GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
YET AND HELO



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



 Adit memarkirkan mobil di halaman ruko, saat itu masih banyak pembeli. Adit sengaja lewat tangga luar agar tak menjadi fokus pandangan pembeli dan karyawan. Sebelum naik Adit sengaja cuci tangan dan wajah agar saat bertemu kedua putranya sudah bersih. Tadi dari rumah dia bersih, tapi kan turun di supermarket dan bisa saja banyak kuman hinggap di tangan dan pakaiannya.



Adit membawa semua belanjaan nya ke atas. Hari belum magrib ketika dia tiba di ruko tempat tinggal Dinda.



“Aya,” sapa Ghibran melihat kedatangan Adit, membuat Ghifari menoleh dan langsung berlari menuju sosok ayah mereka.



“Assalamu’alaykum.” sapa Adit dan Dinda langsung menjawab salam itu.



Ghibran dan Ghifari langsung berlari menghampiri ayahnya mereka memeluk dua kaki Adit.



\*‘Rupanya ini yang dirasakan para ayah ketika lelah tiba di rumah sehabis bekerja. Disambut oleh senyum istri dan pelukan mesra anak-anak membuat hilang semua lelah,’ \*pikir Adit melihat kedua putranya memeluk kakinya.



Adit mengangkat mereka dan menciumi keduanya dengan penuh cinta.



 Dinda merasa diabaikan dia mengambil semua belanjaan Adit dan bersiap ke dapur untuk menyiapkan makan malam bagi anak-anak dan mantan suaminya.



Kedua kembar sama sekali tak mempedulikan Dinda, mereka benar-benar sudah ter fokus pada Adit.



Adit yang baru tiba tak merasakan lelah tadi dia dibawa sudah cuci tangan lebih dulu juga cuci wajah jadi berani langsung memegang anak-anak. Adit  tahu sejak dulu Dinda melarang orang yang pulang bepergian langsung menggendong kedua putra mereka. Sekarang karena tahu Adit telah membersihkan tangan di bawah maka Dinda memperbolehkan Adit langsung bermain dengan anak-anak.



“Begini kalian bisa?” tanya Adit, dia mencoba mengatur ring plastik yang berwarna-warni di porosnya.



“Yet,”  kata Ghifari menunjukkan ring yang dia pegang pada ayahnya.




“Oh tadi Mamas bilang red, Ayah enggak mengerti. Yes its red,” jawab Adit yang baru mengerti apa yang Ghifari maksudkan.



‘What color is this?” Adit sekarang mengerti apa yang anak-anak mau dan katakan.



 ”Hello,” jawab Ghibran cepat.



“Yes  right, its yellow,” kata Adit.



“Bu,” saat ini Ghifari memberikan ring berwarna biru pada Adit



“Yes right, it’s blue,” sahut Adit. Sekarang dia makin pandai bahasa anak-anaknya.



Mereka  terus menyebutkan warna-warni yang dipegangnya. Adit berinteraksi dengan sangat senang. Dia bahagia mempunyai kesempatan bergaul dengan anak-anaknya juga membantu mereka untuk bermain dan belajar.



“Enough, done playing. Now time to eat,” Adinda meminta anak-anaknya mengembalikan mainan di keranjang. Nanti dia yang akan merapikan ke lemari mainan. Yang penting anak-anak diajarkan kerapihan. Habis main dibereskan. Adit kagum melihat pola didik Dinda yang tak pernah dia pikir bisa diterapkan pada anak usia dini.



Adit mengangkat Fari dan Iban dan membiarkan keduanya cuci tangan dengan bantuan kursi. Setelah itu Adit membantu mereka untuk duduk di high chair.



Ghibran dan Ghifari dipandu membaca basmalah oleh Dinda lalu mereka diberikan satu mangkok pure kentang dan sayuran juga fillet ikan yang dimasak oleh Dinda. Menu malam ini tanpa nasi karena karbohidrat nya sudah diganti oleh pure kentang.



Dinda membiarkan Adit mendampingi kedua putra mereka makan sedang dia sengaja membuat sambal kecap teman makan ikan bakar yang sedang dia masak sebagai menu makan malam mereka kali ini. Hanya nasi hangat ikan bakar dan kerupuk saja. Tak ada sayuran atau lauk lain. Untuk serat Dinda telah menyiapkan juice belimbing yang sudah dia buat siang sehabis tiba dari rumah Eddy tadi.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok