GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KRISAN ( KRITIK DAN SARAN ) SAAT SARAPAN PAGI



“Semuanya seru kalau menurut aku, cuma sedihnya nggak ada kolam renangnya,” kata Biyya.


“Jadi besok-besok harusnya yang ada kolam renangnya,” usul princess nya ALKAV.


“Itu kan villa kita sendiri, bukan sewa. Memang villa kita nggak ada kolam renangnya,” kata Iban menimpali protesnya Biyya soal lokasi liburan kemarin.


“Kemarin kami malah mancing tapi bukan di villa jadi kita pergi dulu. Kalau kamu mau ya kita bisa ikut yang pemancingan itu,” kata Fari


“Enggak, aku enggak mau mancing. Maksud aku, kita menginap di villa yang ada kolam renangnya jadi kita bisa berenang.”


“Kamu nggak tahu Bogor itu daerah hujan percuma juga ada kolam renangnya kalau hujan terus dingin tahu.” kata Ghazanfar.


“Lagian kalau kolam renang, ngapain harus di villa di rumah juga ada kolam renang,” balas Ghaylan.


“Beda lah berenang di rumah sama berenang pada saat liburan,” jawab Gathbiyya tak mau kalah.


“Ya sudah nanti itu Ayah catat. Lain kali kita sewa villa yang ada kolam renangnya. Itu baru wacana kan belum tentu dikabulkan ini kan harus kita catat semuanya,” kata Adit menengahi perdebatan soal kolam renang.


“Usulan yang lainnya?” tanya Dinda.


“Kemarin menu bebakarannya kurang, masa menunya gitu-gitu aja. Sosis bakar, ayam bakar, sama udang bakar,” ungkap Ghaylan.


“Jadi apa yang mau kamu tambahkan di menu bebakaran itu? Jagung? Ubi atau singkong misalnya?” tanya Dinda. Karena kalau bagian makanan urusannya Dinda.


“Aku kepengennya yang benar-benar pure ikan segar,” balas Ghaylan.


“Itu sudah ada di pikiran Kakek, tiga hari lagi Kakek akan bawa kalian ke muara karang kita makan ikan bakar segar di sana.” Eddy memberitahu rencananya.


“Tiga hari lagi kan ulang tahun Ayah,” ungkap Gathbiyya.


Adit merasa speechless ketika mengetahui Gathbiyya dan Eddy malah ingat tentang ulang tahunnya dan malah mereka akan merayakan dengan makan ikan bakar di muara karang.


“Oke menu ikan bakar akan Bunda cantumin di list, usulan yang lain bagaimana?” tanya Dinda.


Eddy kadang bingung sendiri melihat keluarga anaknya. Anak umur 5 mendekati 6 tahun sudah diajak diskusi dan mereka bisa nyambung. Ini benar-benar yang tidak pernah dia rasakan dulu saat Adit masih kecil. Bahkan Adit SMP saja dia dan Ina masih menganggap Adit tak bisa apa-apa sama sekali dan tidak pernah mau mendengarkan apa perkataan Adit apa keinginan Adit. Itulah kesalahan yang dia lakukan. Pola pikirnya, pola asuhnya masih konvensional seperti zaman orang tuanya mendidik mereka. Beda dengan Dinda dan Adit yang sengaja open mind anak-anak supaya mereka benar-benar mengeluarkan pendapatnya sejak dini.


“Kita tidak antisipasi soal hujan,” kata Ghifari.


“Ingat Bogor itu kota hujan, kalau kita menyewa villa yang ada kolam renangnya seperti usulan Biyya tadi kita harus antisipasi itu. Kemarin waktu kami mancing kita pernah satu harian itu nggak bisa keluar karena hujan deras.” kata Fari lagi.


“Maksud kamu antisipasinya dengan cara apa?” pancing Dinda.


“Ya kita antisipasi bila saat kita tidur, hujan turun dengan deras.”


“Oke soal itu biar Ayah yang jawab. Tenda kita itu tak mungkin bocor karena terbuat dari yang terbaik. Bawahnya pun dilapisi oleh plastik terbaik sehingga nggak bocor itu antisipasi pertama.”


“Antisipasi kedua kami sudah menyiapkan banyak jas hujan karena Ayah sengaja menyewa tenda berikut jas hujan baik untuk orang dewasa maupun anak-anak jadi sudah ada antisipasi itu.”


“Dan antisipasi soal hujan dari Bunda adalah dia membawa arang dan kayu bakar dari Jakarta karena takutnya arang dan kayu bakar dari sana basah kena hujan.”


“Selain itu bunda sama Ayah juga sudah antisipasi soal menu kemarin. Kami memang membawa udang besar-besar itu dari Jakarta karena takutnya nggak dapat dari supermarket yang kita datangi di sana. Begitu pun sosis besar dan ayamnya juga sudah dimasak setengah matang di sini di sana tinggal bakar itu antisipasi dari kami.”


“Oh berarti semuanya sudah dipersiapkan ya,” kata Ghazanfar.


“Sedapatnya kami antisipasi lah nggak semuanya tentu masih ada beberapa yang mungkin terlewat,” balas Adit.