“Ayo Ibu kita mulai ya. Bapak silakan ikut kami dan nanti ganti baju di ruang bersalin agar bisa menemani Ibu,” ajak suster pada Adit.
“Siap, baik suster,” kata Adit.
Dinda pun salim pada Eddy yang mendekat ke bed nya. Eddy mengecup kening Dinda dan membacakan doa di puncak kepala menantunya.
“Papa tunggu sini aja Pa. Enggak perlu tunggu di depan ruang bersalin,” kata Adit.
“Papa mau tunggu depan ruang bersalin aja kok, Enggak apa apa,” jawab Eddy.
“Papa enggak istirahat di sini aja?” tanya Dinda.
Akhirnya Eddy pun ikut ke depan ruang bersalin, dia menunggu di sana.
“Kita ukur tensi lagi ya Bu. Karena tensi selalu cepat terjadi perubahan mendadak.”
“Iya suster, enggak apa-apa,” jawab Dinda.
“Bu ini masih bagus tensinya, kita mulai ya. Sebentar lagi biar dokter mulai PD dulu. Kayaknya sih sudah mendekati. Tadi pas saya tinggal sudah pembukaan 7 ‘kan?”
“Iya Suster, ini memang sudah mulai sakit sekali kok,” jawab Dinda.
“Saya salut sama Ibu. Tiap hari saya lihat orang melahirkan tapi Ibu tetap tenang aja.”
“Kalau saya jerit-jerit bayinya lahir enggak Suster? Malah saya cuma buang energi kan? Jadi lebih baik saya simpan energi saya buat hal yang lebih berguna yaitu mengeluarkan bayi saya,” kata Dinda.
“Betul Bu. Semua juga merasakan sakitnya itu, tapi banyak ibu yang tidak sadar mereka buang energi percuma. Saya salut sama Ibu bisa memanage emosinya sedemikian rupa menahan sakit yang sangat.”
Dokter perempuan masuk, walau biasa kontrol dengan dokter lelaki, sejak kelahiran Aidan, Dinda minta melahirkan dengan doketer perempuan wakil dokter tempat dia biasa periksa.
“Wah ini sebentar lagi Pak, sudah pembukaan 9. Ayo kita bersiap Bu. Oke ya, nanti saya akan pandu Ibu bila sudah pembukaan lengkap,” kata dokter.
“Baik Dokter,” jawab Dinda.
“Bismillah ya Yank, kita pasti bisa,” kata Adit memberi afirmasi pada Dinda. Dia jelas mengatakan kita buka kamu. Artinya Adit juga ikut dalam perjuangan Dinda. Tentu itu berbeda arti buat yang mendengarnya.
“Ya Mas, doain aku bisa,” balas Dinda merasakan kecup manis di keningnya.
“Insya Allah kamu dan anak-anak semua selamat,” Kata Adi sambil mengecup dua mata istrinya . Adit juga mengecup punggung tangan kanan istrinya yang ada dalam genggamannya.
“Ayo Bu, kita mulai ya,” Kata dokter.
“Pada hitungan ketiga Ibu mengejan, jangan asal karena akan tak ada gunanya,” dokter memehang perut Dinda.
“Siap Dokter,” jawab Dinda pasrah.
“Satu,”
“Dua,”
“Tiga, ayo Bu yang kuat!”
Dinda pun langsung mengejan.