
“Kami sudah mau pulang kamu seriusan nggak datang?” kali ini Dinda yang menghubungi Sondang.
“Maaf Ibu, saya sedang di rumah sakit,” jawab Sondang jujur.
“Siapa yang sakit? Kenapa kamu nggak bilang. Kalau bilang kan tadi kita langsung atur jadwal menengok,” kata Dinda pura-pura tak tahu.
“Jangan Ibu. Tidak usah. Tidak usah bikin jadwal. Bukan saya atau anak-anak kok yang sakit,” tolak Sondang cepat.
“Kalau bukan kamu dan anak-anak lalu siapa?” tanya Dinda.
“Pak Gultom Bu,” jawab Sondang.
“Lho, kamu tuh bagaimana sih, nggak bilang sama kita,” tegur Dinda,
“Dia kan sudah bukan karyawan Ibu dan dia bukan suami saya sehingga nggak ada sangkut pautnya saya menceritakan semua itu pada Ibu,” jawab Sondang serba salah.
“Di rumah sakit mana? Biar saya sama pak Adit ke sana sekarang juga. Saya nggak akan cerita kepada yang lainnya sebelum kita bicara,” kata Dinda. Dia mengedipkan matanya pada Santi, Wika dan Puspa yang ada di depannya. Ajeng sedang mengurus Baim jadi tak ada di ruangan itu.
Dinda bilang tak usah dibawakan berkat dengan nasi, dia minta lauknya saja yang dibawakan pulang dan Dinda juga sudah bercerita pada semua bahwa dia akan menjalankan misi mengetahui persoalan Sondang jadi dia minta doanya supaya dia bisa mengatasi kesulitan Sondang saat ini.
Adit hanya geleng-geleng kepala melihat bagaimana Dinda bisa mengayomi semua pegawainya dengan berperilaku sebagai kakak atau ibu asuh. Dinda selalu seperti itu pada semua orang padahal dia anak tunggal sama seperti Adit yang sama-sama anak tunggal. Sebenarnya mereka punya saudara banyak tapi meninggal. Kalau Adit malah sama sekali tak pernah kenal dengan saudara-saudaranya kalau Dinda masih sempat karena adik-adiknya meninggal ketika sudah TK.
Dinda tidak membawakan buah untuk pasien karena saat ini kondisinya Gultom belum sadar dia membawakan makanan untuk yang jaga juga suplemen vitamin untuk Sondang dan inang itu yang lebih mereka butuhkan.
Dinda banyak membelikan Sondang su5u beruang. Semua yang dia bawa memang untuk stamina penjaga orang sakit.
Juga su5u kemasan cair yang bisa langsung minum tak perlu seduh air panas lagi. Bahkan biasanya yang menunggu lebih senang su5u kemasan cair yang dingin. Dinda membeli satu kotak su5u botol kemasan cair yang siap minum rasa coklat.
“Wah maaf Bu. Jadi merepotkan Ibu jadi harus ke sini,” ucap Sondang ketika Adinda datang.
“Tak ada yang merepotkan dan tak ada keharusan! Kita itu hidup saling tolong-menolong. Kita tidak ada yang bisa mengubur diri kita sendiri. Jadi selama kita bisa menolong orang tolonglah. Karena suatu saat mereka kita butuhkan untuk menolong diri kita,” kata Dinda bijak.
“Inang. Inang nggak boleh telat makan, apalagi telat tidur. Saya tahu kondisi di sini tidak nyaman buat inang menunggu. Tapi inang maunya kan tunggu jadi inang harus minum suplemen yang saya bawakan agar inang selalu sehat,” kata Dinda menyerahkan banyak suplemen kesehatan untuk inang.
“Terima kasih Bu,” kata inang dengan air mata berurai. Dia tak percaya Gultom rela membuang permata seperti ini. karena gara-gara Gultom berperilaku buruk pada Sondang akhirnya dia ke paksa keluar dari pekerjaannya. Sebab kalau tidak keluar dia mau makan dari mana? Tak mungkin dia minta pada Sondang sedang mereka sudah bercerai.
Gultom memang ke paksa keluar demi kelangsungan hidupnya bukan demi memberi nafkah dua istri yang lainnya yang langsung dia cerai juga.
“Ibu saya pamit mau bicara dengan Sondang dulu ya. terkait masalah dia dan pekerjaan juga,” pamit Dinda pada inang.
“Baik Bu silakan,” jawab inang. Dia mengerti pasti banyak yang harus dibicarakan karena Sondang sering pamit setengah hari. Inang berharap Sondang tidak di PHK karena tentu nanti akan berakibat buruk pada anak-anak. Inang yakin Dinda tak akan mungkin mem PHK Sondang karena kasus ini, tapi pasti akan memberi teguran karena Sondang sering hadir setengah hari di kantor seperti sekarang.