GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PAMIT



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Kami pamit ya,” kata Dinda pada semua pegawai di toko grosir miliknya.



“Ingat kalian itu selalu ada di mata saya, jangan berbuat curang! Kalian tahu saya paling tidak bisa dicurangi. Begitu kalian curang bukan hanya kalian yang akan terpuruk, tapi semua keluarga kalian,” kata Dinda sebelum meninggalkan toko yang selama ini dia tempati.



“Kamu kalau mau curang, coba tanya sama semua pegawai saya di perusahaan. Siapa yang curang maka keluarganya saya hancurkan!”  kata Dinda selanjutnya.



“Kamu juga tahu kan kasus yayasan? Seperti itu yang saya hancurkan. Bukan hanya Bu Meliana yang hancur tapi yayasannya hancur, keluarganya juga hancur, itu yang saya contohkan.”



“Ingat sekali lagi, saya tidak pernah pandang bulu pada siapa pun. Sekali kalian mencubit saya, saya akan menempeleng kalian supaya tidak bisa bangun lagi,” jelas Dinda dengan tegas.



Semua karyawan tahu apa yang diucapkan Dinda adalah kebenaran semata. Tak pernah Dinda bicara yang tidak dia lakukan.



“Mas beli sate padang ya,” pinta Dinda sebelum masuk ke perumahannya.



“Boleh,” Adit menjawab singkat sambil mengarahkan mobilnya kearah ruko yang jual sate Padang.



“Ingat yang satu porsi jangan pedas Mas, buat papa,” pesan Dinda sebelum Adit turun.



‘*Kamu itu memang sangat memperhatikan papa. Aku dan papa sangat beruntung punya kamu dalam hidup kami*,’ Adit hanya membatin. Dia benar-benar bersyukur memiliki Dinda dalam hidupnya.



“Ya,” jawab Adit sambil turun dari mobil.



Dinda memperhatikan sekitar lokasi dari dalam mobil. Saat itu tak sengaja dia melihat Lilis sedang berada tak jauh dari ruko penjual sate padang. Tapi mungkin Lilis tidak melihat Adit. Lilis bersama seorang laki-laki sedang bicara serius entah apa yang mereka bicarakan.



“Ada apa ya Tante Lilis kok makan di dekat rumah papa? Ini kan jauh banget dari rumah tante Lilis,” kata Dinda pelan.



“Aku harus waspada. Kalau dia sudah dekat-dekat dengan radius rumah Papa pasti ada sesuatu yang ingin dia lakukan,” gumam Dinda.




Tadi pagi Dinda dapat kabar bahwa Yayasan sudah resmi ditutup oleh Meliana. Dinda dapat info itu dari para orang tua yang masih bertahan di Yayasan.



Untuk para orang tua itu, uang sisa pelajaran yang masih ada setengah tahun dikembalikan penuh oleh Meliana. Bagi orang tua siswa yang sudah keluar lebih dahulu tentu tidak dikembalikan. Tapi memang para orang tua siswa yang telah keluar tak ada yang butuh uang dari Yayasan tersebut, karena mayoritas siswa di Yayasan tersebut adalah orang kaya semua. Mereka tak butuh pengembalian uang yang sudah pernah mereka setor ke yayasan.



Dinda juga tahu semua karyawan yang di PHK atau diberhentikan diberi pesangon oleh Yayasan tapi karyawan yang sudah mengundurkan diri satu minggu atau dua minggu lalu tentu tidak diberi pesangon karena mereka mengundurkan diri dengan sukarela.



“Alhamdulillah.” kata Dinda begitu dia memasuki halaman rumah Eddy.



“Ingat Mas, cuci tangan dulu sebelum masuk rumah. Begitu masuk rumah pasti mereka langsung lari memelukmu,” kata Dinda memberitahu Adit agar langsung cuci tangan.



“Oh iya lupa, aku belum terbiasa,” jawab Adit. Dia langsung cuci tangan begitu turun dari mobil.



Benar saja, begitu Adit turun dari mobil, langsung disambut teriakan dua jagoannya.



“Ayah,” kata Iban dan Fari.



“Wah anak ayah sudah cakep-cakep, baru bangun tidur ya?” Adit bahagia mendapat sambutan kedua putranya. Dia berikan dulu belanjaan yang tadi mereka beli pada Dinda sebelum mengangkat kedua anaknya.



“Lihat kan kalau sudah ada Ayah, Bunda sudah enggak ada harganya di mata kalian,” goda Dinda pada kedua putranya.



Dinda pun menciumi kedua pipi putranya, tapi tak sengaja hidungnya bersentuhan dengan hidung Adit. Dinda jadi serba salah.



“Eh maaf Mas, enggak sengaja,” kata Adinda lirih.



“Sengaja juga enggak apa apa kok, Aku malah senang,” goda Adot santai. Dinda hanya diam saja.



Mereka berempat pun masuk, Edidy sangat senang melihat keempatnya masuk beriringan seperti itu. Memperlihatkan keutuhan sebuah keluarga kecil yang harmonis.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok