
“Dengan nyonya Marion Tobing?” tanya seseorang siang ini, pada opung Gultom.
“Betul. Saya nyonya Marion,” kata opung Gultom.
“Ibu bisa ke rumah sakit Prima Husada?” tanya seorang lelaki di ujung telepon.
“Ada apa ya?” tanya opung sedikit curiga.
“Ini ada lelaki berusia 40 sampai 50 tahun. Kondisinya kritis dan hanya ada nomor ibu di panggilan terakhirnya di pembicaraan telepon terakhirnya. dia diantar dua orang pegawainya dari kantor Bu,” jawab petugas yang menghubungi opung Gultom.
“Baik saya akan ke sana,” kata inang Gultom. dia tak percaya anaknya mendapat masalah di kantornya.
Inang pun langsung menuju ke sana dengan taksi online yang dipesankan oleh si bibi karena dia tidak punya aplikasi tersebut. Kalau pergi jauh inang tidak berani pakai motor sebab dia tidak punya SIM.
Inang belum mau menghubungi Sondang karena belum ada kepastian apa dan bagaimana kondisi Gultom. Inang juga tidak tahu apa penyebab Gultom sampai masuk rumah sakit. Jadi dia harus tahu lebih dulu pokok permasalahannya.
Di rumah sakit inang bertemu dengan dua orang pegawai satu kantor yang mengantar Gultom ke rumah sakit.
“Bagaimana ceritanya?” tanya inang.
“Saya ibunya, yang dihubungi pihak rumah sakit,” jelas inang.
“Dari pagi pak Gultom seperti linglung Bu. Sejak masuk ruangannya dia tak memberi perintah atau memanggil kami sama sekali. Lalu saat makan siang kami mengetuk ruangannya. Tak ada jawaban, kami mencoba melongok, takutnya pak Gultom tertidur tapi ingin tiitp beli makan siang. Ternyata mulutnya sudah berbusa, kami langsung bawa ke sini dan di nomor teleponnya pembicaraan Ibu adalah panggilan yang terakhir. Jadi kami mencoba memberitahu rumah sakit tentang panggilan tersebut dan ini ponsel pak Gultom. Hanya itu yang ada di kami. Dompetnya masih di saku beliau, kunci mobil juga,” jelas seorang anak buah Gultom pada inang.
“Kenapa Inang?” tanya Sondang begitu mendapat telepon dari ibu mertuanya.
“Gultom mencoba bunuh diri entah obat apa yang dia minum. Mulutnya berbusa dan sekarang sedang di rumah sakit. Dia diantar oleh anak buahnya di kantor yang menemui dia sudah kejang dengan mata terbelalak dan mulut berbusa,” jellas inang pada menantunya itu.
“Ya Tuhan apa yang terjadi Inang?” tanya Sondang kaget.
“Inang belum tahu. Dia belum sadar. Tadi dokter sudah memompa isi peritnya,” jelas opung.
“Saya belum bisa pergi ke situ. Nanti saya akan ke sana setelah selesai meeting ya Inang,” jelas Sondang.
“Ya. Yang penting kamu sudah Inang beritahu kondisi Gultom saat ini,” jawab inang.
Sebenarnya Sondang sedang tidak ada meeting apa pun. Dia hanya malas saja melihat kondisi Gultom. Karena pasti ini berkaitan dengan anak-anak mereka. Jadi dia malas. Dia juga bingung apa yang harus diberitahu pada anak-anaknya kalau mereka tahu papanya mencoba bunuh diri.
Belum lagi siapa yang harus menggantikan inang menjaga Gultom di rumah sakit? Bukankah dia sudah mantan istri? Tak ada kewajiban apa pun. Tapi bila dia tak menggantikan inang, kasihan pada orang tua itu.
‘Serba salah,’ ucap Sondang dalam hatinya.
Akhirnya Sondang pun izin pada Ilham untuk pulang lebih cepat. Setidaknya dia akan mengantarkan pakaian ganti untuk ibu mertuanya saja. Juga membawa beberapa keperluan dasar yang dibutuhkan di ruang rawat seperti tissue atau keperluan lainnya.