
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Papa minta yang terbaik aja, tapi serius Papa minta bantuan kamu untuk kembali aktif setelah 2 tahun kamu tidak kerja lagi di kantor,” pinta Eddy bersungguh-sungguh.
“Asal kantor mau aku acak-acak, boleh aja Pa. Tapi kalau modelnya kayak model Merrydian dan perempuan-perempuan model gitu, sorry Pa, aku enggak kuat.”
“Bukan enggak kuat terhadap godaan terhadap mas Adit. Enggak! Karena aku sudah enggak peduli siapa pun yang mau dia tiduri.”
“Aku enggak kuat ingin maki-maki mereka karena cara cari nafkahnya salah. Mereka menjatuhkan harga diri perempuan sehingga bisa-bisa semua pekerja perempuan dianggap bisa dimainkan seperti mereka.”
“Siapa itu anak marketing waktu itu, aku lupa namanya siapa dia. Yang minta diskon dengan menjual tubuhnya. Rasanya enggak etis nama perusahaan dipakai seperti itu. Buat cara seperti itu aku enggak rela,” kata Dinda panjang lebar.
“Ah iya benar. lebih baik orang seperti itu dikeluarkan saja. Tapi memang dia sudah keluar dengan sendirinya sih, dua bulan setelah kamu pergi. Karena dia ketahuan oleh istri seorang rekanan bisnis kita yang diajak main. Sehingga akhirnya dilabrak ke kantor membuat dia malu,” ujar Eddy.
“Itulah perempuan-perempuan tak punya rasa empati kepada sesama perempuan. Mereka mengorbankan perasaan perempuan lain sebagai seorang istri atau kekasih dari laki-laki yang dia goda.”
“Walau seharusnya tetap aja salah laki-lakinya karena suatu hubungan itu tak mungkin terjadi bila hanya satu pihak. Pasti keduanya sama-sama mau sehingga bisa seperti itu. Aku enggak suka dengan perempuannya yang tidak memikirkan hati perempuan lain yang tersakiti.”
“Kalau si laki-laki atau suami atau pacar yang memang selingkuh ya memang dianya yang enggak punya otak, sudah punya istri masih tetap cari perempuan lain. Dia enggak berpikir bagaimana kalau anak perempuannya dijadikan korban oleh menantunya nanti.
Adit terdiam membisu, tak bisa dia bayangkan bila kelak anak perempuannya disakiti oleh menantunya seperti dia menyakiti Dinda dulu. Menduakan Dinda dengan Shalimah.
Pagi ini semua sarapan dengan bergembira si kembar senang sarapan bareng dengan kakek dan ayahnya biasanya mereka hanya sarapan bertiga dengan Bunda Dinda mulai memperkenalkan Mbok Marni dan Mbok Asih pada Ghibran dan Ghifari agar mereka terbiasa bila suatu saat harus ditinggal Dinda ke kantor.
“Papa mau bawa apa buat makan siang?” tanya Dinda pada Eddy.
“Enggak usah Din. Nanti biar Papa beli aja seperti biasa,” jawab Eddy.
“Hari ini ada aku, jadi enggak biasa. Papa harus bawa makanan dari rumah. Mulai besok bawakan Papa makan siang Mbok,” Dinda bicara pada Eddy sekaligus pada mbok.
“Injih Mbak,” mbok Marni yang paling senior diantara dua rekannya cepat menerima tugas itu.
Pagi ini Dinda menyiapkan bubur ayam, tapi tidak seperti bubur ayam yang dijual di luaran. Bubur ayam yang Dinda buat ayamnya dia potong kecil dan dimasukkan ke bubur sehingga tercampur sejak dari masak. Bukan disuwir lalu ditabur di atasnya.
“Mamam,” tanya Ghifari pada Adit sambil melihat Eddy.
“Iya Kakek mamam,” jawab Adit sambil mendudukkan Ghifari di high chair sedang Ghibran di gendong mbok Asih karena sejak tadi Dinda masak buat sarapan. Mbok Asih juga mendudukkan Ghibran di high chair untuk bersiap makan.
“Mamas mamam?” tanya Adit.
“Mam,” jawab Ghifari sambil melihat Dinda yang membawa mangkok makan.
“Ade mamam juga?” tanya Eddy.
“Maem,” kata Ghibran.
“Ya habis kan maem kalian habis itu baru boleh menonton pelajaran. Ayo kita bismillah dulu,” jawab Dinda.
Setelah itu Dinda menuntun anak-anak membaca bismillah sebelum mereka makan.
“Menonton apa mereka?” tanya Eddy
“Mereka menonton tentang fauna Pa. Ada tayangan tentang hewan di siaran TV mereka. Jadi aku tinggal siarkan itu buat mereka tiap pagi bila tidak sekolah,” jawab Dinda.
“Oh gitu, kalau enggak sekolah mereka menonton.”
“Iya, kecuali mereka tiba-tiba minta menonton ayahnya atau kakek. Mereka akan bilang minta kakek atau ayah,” kata Dinda jujur.
“Memang video yang mana yang kamu siarkan buat mereka?” Eddy tentu penasaran video apa yang Dinda miliki.
“Banyak lah Pa. Yang pas kita bikin aqiqah, terus kalau Mas Adit banyak yang di ruangan kerja aku,” kata Dinda.
“Jadi mereka terbiasa tahu ayah dan kakeknya kerja sehingga kalau mereka kangen, aku bilang ayah dan kakek ke kantor. Mereka enggak akan rewel,” kata Dinda lagi.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok