GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MINTA BANTUAN RUSTAM



Hari ini anaknya Shindu boleh pulang karena sudah sembuh, tetapi Ajeng dan Shindu malah sedikit terganggu. Mereka kasihan terhadap Santi. Kabar terakhir barusan dari ponselnya Santi mengabarkan semalam Santi pingsan tapi tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia diinfus di rumah. Yang menulis pesan adalah Ajat tentunya bukan Santi. Dikirim juga foto Santi dengan kondisi di infus.


Sehabis mengantar anak-anak sekolah Dinda langsung pergi ke rumah Santi berdua dengan Adit. Adit memang sengaja mengikuti mobil anak-anak sehingga ketika anak-anak sudah masuk kelas masing-masing Adit dan Dinda pergi menggunakan mobil mereka, tidak menggunakan mobil anak-anak.


Tentu Dinda was-was Santi sedang hamil anak pertama sudah stres. Dinda jadi ingat saat dia hamil dulu. Dokter melarangnya stres karena akan berakibat sangat buruk buat kesehatan janin dan ibunya.


“Ajeng kamu konsentrasi pada Baim dulu. Pak Shindu tolong kalau Baim sudah bisa ditinggal, cek kantor sebentar. Nanti balik lagi ke rumah tidak apa-apa,” kata Dinda memberi perintah pada Ajeng dan Shindu.


“Wika, kamu boleh gantian menengok Santi sore. Nanti sehabis pulang kerja saja,” pesan Dinda kepada Wika.


Dinda pun mengabari Puspa dan Velove mengenai kondisi Santi. Tentu saja Velove kaget soal penculikan Farouq yang baru dia dengar. Karena Bagas belum cerita dan Bagas memang belum tahu kalau anaknya Santi diculik kemarin. Yang tahu baru five little star.


“Kamu harus makan bukan untuk kamu. Kalau kamu tidak mau makan nggak apa-apa. Tapi kamu makan buat kasih Dedek,” nasihat Dinda pada Santi pagi ini.


Dinda menerangkan bahwa perkembangan janin tak bisa diulang, jadi tak boleh sampai dia kekurangan asupan gizi karena akibatnya sampai dia dewasa kelak.


“Ini saya bawakan bubur sumsum hangat,” kata Dinda mengeluarkan termos kecil berisi bubur yang dia buat sendiri.


“Saya suapi atau bagaimana?” tanya Dinda.


Santi yang sejak kemarin hanya diam mau tak mau diajak bicara seperti itu oleh Dinda dia pun menjawab.


“Oke saya siapkan,” kata Dinda. Dia membantu Santi duduk bersandar bantal. Lalu dia tuang bubur dan gulanya ke dalam mangkok. Tentu tidak semua. Hanya sedikit bubur dan gula karena Dinda tahu Santi tak akan mungkin makan banyak. Yang penting yang disiapkan habis dulu. Nanti bisa tambah. Kalau semua dituang malah jadi tidak enak dan jadi dingin. Dinda langsung menutup lagi termos kecilnya agar bubur tetap hangat.


“Ini dihabiskan. Saya hanya ambilkan kamu sedikit. Nanti kamu makan lagi sisanya. Itu akan tetap hangat sampai nanti malam kok karena memang gelasnya itu tahan panas,” kata Dinda lagi.


Ibunya Santi dan mamanya Ajat memperhatikan Santi mau makan bubur yang dibawakan oleh bosnya. Padahal sejak tadi pagi ada bubur ayam juga nasi dan lauknya. Santi sama sekali tak mau makan.


Ajat meneteskan air mata melihat istrinya makan. Benar-benar dia sangat mencintai Santi sepenuh hati. Memang baru Santi perempuan yang dia cintai. Dulu dengan mamanya Mischa tak ada cinta, dia hanya terjebak. Begitu pun dengan ibunya Farouq hanya pelarian dan untuk kepuasan saja malah jadinya dia dijebak dengan kehamilan.


“Belum ada info?” tanya Adit yang mengikuti perkembangan kasus ini sejak semalam. Juga Ilham dan Fahrul. Hanya Shindu yang tak terlibat emosi dengan kasus ini karena dia sedang sibuk dengan Baim. Ajat dan Adit bingung sampai saat ini belum ada permintaan tebusan.


Semalam Ajat telepon polisi katanya mereka sudah mendatangi rumah mantan mertuanya Ajat sesuai dengan alamat yang Ajat berikan, tapi rumah tersebut sudah kosong sejak satu bulan lalu. Itu membuat polisi kembali melacak alamat baru karena di rumah lama tak ada siapa pun. Polisi harus benar-benar mencari keberadaan mantan ibu mertuanya Ajat tersebut.


“Kamu serius?” tanya Rustam pamannya Wiwik yang waktu di cafe juga diundang oleh Ajat.


“Serius Paman. Rekaman CCTV-nya ada. Dan saya sudah melaporkan polisi. Semalam polisi ke alamat rumah ibunya tapi katanya rumah tersebut sudah kosong. Saya minta bantuan Paman untuk cari nomor telepon mereka juga alamat tempat tinggal terbaru. Juga tanya-tanya ke semua saudara kali aja ada yang tahu. Tetapi ingatkan pada semua keluarga, siapa pun yang membantu menampung mereka dalam pelarian akan kena pasal oleh polisi membantu tindak pidana penculikan. Jadi diingat-ingat Paman, kasih tahu semua orang yang menampung ibunya Wiwik juga Wiwik, akan kena akibat tindakan hukum,” kata Ajat.


Rustam dan Marini benar-benar tak percaya kalau sepupunya seperti itu. Ajat sudah mengirimkan potongan wajah ibu mertua saat sedang di sekolah Farouq, tentu saja dia akan menyebarkan dan tanya-tanya kepada seluruh keluarganya agar Farouq bisa segera ditemukan.