GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MENCARI ORANG YANG BISA SETIA



“Papi sudah makan siang kok barusan, sama dua teman kebetulan lewat sini. Papi pikir kita bisa pulang bareng,” jawab Ajat.


“Tapi aku bawa mobil Pi,” kata Santi. Sejak belum menikah dengan Ajat, Santi sudah punya mobil. Tanpa harta Ajat, dia bukan gadis yang kekurangan uang.


“Ya nggak apa-apa, Papi yang ikut mobil kamu. Mobil Papi barusan sudah dibawa pulang oleh sopir,” jawab Ajat dengan tersenyum manis. Dulu dengan dua istri sebelumnya, mana mau dia mengalah. Dan kedua istrinya juga hanya hura-hura menghabiskan uang tanpa mengurus anak.


Santi di sela pekerjaan selalu memantau anak-anak di rumah dan tiba di rumah sepulang kerja yang dilakukan adalah menemui anak-anak, menemani mereka belajar juga makan malam hingga tidur.


“Oh ya sudah, ayo pulang. Ini kebetulan kami baru aja selesai,” kata Santi membereskan berkas miliknya.


“Papi nggak ganggu kan?” tanya Ajat basa basi, padahal dia mendatangi istrinya ketika melihat pertemuan memang sudah usai.


“Enggak, kami memang sudah selesai. Memang sudah mau pulang. Bu Dinda dari tadi sudah ditelepon para pacarnya,” jawab Santi.


Dinda tertawa mendengarnya, karena sejak tadi memang Ghaidan bolak-balik menghubunginya karena dia punya bisul di kaki yang sangat membuat lelaki kecil itu tersiksa.


“Saya dan Wika duluan ya,” kata Dinda. Wika juga bawa mobil sendiri.


“Iya Bu,” kata Santi.


“Jangan lupa, saya cuma kasih waktu kamu satu minggu untuk membuktikan hasil kerja awal kalian,” pesan Dinda sebelum meninggalkan Santi.


“Siap Bu,” jawab Santi dan Wika. Dinda dan Wika pun bersalaman dengan Ajat.


“Papi tadi makan siang di mana?” tanya Santi saat mereka telah tiba di mobilnya.


“Tadi Papi makan di cafe sebelah,” jawab Ajat jujur.


“Rekanan yang Mami nggak suka,” Ajat jujur, memang ada satu orang perempuan yang Santi tak suka karena memang jelas-jelas dia bukan ingin bekerja sama dengan Ajat melainkan ingin tidur dengan Ajat.


“Itu sebabnya Papi minta bertiga dengan orang yang membenci perempuan itu, sehingga mereka nggak mungkin kan kerjasama untuk bikin Papi terbius lalu tidur bersama.” Ajat berpikir semua yang dia kerjakan akan aman.


“Kalau untuk urusan kerjasama jahat, tidak ada kata tidak mungkin Pi. Musuh bisa aja bekerja sama untuk mencari keuntungan lebih besar,” kata Santi.


“Sebaiknya bukan mengajak orang yang seperti itu sebagai tamengnya Papi. Tapi Papi ngajak anak buah Papi yang bisa dipercaya untuk berada di belakang Papi, sehingga kalau terjadi apa-apa dia bisa menolong Papi,” kata Santi lugas.


“Eh iya juga ya Mi, bisa aja mereka berkomplot, yang penting sama-sama dapat untung atau ada kompensasi besar pasti orang mau bekerja sama.”


“Itulah Pi. Jangan terlalu naif bahwa perempuan yang benci dengan ular itu tidak akan mungkin bekerja sama. Mungkin satu kali ini Papi aman karena mereka memang belum ada perjanjian kerjasama. Tapi begitu mereka bekerja sama, kekuatan mereka akan dahsyat. Dan  Papi tidak bisa membendungnya. Satu-satunya jalan Papi harus ada satu backup orang di belakang Papi yang Papi pegang ekornya.”


“Misalnya bagaimana Mi?”


“Misal Papi bawa satu office boy, atau staff ADM yang papi pegang dapurnya. Jadi kalau dia tidak membantu Papi dia kolaps, misalnya ibunya tak ada yang bantu pengobatan atau adiknya atau siapanya tak tertolong.”


“Kita juga harus licik, tapi bukan licik yang kotor. Pokoknya Papi pegang ekornya dia, sehingga mau nggak mau dia pasti setia dengan Papi,” kata Santi.


Memang kalau buat licik Santi jago. Tapi tentu saja licik dalam hal positif. Dalam dunia bisnis kalau hanya polos bersih tak mungkin bisa bertahan. Orang licik harus dibalas dengan kelicikan, tapi kelicikan yang bersih. Itu maksud Santi bahwa Ajat harus pegang ekornya orang yang bisa dia percaya.


“Baik, Papi akan cari orang seperti itu yang bisa kita kendalikan dalam tanda petik Mi.” Ajat akhirnya mengerti maksud istrinya. Dari ketiga istrinya, memang hanya dengan Santi Ajat bisa diskusi dalam hal apa pun. Dari soal mendidik anak, agama, pekerjaan, sopan santun pada mertua dan semuanya. Baru dengan Santi Ajat merasa memiliki istri. Itu yang membuat Ajat sangat menyesal Santi tak akan pernah punya anak darinya karena dia telah salah langkah.


“Iya banyak kok hal yang seperti itu, jadi dia mau tidak mau harus setia kepada kita karena kartu truffnya ada di tangan kita,” kata Santi lagi.