GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
LANGKAH BESAR SONDANG



Gultom duduk sendirian di taman dekat kantornya. Sepulang dari cafe dia tak berani ke rumah karena tahu pasti inang atau ibunya sudah memberitahu Sondang fakta bahwa dia punya 3 perempuan lain.


Gultom bingung karena urusan tagihan kartu kredit saja dia belum punya solusi dan belum dia bahas dengan Sondang. Sekarang ditambah dua istrinya sudah minta mundur. Dia tak punya mainan lagi dan tentunya dia juga tak bisa menaklukkan Pratiwi karena sekarang tak punya power apa pun untuk amunisi mendekati perempuan tersebut.


Padahal Gultom sangat senang pada Cilla dan Niken yang mau menjadi istri keduanya walau sudah diberitahu punya istri yaitu Sondang.


“Mengapa sejak pertama Pak Bagas ketemu dan tahu soal Niken lalu bertemu dengan Cilla mereka tak lapor ya ke ibu Dinda. Padahal kalau sejak dulu lapor tentu sudah 5 bulan lalu aku terpuruk karena saat bertemu dengan Niken kejadiannya saat Niken memberitahu kehamilannya baru 2 minggu sekarang kehamilan Niken sudah 6 bulan.”


“Ternyata pak Bagas dan istrinya orang baik aku yang bodoh menduga mereka akan melaporkan pada Sondang.


“Saat ini malah ada yang memberitahu inang dan Cilla serta Niken tanpa Sondang ikut terlibat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi bila saat itu juga ada Sondang. Tapi aku yakin inang sudah mewakili Sondang.”


Gultom bingung apa yang harus dia lakukan saat ini sedang uang di ATM-nya sangat minim. barusan dia mengambil cash untuk operasionalnya yaitu bensin dan makan siang di kantor. Sisa di ATM-nya hanya 2 juta rupiah saja. Mau bagaimana lagi dia bergerak sekarang?


“Sudah?” tanya inang.


“Sudah Opung,” jawab Sondang. Tak ada air mata dari mata Sondang.


Karena yang menangis adalah hatinya, menangis darah! Bagaimana mungkin dia tak menangis karena tahu suaminya sudah 3 tahun berkencan dengan Cilla dan punya anak sekarang umur 5 bulan. Dia tak pernah tahu suaminya selingkuh bahkan juga sekarang ada istri ketiga yang sedang hamil dan ada perempuan lain yang sedang dia dekati. Sondang baru tahu barusan sehabis opung pulang dari pertemuan dengan bu Dinda.


Ternyata selama ini opung dan Dinda sudah berkali-kali bertemu dan membahas masalah Gultom. Opung sengaja tidak memberitahu pada Sondang sebelum semuanya fix yaitu Gultom dikebiri keuangannya!


Dinda juga sudah memberi wacana apabila Sondang ingin bekerja kantornya mau menerima Sondang karena Sondang juga punya skill yang bagus. Hanya nanti Sondang ditempatkan di kantor cabang bukan di kantor pusat yang satu lokasi dengan Gultom.


Sondang menerima itu. Dia mau menjadi pegawai karena anak-anak bisa dia tinggal bekerja, mereka bukan balita lagi walaupun tanpa inang sekali pun,  sudah ada pembantu rumah tangga yang biasa membantu di rumah mereka sehingga itu bukan kendala untuk Sondang bekerja.


“Jadi kapan Bu Dinda bisa terima lamaran saya Inang?”


“Kamu janjian saja lah dengan dia. Kamu tanya dia karena nanti kamu bertemunya dengan kepala cabang bukan dengan Bu Dinda. Kamu akan ditempatkan di kantor yang dekat dengan rumah kita ini. Jadi tidak cabang yang jauh. Bu Dinda itu punya 5 cabang masing-masing semua atas nama anaknya.”


“Anaknya kan 6 Inang?”


“Anak perempuannya nanti pegang kantor pusat, 5 kantor cabang itu punya anak lelakinya,” jawab mertua Sondang.


“Dia benar-benar sudah siap sejak anak-anak masih kecil ya Inang,” kata Sondang.


“Bu Dinda sudah siap sejak anak-anak berumur 2 tahun,” kata inang.


“Aku juga akan mempersiapkan dana buat anak-anak kuliah!” Tekad Sondang. Dia akan investasi buat anak-anaknya.