
“Serius?” tanya Wiwikk atau Pratiwi Susanti, bundanya Farouq.
“Serius! Kita bertemu dulu. Soal keinginan kamu mengambil Farouq nanti di sana kita lihat apakah istri aku yang sekarang membolehkan hal itu,” balas Ajat.
“Kenapa nggak boleh? Itu kan anak aku,” kata Wiwik
“Ya makanya, kamu datang aja di tempat jam 18.30 karena waktu kita nggak banyak. Kalau kamu datang terlambat 10 menit dari jam yang ditentukan, kami langsung pulang,” kata Ajat, dia langsung menutup hubungan pembicaraan dengan Wiwik, yang dia minta datang lusa di rumah makan yang dia tunjuk.
“Aku nggak boleh ikut?” tanya Mischa. Saat pulang kantor tadi maminya bilang akan pergi ke acara yang sudah pernah Santi ceritakan sebelumnya.
Hari ini malam Sabtu, jadi seharusnya memang mereka tidak ke mana-mana. Santi sengaja mengambil malam Sabtu agar hari Sabtu dan Minggu waktu mereka tidak dipotong oleh kegiatan luar rumah. Mereka lebih suka dengan anak-anak.
“Mami sengaja atur pertemuannya hari ini loh, agar hari Sabtu dan Minggu waktu Mami full buat kalian,” kata Santi dengan bijaknya.
“Kalau mau, bisa aja kan Mami atur pertemuan besok. Tapi kan Mami jadi buang waktu, nggak jadi main sama kalian. Padahal besok kita mau bikin puding busa,” ucap Santi.
“Bikin puding buah mangga Mi, sekarang lagi musim buah mangga,” kata Farouq yang baru saja masuk kamar maminya.
“Ya bisa, besok kita bikin puding busa coklat sama puding buah mangga. Yang puding busa pakai fla, yang puding buah mangga nggak,” kata Santi. Dia setuju dengan usul anak-anak dan usulan anak-anak memang selalu dia pertimbangkan.
“Nanti sekalian Mami beli buah mangga banyak-banyak kalau ketemu di jalan. Kan di sepanjang jalan suka ada yang jual buah mangga kiloan dari mobil bukan penjual yang biasa dagang di toko buah,” kata Santi selanjutnya.
Mischa memandang maminya yang sedang bersiap. Dia ingat tiga hari lalu percakapan mereka berdua ketika Santi menemani dirinya sebelum tidur.
“Bundanya Farouq datang ke kantor papi, dia ingin ambil Farouq,” itu awal percakapan yang Mischa ingat.
“Kalau mama aku minta aku ke Mami. Mami juga akan kasih aku ke dia?” tanya Mischa lagi sebelum pertanyaan pertama Santi jawab.
“Mami nggak akan pernah kasihkan kalian ke siapa pun! Tapi kalau kalian mau ikut mama atau bunda kalian, Mami nggak bisa tolak. Karena itu keinginan kalian. Mami hanya mementingkan keinginan kalian saja. Bukan mementingkan keinginan Mami. Kalau keinginan Mami jelas, tak akan ada yang bisa mengambil kalian dari sisi Mami. Jadi semua itu ada di hati kalian. Kalau kalian nggak nyaman sama Mami, buat apa Mami bertahan?” kata Santi.
Kata-kata Santi itu membuat Mischa tahu bahwa kali ini pun tak mungkin Santi akan memberikan Farouq itu pada bundanya. Kali ini Santi hanya akan berperang mempertahankan apa yang dia miliki. Mungkin Farouq belum mengerti tentang hal itu. Tapi nanti akan Mischa bisikin sedikit-sedikit bahwa ibu mereka itu adalah Santi bukan yang lain
“Dek, ingat nggak pertama kali kamu kenal sama Mami?” tanya Mischa saat Santi dan Ajat sudah berangkat.
“Waktu dia datang ke sini kan? Sama Kakak. Waktu dia kasih aku permen coklat?” kata Farouq. Dia tentu ingat pertama kali memangdang wajah bidadari maminya.
“Iya, Kakak waktu itu lagi nangis di supermarket. Mami yang menolong Kakak,” kata Mischa.
“Kalau ada perempuan yang bilang dia ibu kamu, terus dia minta kamu tinggal sama dia. Kamu mau nggak Dek?” pancing Mischa.
“Ibu aku kan mami, dari dulu nggak ada yang jadi ibu aku kan? Yang ke sini cuma Enin sama mami aja. Enin juga jarang-jarang kan karena nggak tinggal di sini. Aku nggak mau ikut siapa pun kecuali mami,” tolak Farouq terhadap wacana Mischa tadi,
“Tapi kan yang mau ambil kamu ibu kamu. Kan mami sudah pernah kasih lihat foto ibu kita berdua waktu mami sama papi habis nikahan dulu? Kan mami bilang kita nggak boleh lupain mereka, karena kita lahir dari perut mereka,” balas Mischa lagi.
“Kita lahir dari perut mereka, tapi yang cintai kita kan mami,” kata Farouq.
“Aku nggak mau ikut siapa pun kecuali mami. Cuma mami yang sayang aku. Cuma mami yang ngertiin aku,” kata Farouq lagi.
Mischa tersenyum. Dia yakin tak akan pernah ada yang bisa mengambil Farouq dari sisi dirinya dan Santi karena dia juga sangat menyayangi adiknya itu.