
“Kalian mborong apa tadi?” tanya Sondang saat mereka sedang di meja makan malam ini.
“Kami nggak beli apa-apa kok Ma. Cuma antar opung beli baju tidur. Dia bilangnya daster. Dikasih daster ternyata mintanya tuh baju tidur yang tangan panjang dan celana panjang,” kata Tarida tersenyum karena mengingat opungnya ngotot tak mau saat di beri pilihan aneka daster berbahan kaos dari penjaga toko.
“Oh maksudnya baby doll kali ya, atau apalah namanya. Pokoknya baju tidur. Opung butuh buat di rumah sakit, karena kan kalau pakai daster mungkin nggak nyaman. Lebih enak pakai celana panjang seperti itu,” ucap Sondang.
“Memang tempatnya seperti apa sih Ma? Kok nggak enak kalau pakai daster. Memang tidurnya rame-rame?” tanya Icha.
“Enggak lah. Papa di ruang kelas 1, jadi dia sendirian dalam ruangan. Ada tempat tidur buat yang nunggu juga,” kata Sondang.
“Oh begitu,” balas Tarida sambil mengambil nasi dan arsik ikan mas.
“Kalau begitu aku besok mau lihat deh,” lanjut Tarida lagi.
“Boleh,” kata Sondang. Dia sudah mengira pasti anak-anaknya tak enak mau bilang nengok papanya. Mereka malah bilang hanya pengen tahu kondisi ruang rawat Gultom saja.
‘What everlah. Yang penting kalian mau datang,’ kata Sondang. Dia bertekad akan segera melaporkan hal ini pada bu Dinda.
“Besok habis sarapan saja kita ke rumah sakitnya ya. Tapi mungkin kalian harus bawa buku dan laptop kalian. Juga bawa baju ganti. Kan mama kepaksa jaga seharian karena opung pulang,” ucap Sondang.
“Bukannya Mama waktu itu bilang nggak mau jagain papa sama sekali?”
“Betul. Mama tidak mau jagain papa. Tapi kemarin Bu Dinda menugaskan Mama. Mama harus jaga papa dan biarkan opung pulang. Bu Dinda tidak mau opung sakit, jadi Mama diberi cuti kantor tapi dengan catatan harus ada di rumah sakit. Anggap saja Mama kerja tapi di rumah sakit,” jelas Sondang. Dia tak mau dikira pembohong oelh anak-anaknya.
“Di rumah sakit pun kan Mama nggak ngurusin papa. Dia juga masih belum sadar. Jadi ya sudah, Mama cuma telepon kantor, lalu bikin berkas di email. Begitulah pokoknya, kerjaan kantor tapi Mama kerjakan di rumah sakit,” jawab Sondang.
“Kalau besok kan libur Ma? Hari Sabtu,” tegas Icha.
“Ya paling Mama cuma nonton TV. Tapi kalau ada kalian sepanjang hari kan kalian juga nggak enak bengong. Lebih baik bawa laptop kalian buat belajar atau buat ngapain saja,” kata Sondang.
“Atau nanti kalau kalian mau pulang cepat ya Mama antar pulang pergi. Nggak apa-apa kok,” jawab Sondang.
“Nanti kalau ada yang nengok ( menjenguk ) papa, lalu Mama nggak ada, Mama nanti malah dimarahin Bu Dinda. Nanti malah kena tegur dan Mama jadi dikeluarin, nggak kerja lagi,” kata Tarida yang sudah lebih mengerti tentang sangsi bila melanggar aturan.
“Mama di rumah sakit karena ditugasin dari Bu Dinda, bukan kemauan Mama. Sudah nggak apa-apa kami ada di rumah sakit,” kata Tarida lagi.
“Baiklah kalau seperti itu. Tapi kalau kalian nggak betah mau pulang bilang saja. Mungkin nanti Mama bisa orderin taksi online,” Sondang tak ingin anak-anaknya tersiksa.
“Tenang saja,” jawab Tarida.
Sejak tadi Sondang sudah lapor bawa anak-anak minta ke rumah sakit besok, sehingga rencana untuk ke panti asuhan akan ditunda oleh Dinda karena sudah tidak urgen lagi. Ternyata tembakan Wika langsung berhasil.
Tentu saja grup darurat merasa sangat senang misi mereka berhasil.
‘Grup saya bubarkan ya. Kita bahasnya langsung di grup emak rempong saja, biar Sondang ikut bicara,’ tulis Dinda
‘Siap Bu komandan,’ Jawab Puspa.
Mereka pun kembali chat di grup emak rempong, sehingga Sondang bisa ikut andil untuk bicara.
‘Planning kita untuk ke panti asuhan sementara kita tunda karena sudah tidak urgent,’ Dinda memberi info pada para emak.
‘Kunjungan ke panti asuhan nanti sekalian bakti sosial saja. Jadi bukan cuma kita-kita, tapi tiap cabang kita bikin kegiatan rutin. Tiap cabang bikin bakti sosial di panti asuhan yang berbeda,’ jelas Dinda.
Tentu saja semua setuju dengan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan.