GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PANGGILAN FAROUQ



Pukul 02.00 dini hari ponselnya Adit ada notifikasi, tapi tentu saja dia tidak membacanya. Adit membacanya ketika akan salat subuh. Detektif memberi kabar kalau polisi telah menangkap Wiwik dan adiknya juga ibunya karena ibunya lah yang menarik Farouq ke mobil. Karena yang dikenal dengan Farouq adalah ibunya Wiwik. Yang lain tak ada yang dikenal Farouq.


Farouq mengenal perempuan tersebut sebagai neneknya. Jadi dia mau diajak dan diberi es krim. Oleh karena itu biar bagaimana pun ibunya juga ditangkap.


Adit langsung memforward pesan detektif kepada Ajat dan Dinda. Dari Dinda diforward ke grup five little star, Puspa dan Velove dan juga pada Santi secara personal.


‘Alhamdulillah,’ begitu tanggapan semua orang mendengar bahwa pelaku penculikan Farouq sudah ditangkap. Tapi hanya Santi dan Ajat yang tahu bagaimana perlakuan para penculik terhadap Farouq. Memang Adit dan Dinda tidak membocorkan perlakuan tersebut ke umum pada saat sekarang. Mereka menunggu nanti setelah semua disidangkan.


Hari ini Farouq mendapat treatment khusus setelah mengetahui penyebab dia sakit di paru-paru dan lambungnya. Dokter mencoba menelaah tentang infeksi yang di akibatkan oleh pemutih pakaian juga air sabun di lambung dan paru-paru Farouq.


“Ibu, Bapak besok kami akan menyedot cairan di paru-paru. Karena ini paru-parunya tenggelam. Sehingga dia sulit bernafas,” demikian dokter memberi penjelasan pada Santi dan Ajat.


“Baik Dokter,” kata Santi. Dia berusaha tegar biar bagaimana pun dia ingin putranya sembuh.


Sekarang yang dirawat hanya tinggal Farouq. Santi sudah tidak ada dalam list perawatan. Tapi mereka tetap tinggal di situ. Hanya Santi sudah tidak bayar biaya perawatan,  tinggal Farouq saja.


“Aku nggak tega melihat dia Pi,” kata Santi sedih.


Dokter memberi dispensasi pada Santi dan Ajat untuk menemani Farouq hingga dia dibius. Masalahnya kalau Farouq meronta-ronta akan lebih bahaya bagi kondisi kejiwaan anak tersebut.


“Mami sayang Abang. Abang nanti di sini sama dokter biar bisa sembuh ya. Mami selalu ada sama Abang kok,” bisik Santi. Dia menggenggam tangan kanan putranya. Saat itu Farouq mulai dibius sehingga mulai tidak sadar tapi tentu bisikan-bisikan itu masih dia dengar dengan baik. Santi memang selalu membisikan afirmasi bagaimana cintanya dia, Mischa dan Ajat pada Farouq.


Setiap Mischa pulang sekolah Mischa pun di ajarkan jangan bicara keras tapi terus berbisik pada adiknya bahwa dia mencintai sang adik dan berharap sang adik cepat sembuh.


Biasanya Mischa sering mengajak bicara Farouq. “Ngomong dong Dek. Kan Kakak kangen Adek.” begitu selalu Mischa katakan.


Farouq hanya menatap wajah kakaknya tanpa mau bicara. Kadang dia masih tersenyum sedikit, tapi sama sekali tanpa kata keluar dari mulutnya. Entah apa yang ada di pikiran bocah tersebut seakan-akan ada trauma kalau dia membuka mulut untuk bicara atau menangis pasti terjadi hal buruk. Mungkin itu yang dia ingat saat dia berhenti menangis habis di dibenamkan kepalanya di air sabun. Matanya juga perih, matanya mulai sedikit agak mengabur sejak kepalanya tenggelam di air sabun tersebut.


Proses pengambilan cairan di paru-parunya berjalan baik dokter berharap Farouq bisa segera pulih walau paru-parunya sudah mulai ada sedikit iritasi. Begitu pun di lambungnya, dokter juga memeriksa mata dan saluran pernapasan setelah mengetahui bagaimana penyebab dari sakit seperti sekarang.


Sore ini Mischa, Ajat, Santi sedang menemani Farouq di bed nya.


“Mami …,” kata Farouq. Tentu saja Santi terlompat mendengar putranya memanggil dirinya, setelah 8 hari dia ditemukan dan tak ada kata keluar dari dirinya.