
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
```````````````````````````
“Wah sudah lama sekali nih Pak Adit sama Bu Dinda tidak ke sini, apa kabar?” tanya sang dokter langganan sejak Adit disebut tak subur dulu.
“Alhamdulillah kami sehat Dok,” jawab Adit sambil mengulurkan tangan bersalaman.
“Sekarang ada laporan apa nih. Bu Dinda sudah sehat sejak pulang dari rumah sakit dulu kan?” tanya sama dokter dengan santai.
“Kami baru turun dari Singapura, tiba-tiba Dinda pening. Kami periksa di dokter bandara, dokter bilang kemungkinan Dinda hamil, katanya denyut nadinya beda. Maka kami langsung ke sini sebelum sampai rumah,” lapor Adit panjang lebar. Dinda membiarkan suaminya yang berperan aktif. Dinda menyukai bila Adit menunjukkan dia lebih berpower dari istrinya.
“Oke. Ayo kita periksa Bu Dinda, Pak Adit bagaimana realnya tanpa perlu test pack dan test darah.”
“Ya Dokter. Kalau ini hamil lagi berarti kan saya sudah tokcer,” jawab Adit.
“Iya sih. Ayo bu Dinda kita lihat ya. Silakan ikut suster untuk berbaring,” Dokter memperhatikan riwayat kesehatan Dinda di rekam mediknya.
“Wah selamat ya Bapak Ibu, beneran nih bakal ada calon dedek bayi dan usianya sudah 5 minggu,” jawab dokter melihat hasil monitor.
“5 minggu Dok?” tanya Adit tak percaya. Jadi benar si baby adalah produk saat malam pengantin mereka di Sydney. Karena 5 minggu lalu mereka memang kembali melakukan hubungan suami istri setelah mereka bercerai satu tahun lebih.
“Sekarang kembar lagi enggak Dok?” pertanyaan pertama yang Adit ucapkan belum sempat dokter jawab, Adit sudah memberti pertanyaan susulan.
“Enggak nih, satu kayanya,” jawab sang dokter.
“Kok pakai kata kayanya sih Dok?” Dinda menekan sang dokter mendengar kata ketidak pastian. Dokter pasti sudah lihat jelas di monitor kan jumlah bayi satu, dua atau tiga.
Adit dan Dinda berupaya melihat monitor dengan saksama agar mendapat kepastian satu atau dua bayi yang mereka miliki saat ini. Karena dokter hanya tersenyum saja mendengar desakan Dinda tadi.
Buat mata orang awam seperti mereka belum bisa membedakan ada berapa jumlah bayi yang ada di monitor.
“Oh iya Dok walaupun masih lama, kami sudah memutuskan untuk bayi kedua ini kami tidak ingin jenis kelaminnya diberitahu pada kami. Biar kami mendapat surprise dan menduga-duga. Mas Adit inginnya laki-laki lagi kalau saya tetap inginnya perempuan lah, namanya sudah punya dua jagoan kecil,” Dinda menjelaskan mereka tak ingin mendengar jenis kelamin anaknya kelak.
“Noted,” Jawab sang dokter.
“Saya akan ingat bahwa kalian tidak ingin jenis kelaminnya diberitahu.” agar tak lupa dokter memberi catatan di status Dinda.
“Iya Dok. Mas Adit nih maunya laki padahal kita sudah punya dua jagoan.” jelas Dinda.
“Kondisinya bagaimana Dok. Sehat kan?” Adit tak mengomentari protesan Dinda. Dia malah bertanya kondisi calon bayinya.
“Dok, kami tetap minta hasil USG di printnya dua lembar terus surat kehamilan ya Dok,” pinta Dinda.
“Mau buat apa surat kehamilan Yank?” tanya Adit.
“Mau buat hadiah ulang tahun papa besok lusa,” jawab Dinda.
“Lusa Papa ulang tahun? Aku yang anaknya malah lupa,” ucap Adit jujur.
“Kamu tuh selalu aja begitu, yang diingat apa coba?” tanya Dinda.
“Baik,” jawab dokter. Dia pun lalu menyiapkan print hasil USG 2 lembar dan 1 buah surat keterangan bahwa Dinda sedang hamil 5 minggu.
“Tidak ada keluhan bu Dinda? Apa sekarang pak Adit juga kena syndrome couvade dan ngidam?” Tanya dokter.
“Alhamdulillah enggak Dok paling ya itu makannya yang enggak kira-kira. Lebih banyak dari waktu hamil si kembar. Eh sama lah, bukan lebih banyak sih. Makanya saya tadi tanya beneran satu karena ini makannya juga bener-bener nafsu banget,” kata Adinda.
“Pak Adit-nya bagaimana nih? kena morning sicknesnya enggak?”
“Enggak sih Dok. Enggak kena, tapi seandainya saya kena lagi enggak apa apa. Alhamdulillah kalau saya yang kena.”
“Saya tidak tega kalau istri saya yang harus mengalami seperti itu. Muntah-muntah dan lemas sepanjang hari. Saya enggak tega, lebih baik saya aja,” kata Adit.
“Yang kayak gitu tuh tidak bisa diminta sih ya? Tapi ya alhamdulillah memang kalau seorang suami yang bisa mengalami itu. Suami jadi tahu bagaimana penderitaan seorang ibu yang sedang hamil muda. Belum lagi nanti saat melahirkan pasti teramat sakit. Jadi perjuangan seorang ibu bisa mendapatkan bayi memang sangat luar biasa,” kata sang dokter.
“Benar Dok saya mengerti,” jawab Adit
biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok.

\```````````````````````````