
Semua sudah selesai makan, mereka juga sudah membersihkan green house. Wika langsung pulang sejak makan tadi karena kasihan putranya di rumah.
“Ada perkembangan baru?” tanya Dinda pada Sondang.
“Belum Bu. Hanya denyut jantungnya semakin lemah,” sahut Sondang.
“Oke aku akan antar anak-anakmu ke rumah, karena mereka besok sekolah tapi nanti di rumah sama siapa?”
“Ada pembantu kok Bu. Kalau tak merepotkan antar saja mereka ke rumah sakit dulu nanti biar pulang sama saya. Saya juga sebentar lagi akan pulang karena saya juga tidak bawa baju sama sekali,” jawab Sondang. Dia ke rumah sakit sejak kemarin pagi tak bawa baju.
“Oke. Sebentar lagi kami meluncur, kalau semua tamu di sini sudah pulang,” kata Dinda lalu memutus sambungan telepon itu.
“Ayo cukup kegiatan kalian hari ini, kalian sekarang harus kembali pulang dan bersiap untuk istirahat. Kalian besok sekolah harus fresh,” kata Adit pada keenam putra-putrinya. Biasanya mereka bikin kegiatan hari Sabtu agar bisa istirahat di hari Minggu. Tapi karena ini program dadakan maka dibuat hari Minggu. Untuk itu tak boleh sampai sore agar ada waktu untuk refresh tenaga.
Semua orang tua tahu kondisi Gultom terkini. Tentu saja yang bisa pergi hanya Adit dan Dinda membawa Tarida dan Theresia karena Santi tentu harus membawa pulang Biru dulu. Biru tak mungkin dibawa ke rumah sakit.
“Ibu nanti kabarin ya perkembangan terakhir,” bisik Ratih.
“Iya pasti aku kabarin. Ada di grup saja biar nggak beberapa kali kirim pesan. Kalau di grup kan semuanya tahu,” balas Dinda.
Menjelang ashar mereka semua keluar dari kandang. Tinggal para mbok dan petugas green house yang ada di sana.
“Theresia dan Tarida kalian ke rumah Bunda dulu sebentar. Bunda bersih-bersih badan baru kita ke rumah sakit ya. Tadi mamamu sudah bilang kalian ke rumah sakit dulu nanti pulang ke rumahnya sama mama barengan.” kata Dinda pada Icha dan Rida.
“Iya Bun,” jawab Icha.
“Kalian kalau mau mandi, mandi saja. Ada baju Gathbiyya, kalian bisa pakai.” ucap Adinda.
“Kami ada baju kemarin kok. Kemarin langsung dicuci oleh emboknya Mischa, jadi tadi pagi semua sudah bersih. Bisa kami pakai sore ini,” kata Tarida.
“Oh ya sudah kalau kalian tidak mau pakai baju Gathbiyya, padahal baju Gathbiyya cukuplah buat kalian.”
“Kami akan pakai kalau kami tidak ada baju ganti, tapi kan kami punya baju ganti, jadi nggak perlu lah pakai punya kak Gathbiyya,” jawab Rida lagi.
“Ayo ke kamar aku, kalian bisa mandi di kamar aku aja,” aja Ghatbiyya ramah.
Dinda ke belakang dulu untuk memberi owl-nya makan, sejak tadi dia sibuk sehingga hari ini belum memberi maka. Dua burung hantu itu sekarang sudah semakin besar dan sudah bisa terbang karena sejak kecil mereka tahu lingkungan itu sehingga beberapa kali mereka terbang agak jauh tetap kembali lagi mereka sudah tahu di mana tempat tinggal mereka. Mereka diberi makan satu kali sehari biasanya menjelang malam atau minimal selepas maghrib. Tapi karena kali ini Dinda akan pergi, maka Dinda memberi makan lebih dulu.
“Wah ada burung hantu,” kata Icha saat sehabis mandi dia ke halaman belakang.
“Iya ini punya Bunda. Pelihara dari kecil tapi ditaruhnya di rumah,” kata Dinda.
“Kenapa nggak ditaruh di green house?” tanya Icha.
“Kalau ditaruh di green house anak ayam juga anak kelinci langsung habis dia makan. Karena dia kan predator,” kata Ghazanfar.
“Oh iya ya, mereka predator. Pasti piaraan yang di green house akan habis mereka santap,” ucap Icha.
“Itulah sebabnya mereka tidak dicampur ke sana, hanya dipelihara di dalam rumah sini saja,” jawab Ghifari.
“Tapi mereka nggak terbang?” tanya Tarida yang datang belakangan.
“Terbang, cuma akan kembali karena sudah terbiasa dipelihara di sini. Sama saja dengan kucing kan kalau dipelihara dari kecil mereka juga pasti kembali ke rumah lagi,” jelas Ghaidan.
“Hewan lain juga akan seperti itu karena mereka terbiasa dengan lingkungan yang mereka kenal sejak mereka lahir.”
“Apa mereka nggak gigit?” tanya Icha.
“Enggak sih kalau untuk kita. Mereka sudah terbiasa jadi nggak gigit,” sahut Ghifari.
“Aku pengen banget pegang,” kata Tarida.
“Kalau dia hinggap di tangan kita itu agak sakit. Karena kukunya tajam,” kata Ghifari.
“Oh mereka mencengkram ya,” kata Icha.
“Cengkeramannya lumayan sakit. Kalau kita ingin mereka hinggap di lengan kita, lengan kita harus dilapisi dulu dengan handuk tebal,” ucap Ghaylan sambil membalut lengannya lalu memanggil owl dengan lembut. Dan satu owl hinggap di lengan berlapis handuk, Ghaylan mempersilakan Icha dan Rida mengusap bulu owl tersebut.
Selesai memberi makan kedua hewan peliharaannya Dinda baru bergegas mandi.