GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK ADA KESEPAKATAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Lama Lilis terdiam dia bingung mau bicara apa karena awalnya sebenarnya dia hanya iseng memberitahu ibunya Shalimah soal putrinya yang sudah diadopsi oleh Eddy



“Mbak bukannya adiknya Bu Ina ya?” sapa seorang perempuan pada Lilis saat bertemu di sebuah Cafe.



“Eh Ina mana? kamu siapa?” tanya Lilis.



“Ina istrinya pak Eddy. Saya istrinya sopir Pak Eddy. Dulu saya suka lihat Mbak kalau main ke rumah Pak Eddy,” kata perempuan tersebut.



“Owh kak Ina, iya saya adik sepupunya. Namamu siapa?” Tanya Lilis.



“Jasmine Mbak, nama saya Jasmine,” perempuan tersebut sekarang memakai nama Jasmine. Nama aslinya sudah tak pernah dia ekspos lagi.



“Sekarang ke mana suamimu? Mengapa dia berhenti kerja?” tanya Lilis.



“Suami saya meninggal ketika saya baru melahirkan,” jalas Jasmine.



“Maaf saya enggak tahu,” Kata Lilis.



“Kamu dulu jarang sih ke temu saya jadi saya enggak tahu.”



“Apa suami kamu yang tabrakan?” tanya Lilis.



“Iya Bu eh Mbak, saya istrinya,” jawab Jasmine.



“Oh mungkin kamu yang kak Ina sering sebut,” ucap Lilis tak sadar.



“Memang kenapa ibu Ina sering menyebut saya?” Jasmine tentu penasaran dan dia pun bertanya.



“Enggak sih, enggak nyebut kamu cuma dia bilang dia ngambil anak kamu di Panti Asuhan dan dia pelihara sebagai anak asuhnya. kak Ina sayang banget sama anak kamu itu karena kan anaknya dia cuma satu si Adit,” jelas Lilis.



“Jadi anak saya diambil sama ibu Ina?” tanya Jasmine tak percaya. Dia tak pernah ingat anak itu sama sekali. Buatnya anak itu bikin sial membuat dia tak produktif karena jarang yang mau bertransaksi dengan perempuan hamil.



“Iya karena kamu tinggalin aja di panti asuhan kan? Kamu enggak mau piara anak kamu,” jawab Lilis lagi.



“Saya bukan enggak mau pelihara Mbak. Saya kan miskin suami enggak ada lebih baik anak tersebut di Panti Asuhan. dia bisa makan cukup. Walaupun enggak berlebihan. Kalau sama saya bagaimana saya kerja cari makan? Saya kan harus buruh nyuci. Enggak mungkin saya bawa bayi. Kalau enggak kerja saya enggak bisa makan apalagi kasih makan dia,” kata Jasmine memelas. Padahal dia bekerja bukan buruh cuci.



“Saya harus bertahan hidup untuk itu anak tersebut. Saya titipi bukan saya enggak cinta atau enggak sayang, saya perantau. Tak punya keluarga. Keluarga suami tak ada yang mau saya titipi anak.” kata Jasmine lagi dia memberi alibi.



“Iya juga sih. Tapi dipelihara Bu Ina juga bagus kok. Anakmu dianggap seperti anak kandungnya, dianggap seperti Radit. Tidak dibedakan oleh Bu Ina,” kata Lilis.



“Wah hebat ya kalau gitu, saya bersyukur. Alhamdulillah,” kata Jasmine.



“Iya. Bahkan dia sudah jadi istri sirinya Radite, anaknya Bu Ina. Mereka punya satu anak,” ujar Lilis.




“Iya, anak itu mewarisi bagian dari perusahaan pak Eddy,” jawab Lilis.



Langsung saat itu juga otak nakalnya Jasmine bergerak. Jadi Jasmine dan Lilis tak ada kerja sama apa pun.



“Wah berarti hebat ya cucu saya, jadi pewaris perusahaan.”



Lilis sama sekali tidak ingat bahwa Shalimah sudah ada dalam penjara seperti yang Eddy bilang. Dia sama sekali enggak ingat yang dia tahu Dinda dan Radit sudah kembali hidup bahagia bersama. Sebelumnya Lilis pernah tahu kalau Dinda dan Adit pisah rumah karena ketahuan Adit tinggal dengan Shalimah.



“Tapi mengapa putri saya cuma jadi istri siri?” tanya Jasmine.



“Karena kan Adit punya istri. Jadi enggak mungkin dia nikahin adik angkatnya.”



“Tapi benar memang mereka punya anak?” tanya Jasmine memastikan.



“Benar, mereka punya anak dan Radit sangat menyayangi anak tersebut. Aku yakin pasti akan dapat warisan besar cucumu itu,” kata Lilis.



“Sekarang di mana putri saya?”



“Putrimu diberi nama Shalimah, tapi nggak tahu dia disimpan di mana oleh Adit. Namanya istri siri kan dia disembunyikan.”



“Kalau aku tanya ke sana bagaimana?” tanya Jasmine.



“Di sana yang berkuasa itu menantunya kak Eddy atau istrinya Adit. Semua dia yang menguasai sehingga akan sulit tanya ke dia.  Kamu kalau mau cari harusnya ya cari Adit jangan ke rumahnya.”



“Di mana? Saya mau cari Adit dimana kalau enggak ke rumahnya?”



“Coba kamu tanya langsung ke Pak Eddy, jangan ketemu sama anaknya. Karena kalau anaknya pasti menantunya akan sangat marah.”



“Saya enggak suka sama menantunya kak Eddy,” kata Lilis selanjutnya.



“Kenapa Mbak enggak suka sama menantu Pak Eddy?”



“Gara-gara dia saya enggak bisa dekati kak Eddy.”



“Sebelum dia ada tinggal di situ saya setiap pagi sampai malam datang dan kak Eddy baik sama saya. Tapi sejak menantunya tinggal waktu hamil itu membuat saya tersingkir.”



“Wah kalau begitu saya akan datangi biar Adit dan istrinya ribut kalau Adit dan istrinya ribut kan nanti anak saya yang menang,” kata Jasmine.



“Ya kamu gangguin aja rumah tangga mereka,” kata Lilis dengan senang. Tentu dia berharap Adit dan Dinda ribut sehingga kembali hengkang dari rumah itu dan dia bisa leluasa masuk rumah itu lagi.



“Kalau kamu gangguin kan mereka pecah jadi anak kamu yang jadi pemenangnya.” lanjut Lilis lagi.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.