
Hari ini rumah sudah tumpah ruah dengan tamu, malam nanti adalah akan ada pengajian. Pengajian dilakukan karena besok Fari dan Iban akan di khitanan. Saat ini Fari dan Iban sudah umur 8 tahun, Ghaidan berumur 5 tahun dan si kembar tiga berumur 3 tahun.
Satu minggu lalu Adit memberitahu tentang rencana ini ternyata anak-anak tidak menolaknya, hanya Ghaidan yang belum siap sehingga kali ini yang di khitan hanya Fari dan Iban.
Dinda makin cantik dengan pertambahan usianya, dia semakin matang dan tentu terlihat sangat anggun dengan gamis seragam untuk pengajian kali ini. Dinda sekarang punya kembaran dalam berpakaian. Yaitu Gathbiyya, tidak seperti dulu selalu sendirian.
Sementara Adit, dan Eddy seraga, dengan kelima anak mereka yang lain.
“Memangnya enggak sakit?” tanya Ghaidan pada kedua kakaknya yang sudah di beri pesan tak boleh banyak bergerak menjalang khitan.
“Kalau kamu dengerin orang-orang yang bilang sakit, pasti sakit Dek,” Kata Fari.
“Tetapi kalau kita yakin enggak sakit, ya enggak bakalan sakit.
Banyak kok orang bilang katanya seperti dicubit, nah di cubit itu sakit atau enggak kan tergantung orang yang merasakan. Jadi jangan dengar afirmasi yang salah.” kata Fari lagi.
“Okelah besok-besok aku berani disunat. Kalau sekarang kan enggak enak nambahin dokternya kerjaan.” kata Ghaidan
“Halah bilang aja belum berani,” goda Iban.
Fari pun tertawa mendengar ocehan Iban.
Adit dan Eddy memperhatikan mereka dari jauh. Eddy tak percaya dari satu anaknya akhirnya membuat dia punya 6 cucu yang menggemaskan.
Dua anak kembarnya tak selamat, sekarang malah dapat 5 anak kembar.
Itulah rencana Tuhan, tak ada yang tahu.
“Wah calon pengantin masih berani kelayapan nih,” goda Adit pada Shindu.
Shindu dan Ajeng minggu depan memang akan menikah.
“Hari terakhir bertemu sebelum dipingit nih Pak,” kata Ajeng.
“Iya, lusa kami dipinggit,” timpal Shindu.
“Akhirnya bujang lapuk ini laku juga,” kata Eddy.
Shindu memang 2 tahun lebih tua daripada Adit.
“bukannya enggak laku. Saya memang menunggu yang terbaik, jadi selama belum dapat yang terbaik ya belum nikah,” kata Shindu.
Ajeng tersenyum mendengar pembelaan dari calon suaminya itu.
“Nah ini lagi pengantin baru sudah ngelayap,” kata Adit. Puspa dan Ilham memang sudah menikah 9 hari lalu.
“Sebenarnya sih masih males keluar Pak. Masih lebih enak di kamar,” balas Ilham.
Ilham langsung mendapat cubitan dari Puspa.
“Lho aku kan di kamar ngelonin si kecil. Emangnya ngapain? Kamu aja yang pikiran ngeres pakai cubit-cubit,” kata Ilham lagi.
Tentu saja itu membuat Puspa tambah keki.
“Tau ah,” jawab Puspa tersipu malu.
“Sudah kalian makan dulu, daripada ngabisin energi buat berantem,” Kata Adit.
“ Kami enggak berantem kok Pak. Lagi sparing partner,” jawab Ilham.
“Sekarang beda ya Ilham. Sudah nikah jadi banyak ngomong,” goda Dinda. Bagas yang mendengar langsung tertawa terbahak.
“Ibu nih paling bisa loh godain pengantin baru dan calon pengantin. Enggak kebayang besok Pak Shindu kayak apa cerewetnya ya?” timpal Bagas ikut terjun ke percakapan menggoda dua pasangan itu.
“Kalau yang sudah biasa cerewet kayak Shindu, biasanya jadi pendiam,” kata Adit.
“Oh begitu ya Pak,” kata Velove.