GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KALAU KAMU MAU BERANGKAT, BERANGKATLAH!



“Bagaimana Suster? Saya barusan dipanggil atau nama Farouq,”  Ajat menghampiri suster di kantor atau ruangan administrasi suster di ICU.


“Bapak dan Ibu dipanggil dokter ke ruangan dokter,” kata suster yang ditanya Ajat.


“Baik,” jawab Ajat. Dia membimbing Santi ke ruangan dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Farouq saat ini. Mereka bersiap mendapat info terburuk sekali pun.


“Bapak, Ibu saya ingin melaporkan kondisi putra Anda. Saya tidak menambahkan mau pun mengurangi. Ini yang kita lihat dari hasil rekam medik.”


“Ini kondisi lambungnya ya Ibu, Bapak. Iritasi zat pembersih itu sangat keras mungkin. Bapak dan Ibu pernah dengar atau bisa Googling bagaimana larutan itu membersihkan kerak di dinding atau di lantai kamar mandi. Kerak seperti itu saja bisa bersih. Bapak dan Ibu bisa bagaimana dia di lambung kita?” Kata dokter sambil memperlihatkan hasil lab dalam plastik transparant.


“Lambung putra Anda tidak bisa menerima semua itu dan ini sangat tipis. Sebentar lagi juga lambungnya bisa pecah. Di beberapa bagian ususnya itu sudah mulai bocor. Mungkin yang membuat kemarin kotorannya berbusa dan bau seperti laporan yang saya terima dari polisi.”


“Dan ini paru-paru putra Anda. Pas dibenamkan banyak cairan yang masuk ke saluran pernafasan. Jadi paru-parunya juga sangat rusak. Kita bayangkan kalau dia bertahan dengan kondisi hancur paru-parunya dan hancur lambungnya, tentu itu akan menyiksa dia sepanjang hidup. Dan saya yakin juga tidak akan bertahan lebih dari satu tahun dengan kondisi seperti. Itu malah akan membuat dia tersiksa sepanjang hidup.”


“Saat ini mungkin dia tidak bertahan. Saya nggak yakin dia bisa lebih dari hari ini. Karena itu saya berikan kesempatan pada keluarga untuk membimbingnya atau mengucapkan bahwa kalian mencintai dia dan memberikan dia afirmasi. Saya nggak yakin dia bisa bertahan dengan kondisi seperti sekarang.” dokter menarik napas.


“Saya minta Ibu dan Bapak merelakan dia, daripada dia tersiksa seperti saat ini. Dia rasanya ingin berangkat tapi masih ada yang mengganjal di hatinya. Saya mohon Ibu kuat karena saya tahu Ibu sedang hamil. Kasihan kondisi janin bila Ibu hanya mementingkan kakaknya. Bukan saya tidak bilang dia tidak penting. Bukan! Mohon ditelaah kalimat saya. Tapi kalau kita tahan dia pun, kasihan.”


Santi sudah tidak bisa menangis lagi, karena dia sudah tahu waktu Farouq mengatakan dia sayang dirinya. Walau bagaimana pun Santi juga sudah bilang : kalau kamu mau berangkat, berangkatlah. Tapi tetap saja sebagai ibu dia tidak bisa melepaskan seperti itu saja. Bisa mengucapkan di mulut tapi tidak di hatinya dan itu yang harus dia ubah. Dia harus ikhlaskan juga di hatinya, agar Farouq bisa berangkat dengan tenang.


“Baik Dokter, saya akan berupaya mengikhlaskan dalam hati. Tadi memang saya sudah ucapkan saya rela dia berangkat. Tapi itu tidak dalam hati saya,” kata Santi saar. Ajat melihat istrinya sudah bisa menata hatinya.


“Ya Ibu,  begitu saja dari saya. Saya persilakan Ibu dan keluarga untuk mengantarkan dia.”


“Mami langsung ke tempat adik, Papi ambil kakak saja. Kita bertiga saja yang dampingin bersama kakak yang lainnya nggak usah,” ucap Santi begitu mereka di luar ruang dokter.


“Nenek sama kakek? Enin sama aki nggak usah?” tanya Ajat. Dia tak mau disalahi oleh Santi bila salah tangkap.


“Nggak usah, cukup kita berempat sama adik. Yang lainnya nggak usah,” jelas Santi. Dia ingin hanya mereka saja yang ada dekat Farouq di saat terakhir anak itu.


“Oke. Tapi Mami nggak boleh pingsan lagi. Mami harus kuat jangan sampai Papi keluar ruangan maminya pingsan,” ucap Ajat. Dia ragu meninggalkan Santi seorang diri, tapi dia harus memanggil Mischa sesuai keinginan Santi.


“Insya Allah, Mami kuat. Mami siap lahir batin,” kata Santi. Dia berupaya tidak meneteskan air mata lagi. Dia berjanji dia akan kuat demi janin yang dikandungnya juga demi Farouq karena dia tak mau Farouq terluka bila dia belum ikhlas lahir batin.