GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SANKSI SOSIAL BUAT NENI



“Itu orangnya sedang siram pohon, dia ada di depan rumahnya,” jawab opung tanpa menduga reaksi kedua cucunya. Dia kira anak gadis ABG itu hanya sekadar ingin tahu.


Tanpa menunggu opung selesai bicara, Tarida  berjalan ke depan.


Tarida melihat seorang perempuan dengan celana super pendek kaos tanpa lengan yang super ketat dan basah! Sehingga otomatis lekuk tubuhnya terlihat jelas bahkan puncak mahamerunya jelas terlihat di balik kaos ketatnya, memperlihatkan warna coklat jelas di kaos pink tipis yang dia kenakan.


“Kok bisa ya menyiram dengan selang di tangan, bajunya basah duluan?” kata Tarida  dia sengaja bicara kencang agar Neni mendengarnya dan kebetulan ibu di sebelah juga sedang ada di depan menyapu halamannya. Sore begini banyak orang lewat dan banyak para bapak pulang kerja atau para mahasiswa pulang dari kampus.


“Kenapa Eda?” tanya Icha yang sudah ikut keluar menyusul kakak perempuannya.


“Lihat deh. Masa orang dewasa menyiram pakai selang bajunya basah duluan. Itu habis mandi duluan lalu keluar tanpa handuk atau menyiramnya bagaimana? Padahal menyiram pakai selang bukan angkatin ember lalu sebagian airnya tumpah di badan ‘kan?” kata Tarida.


Ibu di sebelah langsung menengok apa yang Tarida katakan dan buat dia itu sudah hal biasa. Karena berkali-kali Neni memang seperti itu. terlebih bila ada suaminya atau orang yang atau orang yang lalu lalang. Neni akan makin over acting.


“Dia memang biasa seperti itu Dek,” kata ibu sebelah akhirnya gatal untuk ikut menimpali kata-kata Tarida.


“Oh begitu ya Tante? Dia biasa mandi dulu tanpa handukkan lalu baru memandikan pohonnya?” kata Tarida.


“Kok nggak punya malu ya Kak?” kata Icha dengan polosnya.


“Mungkin memang caranya seperti itu. Makanya dia kejar-kejar Papa seakan-akan Papa memang jadi buruannya. Persis kayak kucing mau nangkap tikus,” ucap Tarida.


“Adik anaknya siapa?” tanya ibu itu karena tak melihat dua gadis kecil itu keluar dari rumah yang mana.


“Oh anaknya Pak Tobing,” sahut si ibu.


“Iya Tante, saya tahu dari opung, katanya tante yang menyiram itu tiap hari sengaja nunggu di depan pintu mobil Papa saya. Biar dia bisa ikut ke pasar. Lalu setiap malam dia juga nungguin di depan pintu rumah biar ikut masuk ke rumah Papa saya. Makanya saya ingin tahu yang mana orangnya,” kata Tarida.


Ibu itu kaget. Dia hanya tahu bahwa Neni selalu ikut saat pagi tapi tak pernah tahu soal kegiatannya saat malam ingin ikut masuk rumah pak Tobing.


Rupanya tanpa Sondang tahu, saat dia mendengarkan voice note dari opung, kedua anaknya mendengar. Sondang memang tidak menceritakan pada mereka, mereka mendengar sendiri. Jadi bukan kesalahan Sondang juga.


“Wah Ibu malah nggak tahu loh kalau tiap malam ada yang nungguin Pak Tobing dan ingin ikut masuk rumahnya,” sahut sang ibu sambil memandang dengan tatapan mengejek pada Neni.


“Saya udah tahu kok Tante, bahkan setiap malam Papa harus ngungsi dulu di pos satpam atau kalau Papa sudah nggak kuat, Papa minta antar satpam buat antar dia pulang ke rumah,” kata Icha.


“Ya ampun sampai sebegitunya?” tanya ibu sebelah.


Neni yang mendengarkan itu tentu saja tak habis pikir rahasianya sudah terbongkar oleh anak kecil.


“Iya Tante, Papa sudah lapor Pak RT makanya saya tahu,” sahut Icha.


“Ayo Tante, kami permisi pulang, kata Tarida. Dia mengajak Icha pulang ke rumah. Dia senang misinya telah selesai.


Tanpa bisa dibendung keterangan dari Tarida dan Theresia menjadi viral dari satu mulut tetangganya Neni langsung ke WA group rumpi para ibu perumahan. Itu adalah sanksi sosial yang fatal buat Neni.