GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BAHAN BAKU PAS-PASAN



“Alhamdulillah hari ujian kalian sudah selesai kata Eddy kepada kedua cucunya


“Iya Kek, Alhamdulillah. Semua selesai,” kata Iban.


Fari dan Iban sangat bersyukur kakek, Ayah dan bundanya selalu mensupport mereka saat ujian.


“Apa targetmu selanjutnya?” kata Eddy.


“Aku ingin homeschooling aja,” kata Fari kalem.


“Kenapa?” tanya Adit.


“Maksud aku, aku ingin ambil pelajaran seperti homeschooling. Jadi aku ingin satu tahun selesai SMP. Tidak ingin sampai 2 tahun. Kalau aku ambil sekolah biasa tentu minimal aku harus tempuh dalam waktu 2 tahun,” kata Fari.


“Baiklah nanti Ayah urus kamu pakai sistem homeschooling tapi tentu tempatnya tetap di sekolah gitu maksud kamu?” Adit ingin kejelasan lebih dulu agar tak salah.


“Iya Yah, tempat tetap di sekolah karena biar aku tetap punya teman tetapi sistemnya yang aku mau sistem homeschooling,” kata Fari lagi.


Dinda tak mengerti mengapa anaknya punya ambisi sedemikian besar. Dia masih diam mengamati saja. Tak ingin mendebat apa pun yang anak-anak tentukan.


Sesuai kesepakataan dirinya dengan Adit, urusan sekolah anak-anak, yang urus adalah Adit. Maka Dinda hanya diam saja.


“Kalau kamu bagaimana Bang?” tanya Adit pada Iban.


“Abang nggak, Abang ikut yang sekolah biasa tapi tetap dengan akselerasi,” jawab Iban. Semua memang bebas memilih. Jadi bisa menentukan sendiri.


“Jadi cuma Mamas saja yang mau sistem seperti itu?” balas Adit. Sebenarnya ini ditujukan pada Iban.


“Sama aku,” kata Ghaidan, yang membuat semuanya kaget. Bagaimana mungkin anak yang sama sekali tak pernah terlihat punya ambisi tiba-tiba sekarang ingin seperti Fari?


“Baik, habis ini Ayah akan urus sesuai dengan keinginan kalian,” kata Adit setelah dia memandang istrinya dan melihat istrinya mengangguk pelan hampir tak terlihat. Artinya Dinda mengizinkannya.


Hari ini Adit sengaja mengunjungi yayasan tempat sekolah putra-putranya.


“Jadi untuk Ghaidan dan Fari seakan-akan numpang kelas saja ya Pak?”


“Tidak hanya numpang kelas sih sebenarnya Bu. Mereka butuh tutor lebih dari bimbingan di kelas akselerasi. Fari tidak mau berhenti seperti kelas normal dengan jam pelajaran pada umumnya, dia ingin ngebut. Katanya dia ingin SMP-nya itu hanya satu tahun. Jadi sangat dibutuhkan guru yang benar-benar bisa mengupas semua keingin tahuan Fari. Karena kalau hanya menyampaikan materi seperti biasa, banyak guru seperti itu. Bahkan mungkin satu dua bab pelajaran saya atau ibunya bisa. Cuma kalau untuk mengupas tuntas tentu kami tidak mampu. Kami ini bisa apa sih?” kata Adit merendah.


“Baik, kalau memang maunya seperti itu kami akan terima. Jadi Fari dan Ghaidan yang akan seperti itu?”


“Iya Fari dan Ghaidan, karena Iban tidak mau. Iban bilang dia mau sistem akselerasi konvensional seperti biasa aja. Bukan yang kejar kebut seperti Fari.


“Baik akan kami persiapkan materi dan guru-gurunya untuk semester depan Pak,” jawab kepala sekolah. Dia mengerti apa yang diinginkan oleh Adit.


Sekolah itu mengandalkan guru-guru yang sangat profesional. Tingkat pendidikan mereka pun sangat tinggi tinggi dan kemampuan mereka juga sangat bagus bahkan untuk mengajar tingkat SD saja guru mereka sudah harus lulusan S2 bukan lulusan S1 seperti di sekolah lainnya.


“Ayah masih enggak percaya, kalau punya anak seperti Fari dan Ghaidan. Yang bisa menentukan sendiri langkah mereka ke depan mau seperti apa.” bisik Adit memeluk erat istrinya yang berbaring di da4anya.


“Enggak percaya kenapa Yah?” Tanya Dinda.


“Kemampuan Ayah kan sangat minim. Koq punya anak super begitu,” jawab Adit jujur.


“Enggak aneh lah,” balas Dinda.


“Koq enggak aneh?”


“Tergantung pabriknya. Kalau pabriknya model Shalimah baru aneh. Bahan baku pas-pasan dari ayah masuk pabrik down grade, hasilnya barang afkir.”


“Ghaidan, Fari, Iban dan semua adiknya kan beda. Bahan baku pas-pasan dari Ayah, masuk pabrik super canggih, ya hasilnya produk super quality,” jelas Dinda sambil tersenyum menggoda Adit.


“Kalau begitu, bahan baku pas-pasan sekarang mau setor ke pabrik deh,” Adit pun langsung bersiap produksi.