
Semua di luar ruang ICU menyambut Santi, Ajat dan Mischa dengan sedih. Mereka tahu bahwa Farouq telah meninggal kalau mereka bertiga sudah keluar seperti itu.
“Abang langsung berangkat ke rumah ngurusin semuanya ya,” kata Adit pada Ajat. Dia langsung tahu posisi.
“Iya Bang. Sama mama, papa, ibu, dan ayah saja. Takutnya kalau Abang sendiri orang di rumah mau pun lingkungan nggak kenal. Mereka bingung dan mengira hal yang tak baik.
“Iya nggak apa-apa. Kamu urus di sini sama Santi. Mischa aku bawa saj biar kamu lebih leluasa dan Mischa juga istirahat,” kata Dinda.
“Ayo Kakak ikut Bunda dulu yuk. Biar Mami sama Papi urus adik. Kita sambut di rumah ya,” kata Dinda pada Mischa yang masih syok.
Mischa mengangguk. Dia tidak mau membuat maminya tambah sedih.
“Mami tenang. Aku sama Bunda kok. Aku nunggu adik di rumah ya,” kata Mischa pada maminya.
“Iya Sayang. Kamu tunggu adik di rumah. Papi sama Mami urus adik di sini.” balas Santi tegar. Dia peluk putri kecilnya lalu dia kecup keningnya.
”Ma, kalau bisa Mama izin sehingga kita berangkat ke rumah duka bareng mereka,” ucap Halimi pada istrinya.
“Pasti bisa. Lebih-lebih ini orang meninggal. Ya sudah aku izin dulu. Papa nunggu di mobil saja,” kata istri Halimi. Mereka juga mengerti kalau ada urusan duka pasti atasan akan memberi izin dengan mudah.
Dinda langsung menghubungi five little star untuk menuju ke lokasi bila siap. Dia juga minta Shindu menuliskan berita duka cita di email semua karyawan.
Hari itu semua karyawan perusahaan dipulangkan setengah hari sehingga sehabis istirahat makan siang mereka semua bisa datang ke rumah duka atau besok-besok juga perusahaan libur karena besok adalah hari pemakamannya Farouq.
Eddy yang sejak tadi sudah datang tentu sangat geram karena Farouq menjadi korban dari ambisi ibu kandung dan paman kandungnya. Dia minta kepada detektif memberitahu kondisi tersebut pada polisi dan menekankan nanti minta hukuman terberat buat kedua orang tersebut.
“Ibu Ponirah, Ibu ikut dengan Pak Adit dan Bu Dinda saja ya,” kata Santi.
“Iya Bu, nggak apa-apa saya ikut ke mana saja.”
“Ikut ke mobilnya Pak Eddy saja. Saya pakai mobil kecil, nggak bisa lebih dari dua orang. ini saja saya pangku Mischa,” kata Dinda.
“Oh iya saya lupa Ibu pakai mobil sport ya. Oke titipin saja ke Pak Eddy. Takutnya Pak Eddy juga nggak tahu kalau Ibu Ponirah ikut.”
“Sudah kamu tenang saja. Urusan itu biar Abang yang urus,” kata Adit. Dia lupa bicara menggunakan kata Abang pada Santi. Padahal biasanya Abang hanya untuk Ajat saja.
“Ayo bu Ponirah sama saya. Saya antar ke papa saya biar ikut mobil papa saya,” kata Adit.
“Pa, ini Ibu Ponirah yang menolong Farouq. Waktu itu kita sudah bertemu di kantor polisi tapi belum berkenalan,” ucap Adit.
“Biarin dia ikut ke mobil Papa untuk ikut ke rumah duka ya Pa, aku bawa Mischa mobilku kan mobil kecil,” kata Adit.
“Mischa kalau mau di mobil Papa nggak apa-apa,” jawab Eddy.
“Ya nggak mungkin lah dia di mobil papa. Dia kan sama Dinda.” balas Adit.
“Ya kita tukeran, Dinda di mobil Papa. Papa di mobil kamu. Kasihan Mischa kalau harus dipangku sepanjang jalan,” saran Adit.
“Oh ya sudah begitu saja juga nggak apa-apa. Biar aku yang di mobil Papa. Kasihan juga Pak Pujo kan nggak tahu jalan,” kata Dinda.
“Ya sudah ayo berangkat,” Dinda akhirnya naik ke mobilnya Eddy. Eddy naik ke mobilnya Adit.