
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kakek aku mau bicara sama Bunda dan Ayah,” pinta Fari pada Eddy malam ini.
“Bunda sama ayah lagi di dokter, mungkin nggak bisa terima telepon kamu. Nanti aja ya? Kakek akan tinggalin pesan sama bundamu, kalau dia sudah bisa telepon kakek minta dia telepon kamu. Bagaimana?” Eddy membujuk cucu sulungnya itu.
“Enggak mau. Aku mau ngomong sekarang. Penting,” jawab Fari.
“Enggak bisa Sayang. Bundamu lagi di rumah sakit,” balas Eddy yang tadi telah menerima pemberitahuan dari Dinda kalau dia di rujuk ke poli lain sehingga akan pulang larut.
“Aku mau sekarang Kek,” tumben Fari yang biasanya lembut dan perasa ngotot ingin bicara dengan bundanya.
“Iya Pa?” tanya Dinda saat menerima dan melihat ada panggilan dari Eddy.
“Entah kenapa Fari ngotot minta telepon sama kamu, Enggak seperti biasanya dia seperti ini,” Eddy memberitahu Dinda.
“Kasihin aja Pa, aku masih nunggu panggilan kok. Masih ada dua orang di depan aku. Jadi enggak apa apa. Asal enggak lama.”
“Kamu bilang saja sama dia jangan lama-lama bicaranya karena kamu sudah mau masuk ke ruang dokter. Percuma kalau Papa yang kasih tahu,” Eddy langsung memberikan ponselnya pada Fari.
“Ya Pa, kasihkan aja ke dia enggak apa-apa,” jawab Dinda.
“Assalamualaikum Mas. Kenapa nyari Bunda? ‘Kan tadi Bunda sudah bilang ke kakek Bunda lagi ke rumah sakit,” tanya Dinda dengan lembut pada Fari putra sulungnya.
“Tadi ada. PR Kenapa Bunda nggak bantuin aku bikin PR?”
‘Kan Bundanya ke dokter, jadi nggak bisa bantuin malam ini. Besok kan kamu nggak sekolah, besok kita bikin ya pagi-pagi. Anggap aja kamu sekolah di rumah sama Bunda. Oke?” bujuk Dinda.
“Kan Bunda biasa pagi-pagi berangkat kerja,” tolak Fari tak mau kalah.
“Sebelum berangkat kerja Bunda akan bantu Mamas dan abang bikin PR,” jawab Dinda.
“Ya sudah jangan bohong ya?”
“Enggak sih, aku dengar dari temen-temen aja katanya orang tuanya suka bohong,” cerita Fari.
“Bohong itu tidak baik, biarin saja orang tua mereka seperti itu yang penting orang tua kamu tidak,” jawab Dinda.
“Mau bicara sama ayah?”
“Iya boleh,” jawab Fari.
“Ayah jangan kelamaan bawa dulu bundanya pulang. Selesai diperiksa dokter bawa pulang cepat karena aku mau minta bikin PR,” belum sempat Adit mengucap salam Fari sudah menyuruhnya segera bawa Dinda pulang seakan Adit tak tahu pembicaraan antara Dinda dan Fari.
“Tadi Ayah dengar mau bikin PR-nya besok pagi kan? Kenapa jadi sekarang berubah?”
“Kalau masih sempat sekarang ya sekarang aja lah. Ayah yang bilang enggak boleh menunda pekerjaan,” jawab Fari cerdas.
“Kayanya sih pulangnya malam. Sekarang aja belum dipanggil buat masuk ruang periksa. Nanti habis dari dokter kan tunggu obat dulu cukup lama. Jadi kemungkinan pulang malam. Lebih baik kalian tidur aja nggak usah tungguin Ayah. Tadi kan Bunda sudah bilang sama kakek suruh temani kalian tidur duluan karena bundanya pulang malam.”
“Ini belum masuk loh, masih ada dua pasien yang sedang di ruang dokter jadi kamu enggak usah tungguin ya.”
“Aku tungguin aja, jangan kelamaan.”
“Enggak bisa dipastikan, pokoknya Mas sama abang langsung bobo aja. Enggak usah nungguin Ayah sama bunda. Begitu habis maem, belajar langsung bobo,” perintah Adit dengan lembut.
“Ya,” jawab Fari.
“Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumsalam Yah.”
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.