
“Jadi kami ke sananya kalau hari Sabtu dan hari Minggu saja Ma?” tanya Icha saat diberitahu mamanya baru saja mengantar papa dan opung mereka ke rumah Gultom.
“Ya biar waktu kalian tidak terganggu. Kalau hanya setiap pulang sekolah tentu akan repot. Selain repot di ongkos juga repot di waktu. Karena waktu berkunjung hanya sebentar kan? Juga kalian jadi ke paksa buang uang banyak untuk bolak-balik rumah papa kalian. Kalau kalian mau kalian bisa menginap di sana sejak hari Jumat pulang sekolah sampai hari Minggu siang.”
“Hari Minggu sore kalian harus sudah di rumah. Karena persiapan untuk sekolah hari Senin,” jelas Ambar.
“Lalu nanti kalau ada acara di keluarga besar Alkav bagaimana Ma?” kata Tarida yang tak ingin absent dalam kegiatan keluarga besar Alkavta karena sudah merasakan kehangatan kasih sayang keluarga besar itu.
“Kalau ada acara di sana pasti Mama akan kasih tahu,” jawab Sondang. Dia tersenyum melihat putri sulungnya merasa nyaman dengan lingkungan keluarga teman kantornya. Padahal sejak lama Gultom jadi bagian keluarga Alkavta, tapi mereka tak pernah dilibatkan sehingga baru baru saja anak-anak ikut masuk lingkungan itu.
“Kan biasanya opung juga ikut Kak. Pastilah kita akan diberitahu,” jawab Icha.
“Kalau yang hanya keluarga kecil seperti kemarin, bukan yang menginap, kan opung enggak diajak,” balas Tarida .
“Kalau family ghatering yang menginap memang opung diajak. Tapi kalau kegiatan harian seperti program masak atau makan siang, opung tidak ikut, tapi kalian akan Mama beritahu,” jelas Sondang.
“Apa opung akan selamanya tinggal bersama papa?” tanya Tarida .
“Mama berharap sih begitu. Tapi ya terserah opung lah. Karena sebenarnya opung memang lebih pantas tinggal bersama putranya kan? Kalau Mama kan bukan anak kandungnya,” begitu yang Tarida, Theresia dan Sondang bicarakan tadi di mobil sepulang sekolah.
“Kalau opung ada di sana tentu perilaku papamu untuk mendapatkan tante baru sedikit teredam.”
“Memang papa akan punya tante baru?” tanya Icha.
Itu tadi yang Sondang katakan tapi dia memang belum mengatakan soal hal lain. Dia hanya memberi warning pada anak-anak akan ada perempuan baru dalam kehidupan Gultom.
“Ya udah sih Ma. Kalau memang papa memilih perempuan itu, kami legowo kok. Biarin saja. Artinya memang kita akan berpisah selamanya. Karena kami sudah kasih tahu batasan maaf dari kami itu hanya satu kali kemarin. Kalau kembali terulang ya silakan,” kata Tarida santai.
“Ya coba saja kalian hari Jumat nanti tinggal di sana sampai hari Minggu siang. Pulang sekolah hari Jumat nanti Mama akan pesankan taksi online dan hari Minggu siang kalian lapor saja ke Mama nanti mama pesankan lagi taksi online dari rumah.”
Mereka telah tiba di rumah, sesudah itu sehabis mandi baru Sondang menjawab pesan dari opung tadi. Memang garis besarnya Sondang sudah memberitahu, tapi tak mendetail.
Sondang tidak memberitahu opung bahwa anak-anak akan menginap hari Jumat sampai hari Minggu, karena dia tidak berani menjanjikan apakah anak-anaknya benar berminat di sana atau tidak. Takutnya anak-anak berubah niat.
Ternyata Sondang salah kira. Tarida dan Icha sangat berniat menginap di rumah papanya. Bukan karena ingin menengok papanya apalagi menengok opung. Mereka ingin melihat tante baru!
Sehabis mandi Sondang langsung memasukkan satu dus besar baju dan barang-barang milik inang, lalu dia lakban dan dia kirim pakai ojek online. Dia sudah tahu alamat rumah Gultom jadi bisa memesan ojek online untuk mengantar barang.
Besok barang lainnya akan dia kirim secara bertahap. Tadi pagi juga dia sudah membawa 3 kardus waktu dia ke rumah sakit. Jadi barang-barang opung memang sudah mulai dipindahkan ke rumahnya Gultom.
“Wah jadi merepotkan Pak,” kata Gultom saat pak RT dan beberapa bapak berkenan menengoknya malam ini.
“Sebenarnya Bapak ini sakit apa?” tanya sekretaris RT.