GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK TEGA MEMISAHKAN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Dinda keluar dari ruangan itu dan mencari di mana keberadaan Adit serta putranya, dia mendengar lamat-lamat Ghibran berteriak tertawa Dinda menghampiri mereka di halaman teduh



 Ghibran dan Ghifari sedang bermain bola dengan ayahnya. Dinda merasakan kebahagiaan kedua putranya.



‘*Bagaimana Bunda tega memisahkan kalian dengan ayah Nak*?’



“Ayo ya pulang Yah,” ajak Dinda.



“Kok lama Bun?” tanya Adit mendengar suara istrinya.



“Ibu yayasannya banyak minta perubahan, lalu aku juga revisi berapa bagian. Jadi ya cukup lama lah,” kata Dinda santai.



“Oh iya Yah, kunci mobilmu kasih ke drivernya Bagas aja karena nggak mungkin anak-anak aku pisahin sama kamu. Mereka pasti akan histeris kalau dipaksa sekarang,” Dinda berbisik pada Adit. Tak ingin didengar bu Tari. Bu Tari memang setia menemani kedua anak majikannya.



“Bagas bahwa sopir?” tanya Adit.



“Ya selalu seperti itu bila dia pergi jauh. Bagas itu paling malas nyetir jadi selalu bawa sopir, entah itu adiknya, tetangganya atau sepupunya. Dia lebih senang jadi penumpang. Aku hafal itu sejak lama,” kata Adinda.



“Oke baik akan Ayah kasihkan. Ayah juga pikir akan temani anak-anak, tapi nggak mikir kita satu mobil,” jawab Adit.



“Lalu kalau enggak satu mobil anak-anak ikut mobil siapa? Pasti mereka enggak mau kalau kamu enggak satu mobil. Mana mereka ngerti kalau kita bilang Ayah ikutin mobil Bunda?” jawab Dinda santai.



Adit lalu memberikan kunci mobil pada sepupunya Bagas yang sedang tertidur di mobilnya.



“Nanti biar Bagas yang atur, kamu atau Bagas yang antar mobil itu sampai ke kantor saya,” kata Adit.



“Baik Pak,” jawab sepupunya Bagas.



Adit kembali mendekati mobilnya Dinda, sejak tadi tentu kedua putranya tetap berada dalam gendongannya. Mereka persis seperti anak kanguru yang tak mau keluar dari kantung induknya.


\*\*\*



“Ayah yang jadi penumpang aja enggak mungkin Ayah jadi sopir karena anak-anak enggak bisa dipangku Bunda. Mereka enggak akan mau kalau aku yang pangku sedang ayah yang nyetir,” kata Dinda.



“Bu Tari, ini Ayahnya anak-anak,” ujar Dinda pada Bu Tari.



“Iya Bu, saya tahu beberapa kali saya lihat di televisinya anak-anak,” jawab bu Tari.



‘*Jadi Dinda rutin memutar video aku dan papa agar anak-anak tak kehilangan sosok lelaki dewasa dalam hidup mereka*?’ batin Adit mendengar kataa-kata bu Tari.



Sepanjang jalan karena ada Bu Tari di mobil, maka Dinda dan Adit hanya bercerita dengan anak-anak saja. Dinda dan Adit berinteraksi dengan anak-anak mengajak mereka bicara atau bernyanyi.


\*\*\*



“Ayo masuk Yah,” ajak Dinda saat mereka tiba di ruko.



“Kamu tinggal di sini?” tanya Adit seakan belum pernah tahu kalau dia mengikuti Dinda sampai sini.




Adit memperhatikan tempat tinggalnya Dinda.



‘*Ini bukan tempat tinggal ecek-ecek*,’ batin Adit. Lelaki itu menebar pandangan ke sekeliling.



Di lantai atas ada dua kamar tidur sangat besar sama besarnya seperti kamar tidur mereka di rumah Eddy.



 Lalu ada kasur lantai dua buah yang digabung jadi satu jadi sangat lebar. Dekat kasur ada televisi besar di dinding dan banyak bantal di sana. Adit memperhatikan ada lemari khusus mainan juga keranjang mainan anak-anak.



Di tengah ada meja makan dan ada area dapur yang ada pagar sehingga anak-anak tidak bisa masuk. Pagar manis yang memang dibeli khusus untuk pagar anak-anak. Dinda memagari area dapur agar aman.



Adit melihat dua high chair di meja makan. Mungkin Dinda biasa makan bersama anak-anak agar membiasakan diri menikmati kebersamaan makan dalam kehangatan keluarga.



Tak ada tambahan lagi kecuali area untuk pintu ke teras atas.



“Ayo kita ganti baju,” ajak Dinda.



Ghibran langsung menghampiri Adit dan memeluknya. Sejaak tiba di rumah memang Adit menurunkan kedua putranya yaang langsung berlarian bebas di rumah mereka.



“Ha ha ha anak-anak enggak mau nih Yah,” kata Dinda.



“Ha ha ha ha,” Adit ikut tertawa melihat kedua putranya seperti itu.



“Ya sudah ayo ganti baju sama Ayah,” akhirnya Adit membawa kedua putranya ke toilet dan membasuh agar langsung bersih dan segar tidak hanya asal ganti baju.



Saat anak-anak diurus ayahnya, Dinda langsung memanaskan makanan mereka. Biasanya  si kecil sudah makan di mobil lalu langsung tidur, sehingga sampai rumah langsung Dinda baringkan. Tapi karena tadi pulang bersama ayahnya mereka enggak mau tidur jadi baru sekarang akan makan lalu tidur.



“Ayo ini sudah siap,” kata Dinda. Adit membawa kedua putranya ke high chair untuk mereka makan.



“Bismillah dulu ini maemnya kalian,” kata Dinda sambil memandu kedua jagoan melafalkan kata bismillah.



“Anak sekecil ini dibiarkan makan sendiri?” tanya Adit.



“Iya pelajaran mereka seperti itu. Mereka harus mulai bisa makan sendiri. Usia sudah hampir 2 tahun, walau masih berantakan tapi memang harus dilatih gerak motoriknya.”



“Tinggal kita yang atur makanannya masuk apa enggak? Kita awasi jangan sampai mereka kurang makanan yang masuk karena hanya untuk mainan. Jadi kita juga bantu, tidak semuanya kita suapi seperti anak zaman konvensional dulu. Biar mereka mulai makan sendiri,” kata Dinda.



Adit pun setuju dengan Dinda dia memperhatikan kedua putranya makan sesekali Dinda atau Adit membantunya.



Sesudah mereka selesai makan Dinda memberikan air putih untuk mereka minum.



“Ayo kita siap bobo,” kata Dinda sambil mengangkat Ghibran dan Adit mengangkat Ghifari.



Mereka berdua dibaringkan di kasur lantai tidak di kamar, Adit memperhatikan ruangan ini full AC terutama bagian kasur lantai anak-anak. Dapur memang tidak pakai AC tapi masih terasa dingin karea kena AC dari ruang depan dan tengah.



Adit mengusapkan lembut kedua punggung putranya agar mereka tertidur. Karena sudah lelah dan juga kenyang keduanya akhirnya cepat tidur tanpa rewel.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok