
“Ayah nanti jangan pulang terlalu sore ya,” pinta Gathbiyya.
“Kenapa Sayang?” tanya Adit.
“Kemarin aku bilang ke Kakek, sudah lama nggak bikin barbeque. Jadi hari ini kita akan bikin barbeque. Kami anak-anak yang mempersiapkan semuanya. Kami minta Ayah sama Bunda jangan pulang terlalu sore jadi nggak capek buat acara bebakaran,” ucap Biyya.
Dinda bingung dia sebenarnya sore sehabis pulang kerja mau ke tempatnya Santi, tapi mendengar anak-anak seperti ini tentu dia dan Adit tak mau ngecewain putra dan putri mereka.
“Insya Allah Bunda sama Ayah pulangnya cepet kok,” jawab Dinda cepat.
“Yah kita ke rumah sakitnya pagi saja ya. Jadi dari rumah sakit kita kerja lalu pulang kantornya lebih cepat langsung ke rumah,” kata Dinda memutuskan perubahan jadwal.
“Iya Bun. Kalau begitu Ayah ngikutin mobil Bunda sama anak-anak pagi ini,” Adit setuju. Dia akan menemani Dinda mengantar anak-anak dulu dan dari sekolah mereka berdua akan langsung ke rumah sakit.
“Ya begitu aja. Kita rubah jadwal. Ayah ada pertemuan pagi?”
“Nggak. Nggak ada pertemuan pagi. Lagian nanti aku bilang sama staff kalau kita ke rumah sakit dulu baru ke kantor,” jawab Adit menerima sarapan yang Dinda siapkan.
“Ibu ada kesulitan nggak?” tanya Ilham pada Sondang.
“Nggak ada Pak. Kalau ada kesulitan saya pasti akan tanya Bapak agar tidak terjadi kesalahan,” jawab Sondang.
“Baiklah. Hari ini saya pergi lagi ya,” Ilham memberitahu akan ke rumah sakit lalu ke kantor cabang Santi. Dia dan Fahrul serta Wika sudah berjanji bergiliran memantau cabang teman mereka yang sedang sakit. Kalau cabang Ajeng kemarin di bantu Santi dan Shindu saja saat Baim sakit. Sekarang Ajeng belum bisa membalas menjaga cabang Santi karena dia juga masih belum aktif kerja sehubungan kesehatan putranya.
“Belum. Dari polisi belum ada kabar. Dari keluarganya katanya ada yang bilang suruh hubungi kerabat yang di Majalengka atau di Ciranjang. Sedang Pak Adit langsung menghubungi detektif langganannya untuk mencari keberadaan Farouq.”
“Pak Adit sama Bu Dinda itu benar-benar seperti orang tua kita semua ya Pak. Mengayomi semua karyawannya juga keluarga karyawan.”
“Iya. Saya nggak ngerti terbuat dari apa hatinya Bu Dinda dan Pak Eddy. Kalau Pak Adit itu tergantung siapa di sebelahnya. Kalau bukan karena Bu Dinda dia tidak seperti itu. Jadi yang baik dan sangat pengertian itu Pak Eddy dan Bu Dinda,” kata Ilham.
“Bapak hari ini sama Puspa?” kata Sondang. Terhadap Puspa karena bergaul di luar maka Sondang tidak menyebut ibu kecuali kalau berada berhadapan langsung di kantor karena jabatan Puspa di kantor tentu istri dari kepala cabang, baru Sondanga akan menyebut Puspa dengan sebutan bu.
“Hari ini nggak. Puspa lagi punya kegiatan banyak. Jadi dia nggak ikut. Kemarin pagi Puspa yang maksa agar Santi dibawa ke rumah sakit. Kebetulan kemarin Puspa datang sama sama Wika. Kami langsung ketemu pak Bagas dan Velove di rumah sakit,” kata Ilham.
“Hari ini kan saya juga jaga di kantor Santi. Enggak mungkin Puspa ikut saya,” jawab Ilham lagi.
“Iya Pak, salam saja buat ibu Santi dan Pak Ajat juga Bu Dinda. Saya jaga gawang saja dulu. Nanti gantian sama Bapak menjenguk bu Santinya,” kata Sondang. Dia juga tahu tidak semua karyawan boleh datang ke rumah sakit. Kalau dia tentu boleh datang karena dia kepala divisi keuangan.
“Nanti akan saya sampaikan. Saya juga jadi kepikiran kalau sampai punya mantan seperti itu. Serem juga ya.” ucap Ilham.
“Kalau perawatannya lebih bagus dari Bu Santi nggak apa-apa Pak. Yang saya dengar anak itu sudah dibuang oleh ibunya sejak berumur 10 bulan tanpa meninggalkan pesan apa pun. Sekarang begitu sudah kelas 3 SD main ambil saja,” balas Sondang.
“Kalau denger cerita orang-orang serem banget kok Bu. Bahkan katanya Pak Ajat pun membenci kedua anaknya sebelum ada Bu Santi. Karena Pak Ajat berpikir anak-anaknya pembawa sial saja. Pak Ajat tak tahu sekolah anaknya atau apa pun. Semua sama sekali dia tak tahu. Ulang tahun anal-anaknya saja nggak tahu. Semua di jungkir balikkan oleh Bu Santi. Itu sebabnya sekarang pak Ajat ingin punya anak dengan Bu Santi. Tapi kondisinya malah seperti ini, sedang hamil malah stres.”
“Semoga kehamilan Bu Santi aman dan bayinya tetap sehat,” jawab Sondang.