
“Kamu di mana Mi?” tanya Ajat di ujung telepon saat Santi baru saja menyuap makanan ke mulutnya.
“Aku sama Bu Dinda dan temanku Wika sedang makan siang Pi. kami di rumah makan lesehan SEDULUR dekat kantor lama aku,” kata Santi jujur. Dia memang tak pernah bohong mengenai apa pun karena takutnya bila bohong ketahuan. Nanti lebih bahaya, terlebih-lebih suaminya sudah dua kali dibohongi oleh mantan istrinya. Jadi Santi tak pernah mau bicara bohong nanti bisa memicu pertengkaran lagi dan Santi memang benar-benar sedang makan siang.
“Kenapa Pi? Ada perlu apa?” tanya Santi.
“Tadinya mau ngajak Mami makan siang, ternyata Mami sudah di luar kantor,” jawab Ajat dengan pandangan setajam elang.
“Iya, bos aku ngajak ketemuan makan siang. Habis makan siang kami akan membahas masalah fokus kantor cabang yang aku pimpin sama Wika pimpin, karena tiga cabang lain kemarin sudah duluan. Program mereka beda fokus, sehingga tidak bareng dengan aku dan Wika,” Santi menerangkan pada Ajat tujuan pertemuan kali ini.
“Oh ya udah, selamat makan ya Mi,” kata Ajat.
Bukan tanpa alasan Ajat menghubungi istrinya. Dia tak pernah ragu akan kesetiaan Santi, tapi untuk membuktikan sendiri kadang-kadang juga perlu di test. Tadi tak sengaja dia melihat istrinya sedang bersama dua orang perempuan. Ajat juga bersama dua orang perempuan lain tetapi sejak menikah dengan Santi memang Ajat tak pernah main perempuan. Kali ini mereka bertemu untuk urusan bisnis juga kok.
Ajat kaget ternyata Santi benar-benar jujur sedang makan siang dengan bosnya juga dengan seorang kepala cabang lain. Padahal seharusnya kalau mau curiga Ajat lah yang harus dicurigai dia yang bersama 2 perempuan yang bukan istrinya.
Sehabis makan Santi, Wika dan Dinda memang langsung membuka laptop mereka juga mencoret-coret sesuatu untuk bahan diskusi. Dari jauh Ajat memperhatikannya.
‘Ternyata dia benar-benar bekerja, bukan hanya sekadar makan siang,’ terus saja Ajat memperhatikan istri ke tiganya itu.
‘Tiga kali aku menikah, semua berbeda cerita. Chyntia cinta pertamaku. Kami menikah karena Chyntia hamil dan dia dibuang keluarganya karena terpaksa masuk islam.’
‘Ketika dia kembali bertemu dengan cinta sejatinya dia membuang Mischa. Tak peduli anak karena dia memang tak suka anak yang dia bilang bikin tubuhnya rusak.’
‘Pernikahan kedua karena jebakan Hasnah, dia hamil setelah kami beberapa kali berhubungan, tapi dasar perempuan matre, begitu dapat yang lebih kaya, Hasnah juga kabur membuang Farouq. Dan selama jadi ibu sambung Mischa dia tak pernah peduli pada gadis kecil itu.’
‘Aku enggak tau mengapa ibu dan Mischa sangat mencintai Santi dan minta aku menikahinya. Gadis polos, pekerja keras, mandiri, bukan dari orang tak punya tapi sangat ayang pada Mischa dan Farouq.’
‘Aku menikahinya SEKADAR membuat kedua anakku punya mami saja.’
‘Tapi ternyata aku salah. Dia adalah bidadari yang Allah turunkan untukku dan anak-anak. Darinya anak-anak kenal kasih sayang ibu, darinya anak-anak bisa patuh pada orang tua juga mengenal agama.’
‘Dari Santi pula, ibu merasakan punya menantu dan aku merasakan punya istri. Walau aku belum menyentuhnya, Santi melaksanakan kewajiban seorang istri padahal dia tetap kerja di kantor. Tak seperti kedua istriku sebelumnya yang pengangguran tapi tak mengurus suami.’
‘Tak salah kalau anak-anak memilih dia sebagai mami mereka dan tak salah ibu sangat mencintainya melebihi 2 mantan istriku yang lain karena dengan Santi ibu baru merasakan punya menantu.’
‘Santi sangat menghormati ibu sebagai orang tua. Apa pun yang ibu suruh atau ibu minta pasti langsung dikerjakan Santi bahkan tanpa diminta Santi sering mengirim atau membantu ibu dalam hal apa pun. Bukan soal finansial karena soal finansial tentu ibu lebih banyak bahkan Santi sering menawarkan diri menemani ibu kemana pun ibu mau pergi.’
Ajat tersenyum melihat istrinya yang terlihat berpikir keras, lalu terlihat ketiga perempuan itu tertawa dan kembali bekerja.
Ajat tak main-main dengan Santi atau dengan semua pernikahannya. Dia tak pernah main perempuan apalagi untuk punya selingkuhan sama sekali tidak. Karena dia paling benci selingkuh. Soal main perempuan diakui waktu itu tanpa hati hanya sekadar jajan ketika dia sudah tak punya istri. Selama dalam pernikahan tak pernah ada istilah jajan baik dengan istri pertama kedua maupun sekarang dengan Santi.
“Semoga berhasil ya kalian. Saya kasih waktu satu minggu untuk diskusi. Kamu bikin grup aja dengan Pak Adit karena rombongannya Ilham, Fahrul dan Ajeng juga dengan Pak Adit. Nanti kalian diskusikan di situ. Saya nggak perlu dilibatkan di group karena nanti akan rancu bila saya ikut masuk di grup. Sesudah kalian berdiskusi baru kita ketemu lagi sama seperti yang dilakukan oleh Ilham dan teman-temannya. Sanggup kan kalian?” tanya Dinda pada dua srikandi binaannya.
“Insya Allah kami sanggup Bu. Anaknya Ibu masa nggak bisa sih? Kan dari dulu Ibu bilang kami adalah anak-anak pilihan Ibu. Jadi kami yakin kami bisa,” kata Wika.
“Benar, walau tak sehebat Ibu, kami tetap akan hebat,” kata Santi melengkapi perkataan Wika.
Mereka pun menumpukkan tiga punggung tangan di meja dan toss. Menandakan pertemuan itu akan bubar.
Saat itulah Ajat masuk ke rumah makan untuk menemui istrinya. Dia memang melihat ketiganya telah selesai membahas program kerja.
“Lho Papi baru mau makan siang?” kata Santi melihat suaminya datang. Dinda dan Wika tentu sudah kenal, mereka datang saat pernikahan Santi.