GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BUTUH TENAGA TAMBAHAN?



Hari ini Adit dan Dinda mulai melatih Ghaidan untuk tidur di kamarnya sendiri.


“Ini kamar Abang Iban, Abang tidurnya sendiri,” kata Adit menggendong Aidan yang ditemani dengan Dinda. Sengaja mereka berdua takut kalau Adit tak bisa menjawab pertanyaan Aidan.


“Ini kamar Mas Fari. Mamas juga tidur sendiri lho,” ujar Adit.


“Kakak mau tidur sendiri?” tanya Dinda pada Aidan yang dia sebut sebagai kakak.


Aidan hanya melihat kedua orang tuanya. Dia tak mengerti mengapa harus tidur terpisah dengan kedua orang tuanya. Padahal buat Adit dan Dinda, tanpa hamil pun usia anak 2 tahun akan langsung pisah kamar karena tak baik untuk perkembangan jiwa anak.


Adit dan Dinda mengajak Aidan ke kamarnya sendiri. Mereka memperlihatkan kenyamanan kamar tersebut. Diberitahu semua mainannya sudah ada di sana.


“Ini kamar Kakak Aidan, kita bobok sini ya,” kata Dinda. Adit mendudukkan Aidan di ranjangnya. Dinda bersama dengan Adit berbaring di kasur Aidan.


Ranjang Aidan masih mempunyai pagar agar tidak jatuh bila ditinggal Adit dan Dinda nanti.


Adit dan Dinda menemani Aidan sampai bocah kecil itu tidur.


“Ini pintu penghubung mau ditutup enggak Bun?” tanya Adit.


“Walau masih kedengaran kalau dia teriak dan kita juga bisa lihat dari CCTV saat pintu ditutup,  sebaiknya enggak usah ditutup untuk tahap awal ini Yah,” ujar Dinda memberikan pendapatnya.


“Oke biar dia merasa nyaman dulu aja,” jawab Adit setuju dengan pendapat istrinya.


“Kamu mau tambah personil enggak buat jaga anak-anak?” Adita tentu tak mau gegabah cari orang tanpa persetujuan istrinya.


“Bunda rasa cukup ya tiga aja, itu cukup koq. Jangan karena tambah bayi tambah personil. Toh abang sama mamas sudah mulai bisa dilepas tidak full dijaga seperti kakak,” jelas Dinda.


“Para bayi masih aku pegang sendiri. Nanti kalau aku sudah kerja kan anak-anak yang lain sekolah, para simbok enggak akan terlalu sibuk jaga anak-anak kalau saat aku kerja.”


“Anak-anak kita bukan yang tidak bisa diberitahu. Pasti mamas dan abang akan membantu kita menjaga adik-adiknya. Mulai sekarang mereka diberitahu bagaimana cara membantu kita. Bukan menggendong atau apa tapi membantu mengawasi memberitahu apa yang adik-adiknya kerjakan itu sudah bantuan yang sangat besar dari para kakaknya untuk kita,” jelas Dinda lagi.


“Benar Bun, aku ngerti. Jadi enggak usah tambah ya?”


“Enggak usah Yah. Paling nanti pola masaknya yang kita ganti,” jawab Dinda.


“Maksudmu?” tanya Adit.


“Nanti biar itu Bunda yang atur sama para simbok. Jadi satu hari ini kita masak untuk dua hari atau tiga hari. lalu kita bekukan dan hari lain saat sibuk itu cuma tinggal panasin di microwave saja.”


“Setiap masak kita bukan masak untuk satu hari tapi masak untuk beberapa hari ke depan. Tentu saja kita enggak akan keluarin secara dua atau tiga hari berturut dengan satu masakan sejenis. Misalnya kita bikin rendang yang seharusnya hanya satu kilo cukup untuk 1 kali makan karena keluarga kita banyak kita nanti masak 5 kg. Nah sisanya kita bekukan bisa kita keluarkan minggu berikutnya setiap hari 1 kg.”


“Wah hebat memang istri Ayah ini. Manajemen waktunya selalu lebih depan dari yang lain,” puji Adit.


“Bumbu juga akan Bunda buat seperti itu Yah. Bunda nanti akan bikin bumbu yang sudah diracik lalu dikemas di thin wall kecil untuk satu kali masak jadi saat akan masak tinggal tepung cemplung tanpa meracik lagi. Dulu itu Bunda lakukan saat kakak dan mamas kecil tanpa ada yaang bantu. Buktinya semua bisa Bunda kerjakan sendirian di Bekasi.”


“Ya sudah, kalau hal itu Ayah sih percaya sama kamu. Kamu yang terbaik untuk manajemen waktu.”


“Masalahnya kan kita harus berpikir dengan logika, kalau semuanya dikerjakan dengan mendadak pasti simbok juga enggak akan sanggup. Yang dimasak mendadak itu paling untuk sop, sayur bening yang ringan dan cepat. Untuk yang lama seperti misalnya rendang, semur atau ayam bakar atau tumis-tumis itu bisa dibikin sesuai sekaligus banyak. Untuk tumis itu nanti yang mau disimpan diambil dulu saat baru setengah matang.  Jadi saat dipanaskan nanti dia tidak akan terlalu lembek.”


“Ayah mah manut aja kalau soal itu, kamu pasti lebih tahu.”


“### Iya Yah. Memang harus seperti itu, seperti Bunda bilang tadi.”