GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
INGIN MENANGIS DALAM PELUKAN ANAK-ANAK



Anak-anak sudah bersiap tidur saat Adit tiba di rumah. Dia dan Eddy belum makan malam. Tadi Eddy diajak makan malam dulu tak mau. Takut Adit terlambat menemani anak-anak tidur.


“Mbok siapin makan malam buat papa dulu saja. Saya urusin anak-anak,” kata Adit begitu masuk rumah ada mbok Parmi di sana.


“Baik,” jawab mbok Parmi. Dia mengerti Adit akan makan sesudah anak-anak tidur.


Adit segera membersihkan diri lalu mulai memasuki kamar anak-anaknya satu persatu. Dia harus menyapa mereka, mendengarkan mereka bercerita dan memberi apresiasi bila diperlukan. Juga selalu memberi nasehat.


“Maaf ya Ayah telat pulang. Tadi ada masalah di kantor!” itu yang Adit katakan saat tiba di kamar semua anak. Mereka semua mengerti lalu mereka bercerita apa yang tadi mereka lakukan.


Adit dan Dinda sama-sama anak tunggal. Mereka sangat mencintai anaknya. Tak ada terpikirkan untuk menyakiti. Jangankan anak kandung, anak orang lain saja mereka sayangi. Seperti mereka menyayangi Farouq atau Hanum dan Sekar anaknya Puspa yang sama sekali tak ada pertalian darah. Jadi Adit masih speechless mengenai kelakuan Wiwik dan adiknya yang menyakiti anak kandung dan keponakan kandung sendiri. Benar-benar itu yang membuat Adit tak mengerti.


Dia kecup kening anaknya satu persatu, bahkan dia peluk. Dia tidak ingin anak-anaknya kaget, kalau tidak tentu dia ingin menangis dalam pelukan anak-anaknya.


Dinda juga sedang berkeliling ke anaknya yang lain mereka memang berkeliling sendiri sehingga nanti semua anak mendapat giliran dari kedua orang tuan mereka.


“Bagaimana tadi hasilnya Yah?” tanya Dinda ketika mereka telah selesai menunaikan tugas menemani anak-anak berangkat tidur dan sekarang Dinda menemani Adit makan malam yang terlambat.


“Aku nggak bisa bicara Bun. Aku sampai nggak bisa ngomong di depan Ajat. Untung ada papa, sehingga papa yang over handle. Papa yang bicara sama keluarga Santi dan keluarga Ajat karena saat itu ada kedua orang tua mereka.” sahut Adit. Sebenarnya dia malas makan mengingat kejadian pengakuan pembantunya Wiwik tadi. Tapi dia menghormati istrinya yang menemani bahkan meladeni dia makan malam sendirian.


Sejak awal Dinda sudah menangis ketika mengetahui Farouq dibenamkan di air sabun dan bay-clin oleh pamannya dengan alasan agar anak itu segar.


Dinda juga tambah sedih pendengar bagaimana Farouq malah dimaki-maki Wiwik ketika buang kotoran berbusa.


Dan tambah menangis ketika mendengar pembantu tersebut dengan telatennya menyuapi air gula untuk membuat Farouq bertahan. Tanpa bantuan pembantu itu pasti Farouq sudah tumbang lebih awal. Biar bagaimana pun air gula itu membuat Farouq bisa bertahan lebih lama dari pada apabila tidak diberi air gula.


“Perempuan ini tidak bisa dipenjarakan Yah. Perempuan ini malah harusnya kita bela,” kata Dinda setelah selesai melihat video itu.


“Santi juga berpikiran sama. Dia akan mengangkat perempuan tersebut untuk bekerja di rumahnya saja, daripada ketakutan seperti itu. Semoga saja perempuan itu mau.”


“Kenapa hanya karena nama yang sama, dia marah dan juga kenapa dia membalas kekalahannya terhadap Santi? Wajar kalau Ajat tidak mencintainya. Orang perempuan berkelakuan barbar seperti ini. Bagaimana mungkin Ajat mencintainya? Ajat menikahi hanya karena kehamilan Farouq. Saat itu Ajat melakukan making love dengan perempuan tersebut hanya sebagai pelampiasan nafsu dan kenakalan seorang laki-laki. Tak ada cinta. Bila dia menjebaknya dengan kehamilan, ya jangan salahkan Ajat kalau tak mau mencintai sama sekali.”


“Kalau dia waktu itu mencintai Ajat dengan benar tentu dia akan memelihara Mischa sehingga mungkin Ajat tersentuh dan kalau memang dia mencintai Ajat seharusnya dia tidak kabur dengan sahabatnya Ajat. Jadi sebenarnya mungkin itu alasan dia saja bahwa dia jungkir balik mencintai Ajat.”


“Atau mungkin memang dia mencintai Ajat tapi karena tidak mendapat balasan maka dia curhat ke sahabatnya Ajat dan akhirnya terjadi perselingkuhan itu.”