GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ADA APA DENGAN GHAYLAN?



“Hari ini aku maunya diantar Ayah,” pintar Ghaylan si bungsu saat Adit membantu anak-anak bersiap berangkat ke sekolah. Tugas mengawasi anak-anak, tugas berhubungan dengan pihak sekolah memang tugas Adit, tapi biasanya yang mengantar sekolah adalah Dinda yang waktu bekerjanya bisa lebih fleksibel. Boss tentu bisa atur waktu kerja. Adit dan Dinda tak mau mereka seenaknya. Maka Adit yang selalau lebih banyak di kantor.


“Kenapa harus Ayah? Biasanya ayah nggak pernah antar kan?” tanya Radit pelan, tak ingin putranya terluka.


“Pokoknya aku nggak mau sekolah kalau Ayah nggak anter,” tukas Ghaylan.


Memang biasanya yang antar anak-anak adalah Dinda. Sejak 1 tahun belakangan ini Adit jarang mengantar karena dia harus stand by di kantor pagi dan Dinda yang agak siang. Dinda urus anak-anak dulu baik ke sekolah maupun di rumah. Adit pun berangkat saat anak-anak sudah berangkat tapi dia tidak ikut mengantar ke sekolah. Tapi kalau berurusan dengan administrasi sekolah, Adit yang maju.


‘Pasti ada apa-apanya nih,’ pikir Adit. Maka dia pun meminta Shindu mengatur ulang jadwal yang pagi mungkin sampai jam 11.00 siang. Karena takutnya dia harus stand by di sekolah. Adit tak ingin anak-anaknya mempunyai masalah.


“Oke Ayah akan antar. Sekarang kalau sudah siap cepat kamu menuju ruang makan,” kata Adit pada Ghaylan. Dia langsung melihat kamar Ghazanfar. Ghaz biasa dia dipanggil. Kakak bungsu ini sama dengan Ghifari. Super smart dan pendiam. Ghaylan karakternya lebih pada cengeng tapi periang dia kombinasi antara Ghaidan dan Ghibran


“Sudah siap jagoan?” tanya Radit pada Ghaz.


“Siap Yah,” jawab Ghazanfar sambil mengambil tasnya. Tasnya sangat kecil berisi satu buku saja. Tak pernah dia bawa banyak buku. Buku cetaknya dan buku latihan semua tak ada yang Ghazanfar bawa pulang. Semua ada di lokernya. Ghazanfar hanya bawa satu buku untuk menulis semua yang dia dengar dan dia lihat baik keterangan dari guru maupun keterangan dari semua yang ada di sekitarnya. Kalau buku pelajaran memang semua disiapkan oleh sekolah jadi tak ada buku PR. Sekolahnya tidak memberikan PR buat anak-anak.


“Bun nanti sebelum berangkat kita bicara sebentar, penting!” bisik Adit pada Dinda sambil mengedipkan matanya saat menerima piring sarapan dari istrinya.


Dinda tak menjawab hanya mengangguk, Dinda tahu pasti ada suatu hal tentang anak-anak.


Dinda meladeni anak-anak semaksimal mungkin. Satu persatu semua dia perhatikan baik makanannya maupun celotehnya. Dia mengimbangi semuanya, tak ingin berat sebelah. Semua omongan anaknya direspon. Dia juga tetap harus memperhatikan ayah mertuanya juga pastinya sang suami agar tak merasa di nomor duakan dibanding anak-anak. Sungguh peran yang sangat melelahkan. Tapi Dinda menjalaninya dengan penuh syukur.


“Sebentar ya, Bunda ambil flashdisk dulu. Flashdisk Bunda ketinggalan di kamar. Belum masuk ke tas,” kata Dinda, saat anak-anak mau bersiap berangkat.


“Kenapa Yah?” tanya Dinda.


“Ghaylan tiba-tiba minta Ayah antar dia ke sekolah.” ucap Adit.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi pada dirinya Yah,” balas Dinda.


“Sudah ayo kita datang berdua. Tapi nanti Ayah yang anter Ghaylan sesuai dengan permintaannya. Kita lihat apa yang terjadi pada anak itu.” ajak Adit. Yang penting Dinda sudah tahu.


“Tiap hari Bunda antar dia sampai kelas kok. Semuanya masing-masing Bunda antar sampai kelas, kecuali tentu Fari dan Iban yang sudah tak mau diantar ke kelas. Terus kalau Ghaidan dia sering lari sendiri, tapi nanti akan Bunda tengok benar nggak dia sudah sampai kelasnya. Nanti dia akan lari ke depan pintu untuk mencium Bunda begitu Bunda datang. Jadi semua tahu bahwa Bunda antar mereka,” jelas Dinda.


“Mungkin ada yang ngejek Ghaylan anak Bunda atau istilah anak-anak ANAK MAMI dengan konotasi kolokan, jadi dia ingin terlihat diantar oleh ayahnya,” kata Radite.


“Bisa jadi begitu Yah. Tapi maaf ya, bukan mendiskredit para orang tua. Sekali lagi maaf. Banyak kok yang sama sekali nggak pernah diantar orang tuanya. Banyak yang hanya ditemani pembantunya sepanjang hari. Bahkan ada yang bilang mereka sama sekali nggak pernah dapat sentuhan kasih sayang. Orang tuanya nggak peduli. Yang penting anak-anak ada makanan dan ada yang menemani. Itu aja, banyak yang Bunda dengar seperti itu. Karena mereka kan semuanya orang-orang the have, mereka hanya mengejar materi. Nggak mikir memberikan sayang dan attensi kepada anak-anak. Justru banyak orang tua yang bilang kagum sama kita yang masih perhatian sama anak-anak walau kita sibuk dan anak kita banyak,” jelas Dinda.


“Itulah yang banyak Ayah dengar. Makanya yang Ayah pikir kita kayaknya nggak kurang-kurang perhatian sama mereka. Tapi mengapa Ghaylan sekarang seperti ini? Itu yang Ayah takutkan. Takutnya ada yang mengganggu pikiran Ghaylan,” jawab Radite Alkav.


“Ya sudah yuk kita berangkat. Yang penting kita sama-sama tahu apa maksud keberangkatan Ayah ke sekolah sekarang.


Mereka berdua pun akhirnya turun kamar menuju ke mobil.