GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
HONEYMOON LAGI



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Hari ini Dinda kembali memposting perjalanan bulan madu dirinya dan Adit di Singapura. Tak ada yang tahu tujuan Adit dan Dinda sebenarnya untuk bekerja yaitu untuk kulakan. Dalam postingannya Dinda hanya menyebutkan bahwa mereka shopping dan liburan berdua tanpa anak-anak.



“Lebih baik kita bayar biaya overweight aja Yank, daripada dikirim,” saran Adit kali ini.



“Nanti yang berikutnya kita pesan online baru mereka kirim ,” begitu kelanjutan saran Adit kali ini.



“Enggak repot?” tanya Dinda.



“Enggak lah, kan bukan kita yang angkat.”



“Ya sudah kalau Mas maunya gitu enggak apa-apa. Aku sih setuju aja. Jadi malah barang lebih cepat sampai.”



“Dan nanti aku langsung bisa unboxing di rumah dulu, baru aku kirim ke Bekasi.”



“Enggak usah kamu antar juga bisa kan kirim ke Bekasinya. Bisa nyuruh sopirg atau bisa juga pakai go-send aja,” Adit mulai rewel kalau soal seperti ini. Dia tak ingin istrinya cape.



“Iya besok pas unboxing juga biar Velove dan Bagas  ke rumah. Kita bongkar di rumah seru kan?” Dinda ingin memanggil Velove dan kemungkinan nanti juga istri Rizaldy.



“Oke boleh aja seperti itu, Mas sih enggak masalah.” kata Adit. Yang penting istrinya senang.



“Ini lucu banget ya Mas,” Dinda memperlihatkan jumsuit baby girl pada Adit.



![](contribute/fiction/7048024/episode-images/1688688907768.jpg)



“Lucu tuh kalau kita punya anak perempuan,” Adit setuju dengan pendapat Dinda sambil membayangkan bila ada baby mengenakan pakaian tersebut.



“Iya kalau anak perempuan bisa seperti ini Mas, langsung ada bandana-nya. Ini lucu-lucu banget,” Dinda langsung memilah mana jumsuit yang ingin dia pesan.



“Memang Mas kepengen ya punya anak perempuan?” tanya Dinda.



“Mas sih dikasih lagi aja sudah sangat bersyukur Yank. Inget kan Mas itu dulu dibilang lemah bahkan masuk kategori mandul. Dapat si kembar itu sudah sangat bersyukur makanya enggak mungkin Mas akan bermain-main dengan kamu dan anak-anak. Tak akan pernah!”



“Kamu ingat, Mas punya kalian itu sudah mukjizat yang sangat besar. Jadi sekali lagi Mas mohon ngertiin Mas. Mas enggak akan pernah menggantikan kamu dengan siapa pun, terlebih-lebih ada anak-anak.” Adit berkata dengan bersungguh-sungguh, dia flash back saat dokter mengatakan sper-manya tanpa bibit dan harus rutin berobat dengan obat ekstra keras.



“Yang aku tanya, kalau aku hamil lagi Mas mau punya anak laki atau perempuan. Bukan melebar ke mana mana.” Potong Dinda dengan gemas karena Adit ditanya A jawabnya Z.



“Tadi kan Mas sudah jawab, mau dapat laki lagi atau dapat perempuan Mas akan bersyukur. Mas enggak akan minta harus dapat perempuan. Enggak akan karena itu sudah di luar kemampuan Mas.”



“Tapi kalau memang dikasih perempuan Alhamdulillah. Tapi kepengennya kehamilan kedua sih laki-laki lagi,”  kata Adit.



“Kok gitu sih Mas? Memang enggak pengin punya perempuan?”



“Enggak usah lah, biar yang cantik di rumah cuma kamu aja. Enggak ada yang nyaingin.” Adit menggombal. Tapi memang dia masih ingin nambah anak lelaki aja."



![](contribute/fiction/7048024/episode-images/1688688954591.jpg)



“Jadi kalau dapat perempuan Mas enggak suka?” selidik Dinda.




“Kalau begitu adiknya si kembar nanti laki-laki lalu yang bungsu nanti perempuan ya Mas,” pinta Dinda seakan mereka bisa mengatur sesuai kemauan mereka.



“Jadi kamu masih mau dua kali hamil lagi?” Adit menegaskan kata-kata terakhir istrinya. Dia takut salah dengar.



“Aku 10 kali lagi hamil juga aku suka kok. Aku enggak bakal nolak,” jawab Dinda pasti.



“Hamil adalah kesempatan terindah buat seorang perempuan. Sebagai seorang ibu aku enggak akan menolak dapat anak berapa pun,” kata Dinda lagi. Paling dia akan mengatur jarak kehamilan. Bukan mencegah agar tak dapat anak. Terlebih dia ingat bagaimana sulitnya Adik bereproduksi.



“Semoga aja kita diberi kesempatan untuk punya banyak anak,” jawab Adit.



“Kita kan masing-masing jadi anak tunggal, walau karena keterpaksaan, semoga bisa punya tambahan omongan,”  Adit menjawab penuh harap.



“Aaamiiiiiiiiiin,” Dinda sangat setuju, lalu dia kembali mengambil banyak baju lucu itu.



Dinda dan Adit juga banyak membeli aneka perlengkapan makan perlengkapan tidur dan mainan baby. Semuanya dia beli walau di Indonesia banyak jenis serupa, tapi kalau made in luar negeri biasanya ibu-ibu sosialita pasti suka.



\*‘Kamu hamil?’ \*tanya beberapa teman melihat postingan Dinda di media sosialnya.



\*‘Lucu ya?’ \*balas Dinda. Di media sosial Dinda memang menulis : ***kalau punya anak perempuan asyiiiik nih*** saat Dinda mengupload jumpsuit baby girl.



Tentu saja banyak yang curiga Adinda sedang hamil anak perempuan, padahal maksud Dinda untuk promo dagangannya.



‘*Aku sih berharap begitu, punya anak lagi perempuan. Tapi suamiku maunya laki-laki lagi*,’ komen balasan dari Dinda.



‘*Pokoknya semoga cepat dapat lagi lah*,’ tulis Dinda selanjutnya.



\*‘Aaaamiiin,’ \*beberapa temannya langsung menjawab seperti itu



Dinda dan Adit langsung jalan-jalan setelah seharian belanja, mereka memang niatnya refreshing selain belanja tentunya.



“Mas, aku kok pusing ya,” keluh Dinda saat dia baru turun dari pesawat.



“Kenapa Yank?” tanya Adit bingung karena ini bukan pertama kali Dinda pergi naik pesawat.



Bahkan pernah lebih jauh lagi enggak pernah pusing. Masa cuma Singapore Jakarta Dinda kliyengan.



“Mas aku nggak kuat,” kata Dinda yang akhirnya langsung di papah Adit untuk duduk di kursi terdekat.



“Sebentar ya aku minta petugas untuk mengambilkan kursi roda dan kita langsung periksa ke dokter bandara supaya kamu aman. Mas juga mau panggil sopir biar urus barang,” Adit minta Dinda menunggu sambil dia membereskan semua persoalan yang dia katakan tadi.



Adit langsung minta petugas bandara kursi roda bagi orang yang memang membutuhkan. Ada kursi roda di bandara, lalu Adit tanya di mana lokasi dokter yang bisa Dinda datangi.



Petugas membantu Adit membawa Dinda ke dokter bandara. Tadi Adit sudah membereskan barang-barang lebih dahulu. Dia minta sopirnya untuk memasukkan barang ke mobil.



“Tunggu sebentar ya Pak. Saya bawa bu Dinda ke dokter. Dia sedang pusing,” Adit meminta sang sopir menunggu mereka sementara dia dan seorang petugas mendorong Dinda ke ruang dokter.



“Iya Mas,” jawab sopirnya Eddy.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REGRETS yok.