GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK PEDULI



“Mama kenapa pulang cepat Ma?” tanya Icha ketika Sondang tiba di rumah lebih cepat tiba di rumah hari ini.


“Mama mau ambil persiapan baju gantinya Opung,” jawab Sondang sambil mengunci pintu otomatis mobil dari luar.


“Ada apa dengan Opung? Kenapa disiapkan baju ganti?” tanya Icha.


“Opung jaga papamu di rumah sakit. Papamu sedang dirawat di sana,” jawab Sondang.


“Oh,” hanya itu kata yang keluar dari bibir gadis kecilnya. Sondang merasa putrinya sama sekali tak ingin tahu soal mantan suaminya tersebut ini. Hal itu tentu mengusik batin Sondang, karena biar bagaimanapun tak boleh anak berlaku seperti itu terhadap orang tuanya. Dia tidak mengajarkan hal itu.


“Apa kamu mau menengok papamu? Kamu dan kakak boleh ikut dengan Mama sore ini,” Sondang menawarkan putrinya.


“Tidak Ma, aku banyak PR,” jawab Icha pendek.


Sondang meminta bibi menyiapkan beberapa bahan yang sudah ditulis seperti gelas, botol minum, pisau buah, beberapa selai kesukaan Opung, susu sachetnya Opung serta tissue basah dan tissue kering. Karena biasa Sondang beli tissue dalam jumlah banyak sehingga tinggal ambil, tidak perlu beli lagi. Nanti tinggal beli roti tawar kecil dan roti isi serta beberapa snack saja.


“Siapkan sandal jepit Opung, handuk mandi yang bersih juga pakaian dalam Opung ya,” pinta Sondang.


“Lalu tiga pasang baju Opung,” kata Sondang lagi kepada bibi. Dia ingin mandi dan berganti pakaian tentunya. Tak enak menggunakan baju kerja formal seperti ini.


“Ibu, 5usu Opung tinggal 4 sachet Bu. Kan memang harusnya Ibu besok jadwal belanja mingguan,” kata bibi saat Sondang selesai mandi.


“Ya nanti saya belikan sekalian beli rotinya, ada lagi yang kurang?” tanya Sondang lagi.


“Sepertinya tidak Bu. Semua sudah ready,” jawab bibi.


“Oh iya, bawakan juga makan malam buat hari ini. Dua porsi buat saya dan Opung. Saya menemani dia sampai agak malam. Nanti anak-anak siapin saja makan malam sendiri tanpa saya dan Opung,” ujar Sondang.


“Baik Bu, akan saya siapkan,” bibi langsung menyiapkan bekal untuk makan malam Opung dan Sondang di rumah sakit nanti.


‘Anak-anak ini memang sudah sangat terluka, sampai bertanya pun tak mau,’ batin Sondang.


“Opung, ini semua perlengkapan Opung buat jaga di sini. Opung jangan lemah. Ini tadi aku belikan suplemen vitamin biar Opung nggak drop. Ini susunya Opung dan semua keperluannya,” kata Sondang.


“Sekarang kita makan malam dulu yuk,” mereka harus makan malam sebelum nanti tambah lelah karena makan siang tadi Sondang tak tahu apakah mertuanya makan benar.


“Aku bawakan roti tawar sama roti isi. Makan roti isinya dulu ya Opung. Hanya dua sih satu isi keju dan satu yang isi daging kesukaan Opung.”


“Aku juga banyak bawakan regal dan crackers buat Opung. Opung nggak boleh kelaparan agar tak sakit juga,” kata Sondang.


Opung trenyuh melihat bagaimana mantan menantunya itu selalu memperhatikan dirinya. Dia sendiri sebenarnya malu tetap hidup dengan Sondang, tapi dia sudah tak punya kerabat lagi. Di Jawa sini ada kerabat, tapi tentu tak mau menampung perempuan tua seperti dirinya. Lebih baik dia mengabdi untuk cucu-cucunya saja.


‘Kalau bukan Sondang, mungkin aku sudah ditendang walau aku mengurus anak-anaknya. Karena dia sudah sakit hati terhadap anakku. Tapi ini dia masih berbakti untukku. Benar-benar perempuan yang baik. Sayang Ucok tak peduli dengan kebaikan dan keluhuran budi Sondang,’ batin opung.


“Sudah Opung nggak usah urus urusan lain. Ayo kita makan saja,” ajak Sondang sambil membuka bekal makan malam.


“Bagaimana perkembangan dia tadi?” kata Sondang saat mereka sedang makan.


“Sejak Opung datang, belum ada perkembangan lanjutan. Tadi sore perawat mengukur tensi dan denyut nadinya lagi. Itu saja,” jawang inang Gultom.


“Jadi kita belum tahu apa latar belakang dia bunuh diri?” tanya Sondang karena Gultom belum sadar.


“Mungkin karena dia habis bertengkar dengan Tarida!”


“Apaaaa?” pekik Sondang.