
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Pa, ini makan siang dari Dinda,” kata Adit pada Eddy begitu dia tiba di kantor.
“Oh iya. Tadi Papa tanya sama Bu Siti, ternyata semalam Dinda berpesan pagi ini Papa enggak usah dibawain makanan dari rumah, ternyata dia yang bikinin,” Eddy tentu bahagia mendapat kiriman dar menantunya.
“Iya Pa, Dinda juga bilang jangan sampai enggak di maem,” jelas Adit.
“Ya, enggak bakal lah. Makanan yang dia masak kok enggak Papa makan. Tak mungkin terjadi,” jawab Eddy.
Saat itu telepon Adit berdering panggilan dari Bagas.
“Kenapa Gas?” tanya Adit.
“Ini Ibu Meliana maunya bicara dengan pak Adit,” jawab Bagas.
“Oke, besok saya akan ke yayasan,” jawab Adit dengan yakin.
Malam ini Adit dan Dinda lapor pada lingkungan bahwa mereka adalah suami istri yang sah. Dan Adit akan tinggal bersama anak-anak. Mereka bilang kemarin Adit memang jarang pulang, karena Adit ada di luar negeri menyelesaikan suatu proyek. Dan Adit sebenarnya tinggal di Jakarta Selatan.
Hanya karena untuk membuka usaha aja Dinda ke Bekasi sendirian, tapi sehabis ini mereka akan kembali bersatu di rumah mereka di Jakarta Selatan begitu yang Adit katakan kepada RT.
Pak RT melihat data Adit dan memang benar yang tertera di situ sesuai dengan data yang dulu pernah disetor oleh Dinda. Terlebih kedua putranya tak mau di pangku Dinda maunya di pangku ayah.
‘Jelas itu memang ayah mereka.’ pikir Pak RT.
“Uyang,” rengek Ghibran.
“Iya sayank sebentar,” jawab Adit.
“Yang,” sahut Ghifari.
“Maaf Pak, rupanya mereka sudah minta pulang. Saya pamit dulu,” Adit memohon diri pada pak RT.
“Wah jagoannya Ayah minta pulang ya. Teh nya belum keluar lho,” kata Pak RT.
“Mereka mungkin tidak betah kalau suruh duduk bertamu. Maaf Pak kami langsung pulang,” kata Dinda menimpali percakapan itu.
“Oh iya Bu Dinda,” jawab Pak RT.
“Selesai sudah satu masalah,” kata Adit sambil mereka berjalan pulang. Keduanya Alkav muda digendong oleh Adit. Tak ada yang mau digandeng oleh Dinda. Padahal biasanya mereka selalu digandeng kanan kiri bila sedang jalan-jalan sore dilingkungan.
Esoknya Adit dan Dinda ke yayasan bersama tidak membawa si kembar karena ini urusan pekerjaan. Dinda memakai pakaian kerja seperti biasa, bukan pakaian santai seperti saat dia mengantar si kembar sekolah.
Bagas sudah menunggu di yayasan mereka masuk bertiga ke kantor Meliana.
“Ada apa sih koq harus pak Adit menghadap dia?” tanya Dinda. Sejak semalam saat Adit minta dia meng-handle masalah ini dia sudah malas. Tapi Adit memaksanya karena merasa ada yang enggak benar dengan permintaan Meliana yang ingin bertemu hanya berdua. Adit tak ingin masuk pukat harimau.
“Saya enggak mengerti Bu. Kemarin saya juga tanya, pak Adit harus bersiap apa untuk pertemuan kali ini dan mengapa harus pak Adit sendiri tanpa saya. Tapi bu Meliana ngotot pak Adit ditunggu di ruang kerjanya sendirian pagi ini,” jawab Bagas.
“Baik. Mas daftar ke resepsionis dan masuk dulu sendirian. Aku dan Bagas langsung menyusul dua menit kemudian. Enggak akan kasih jeda waktu lama koq,” Dinda mengatur strategi dengan Adit dan Bagas.
“Selamat pagi, Assalamualaikum Bu Meliana,” kata Adit yang masuk sendirian. Meliana tersenyum bahagia melihat calon suami idamannya masuk sendirian.
“Eh Dit, pagi banget. Ini aku sudah siapin kopi buatmu,” Meliana langsung menyodorkan kopi pada Adit. Adit langsung menerima cangkir kopi yang mengeluarkan harum sangat menggoda.
“Loh kok bertiga?” tanya Meliana kaget melihat Bagas dan Dinda sudah ada dalam ruangan nya juga.
“Jadi kemarin saya lapor Pak Adit bahwa Ibu hanya ingin bertemu dengan Pak Adit,” jawab Bagas dengan tegas di depan Dinda seperti yang tadi malam memang Dinda dengar dari Adit.
“Kalau untuk kontrak ini memang sebagai marketing Pak Adit yang mendapatkannya, dan saya sebagai arsitek adalah bagian pengerjaan nya. Tapi untuk tanggung jawab ada di tangan pemilik perusahaan yaitu ibu Adinda Suryani.”
“Sekarang Ibu mau bicara kepada siapa? Biar jelas agar tidak simpang siur dan pulang pergi karena kebetulan Bu Dinda ini agak sulit ditemui kecuali dia meluangkan waktu buat anak-anak. Kalau untuk ke kantor dan urusan kantor Bu Dinda hanya meng-handle dari jarak jauh dan perusahaan ini bukan hanya satu-satunya perusahaan Bu Dinda karena dia juga punya usaha lain di luar perusahaan,” kata Bagas.
Bagas memang tahu sekarang Dinda adalah pemilik distributor pakaian dan perlengkapan anak-anak dan Velove istrinya sudah akan menjadi agend dari Dinda sehingga Bagas tahu usaha yang dimiliki Dinda.
Tentu saja Meliana kaget mendapat pernyataan Bagas seperti itu.
“Saya mau bicara dengan marketing,” jelas Meliana terbata.
“Oke silakan Bu,” kata Adit.
“Silakan Ibu jelaskan apa yang ingin anda bicarakan agar atasan saya mendengarkan saya tidak mau atasan saya salah tangkap dengan apa yang saya ungkap. Juga agar arsitek mendengar sehingga saya tidak salah menyampaikan pesan dan keinginan Ibu pada pak Bagas.”
“Saya awal ketemu dengan Anda, kenapa harus bertemu dengan atasan Anda?” kata Meliana dengan tak suka.
“Bu proyek ini bukan proyek pertama kami ini sudah entah ke berapa ratus dan dari proyek saya saja semua proyek besar yang bernilai triliun itu selalu di handle oleh Bu Dinda. Bagaimana proyek kecil ini Bu Dinda juga tidak tahu?” Adit menjelaskan pada Meliana semua proyek tak ada yang lepas dari pengawasan Dinda.
“Memang semua proyek baik proyek yang saya miliki pribadi atau proyek anak buah saya karena kebetulan saya adalah manajer marketing itu selalu di follow up oleh Bu Dinda sebagai atasan saya.”
“Di rumah dia boleh sebagai istri saya, tapi di kantor dia atasan saya. Jadi semua persoalan harus diketahui Bu Dinda. Itu mengapa saya libatkan beliau di proyek ini. Kebetulan Beliau juga ada di sini karena anak-anak kami, kami titipkan belajar di sini,” rinci Adit.
Meliana kalah telak, dia tidak bisa lagi mendekati Adit secara personal.
“Kalau Ibu tidak berkenan dengan kehadiran saya, saya rasa proyek ini bisa kita batalkan aja Bu biar Ibu plong. Karena buat kami semua transaksi harus berdasar suka sama suka. Tidak bisa kita bertepuk dengan hanya sebelah tangan, kalau menepuk air akan kena wajah sendiri Bu,” kata Dinda.
“Jadi kalau bertepuk ya harus dua tangan silakan Ibu putuskan mau diteruskan atau tidak proyek ini. Saya akan kembalikan dua kali lipat uang yang anda telah bayarkan dan semua bahan yang telah ada di yayasan ini tidak akan kami bawa pulang,” kata Dinda dengan tegas. Dinda tak mau Adit terus ditekan oleh Meliana untuk menemuinya.
Adit dan Bagas tak percaya Dinda membuat keputusan yang berani dengan mengembalikan uang masuk dua kali lipat dan material yang sudah dibelanjakan akan dia tinggal.
Meliana bingung karena dia sebenarnya hanya ingin berbicara dengan Adit seorang.
“Pak Adit, Saya dan Pak Bagas keluar sebentar supaya kalian berdua bisa bicara, mungkin ada hal pribadi yang ingin Bu Meliana ungkap bukan persoalan kantor dan saya rasa sebagai atasan saya membolehkan anda bicara berdua,” kata Dinda bersiap berdiri.
“Maaf saya tidak pernah ingin bicara hal pribadi di luar pekerjaan. Jadi saya menolak kalau saya harus bicara tentang personal dengan Bu Meliana,” jawab Adit pada Dinda dengan tegas.
Meliana kagum pada kebesaran hati Dinda, dia sadar bahwa dia tidak ada apa-apanya di balik kebesaran Dinda.
Akhirnya Meliana pun memutuskan untuk segera mengatakan bahwa proyek akan diteruskan dan setuju bahwa Adit tidak akan ikut dalam pembicaraan selanjutnya karena akan dibahas hanya dengan Bagas atau Bagas yang di bantu oleh Adinda tanpa Adit sama sekali.
“Mas, tuang kopinya kesini,” perintah Dinda sebelum pulang dengan menyorongkan gelas kecil bertutup dari tasnya.
Meliana langsung pucat dan segera dia dorong gelas kopi yang tadi dia siapkan untuk Adit.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok