
Makan siang masih olahan para simbok karena memang dibawa dari rumah hanya mereka makannya di tenda, jadi suasananya lebih enak dan tadi Dinda sudah mengambil 2 pelepah daun pisang. Daun pisang langsung di lap dengan lap bersih dan di gelar di tengah tenda.
“Biyya sini temani Bunda, kita atur makan siang kita di tenda ini,” ajak Dinda pada putrinya.
“Kita pakai daun ya, nggak pakai piring.”
“Bagaimana makan dengan daun?” tanya Biyya.
“Ini kamu cetak nasinya di mangkok kecil tekan kencang ya. Jadi nanti bisa terbentuk bulatan-bulatan kecil,” Dinda memberikan mangkok super kecil untuk Biyya mencetak nasi.
“Nah seperti itu, bagus,” kata Dinda memuji hasil karya putrinya. Eddy memvideokan momment itu. Para anak lelaki sedang mengatur ranting untuk api unggun malam nanti.
Dua pelepah daun pisang diletakkan agak berjauhan agar nanti yang duduk tidak saling senggol karena kalau sudah diatur nasi dan lauknya daun susah dipindah.
“Seharusnya tadi daunnya di alas triplek dulu sehingga kalau mau dipindah gampang,” kata Dinda menyadari kesalahannya.
“Bunda kenapa ngomongnya baru sekarang?” Biyya memberi komentar.
“Kan tadi Bunda nggak berpikir untuk mindahin ini,” jawab Dinda.
Akhirnya prasmanan ala daun pisang pun siap untuk makan siang mereka. Semua termasuk para mbok dan sopir tak ada perbedaan duduk di tenda makan.
Adit dan keluarga kebetulan duduk mengelilingi satu pelepah daun pisang, semua bisa makan bersama dan nasinya sengaja dicetak kecil-kecil sesuai dengan ukuran anak-anak kalau kurang bisa ambil lagi tidak dicampur agar tidak acak aduk dan terlihat jorok.
Dan dua orang sopir serta tiga mbok makan di pelepah daun yang lain.
Tentu saja semua masuk ke dokumentasinya Adit, semua dibikin video dan dibikin foto.
Video dan foto kegiatan sejak datang ke villa hingga makan siang Dinda posting di media sosial miliknya. Seperti biasa Dinda menandai akun Adit sang suami. Tentu saja postingan itu mendapat banyak komentar termasuk dari anak buahnya. Baik di kantor maupun di bisnis baju. Juga teman-temannya Adit di SMA.
Mereka kagum atas pemikiran Adit dan Dinda yang mencari liburan yang sangat menarik dan membuat semua anggota keluarga makin erat tetapi tidak terlalu mahal karena tidak perlu jauh ke luar negeri yang penting adalah kedekatan antar anggota keluarga.
“Bu Dinda usul dong, family gathering cabang saya besok dibikin camping seperti itu aja keren untuk anggota keluarga,” komen Santi.
“Yang anaknya balita tidur di kamar, kan kita nyewanya villa yang banyak kamar tapi halamannya luas buat bikin tenda seperti yang Bu Dinda adakan sekarang,” kata Ajeng.
“Iya aku juga mau cabang aku bikin family gathering seperti itu,” kata Fahrul.
“Wow keren,” kata Puspa.
“Colek pak suami ah. @ilham, Kapan ya kita ikutan bikin camping kayak gitu?” Puspa menandai nama Ilham.
“@Shindu, Pak suami aku juga diam aja nih. Padahal dia harusnya punya ide loh,” kata Ajeng.
“Koq enggak ada yang nge tag aku ya?” kata Bagas sambil nyolek nama Velove.
“Eh kenapa pada ribut di lapak aku?” balas Dinda.
Memang itulah mereka, sering heboh di dunia maya.
“Ibu serius saya mau bikin yang seperti itu di family gathering cabang saya 2 bulan lagi,” kata Santi,
“Siap, oke,” kata Dinda.
“Kan yang bikin orang cabang, orang pusat mah cuma ikut doang,” jawab Adit. Adit dan Dinda bisa pegang HP karena saat ini jadwal tidur siang anak-anak. Kalau anak-anak tak tidur, mana pernah Dinda pegang ponsel.
“Pak Adit kan membawahi semua cabang, jadi pak Adit harus ikut di kepanitian kegiatan,” jawab Santi.
“Kalau dalam kerjaan saya ikut jadi orang pusat aja, kalau soal duit baru saya ikut dalam hal orang cabang,” balas Adit.
“Anakku yang besar udah bisa ikut camping,” kata Santi.
“Tapi kayaknya Farouq si bungsu juga bisa kok. itu buktinya Gathbiyya, Ghazanfar, Ghaylan pada bisa camping. Farouq kan lebih tua dari mereka,” tulis Santi, dia pun membahas kedua anaknya.
Ajat melihat kegiatan istrinya di media sosial. Dia tak menyangka kedua anaknya yang hanya anak sambungnya Santi selalu dikedepankan oleh Santi di media sosial dengan rasa bangga. Santi tak pernah malu bahwa mereka itu bukan anak kandungnya. Ajat makin terpukul melihat bagaimana tulusnya Santi pada kedua anak yang sudah dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.