GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MENCARI SOLUSI



“Sepertinya langkah yang kamu lakukan itu salah Dek,” kata Ghazanfar pada Ghaylan siang menjelang sore dalam diskusi di ruang tengah.


“Menurut aku seperti ini,” jawab Ghaylan mereka sedang diskusi tentang praktikum sciene di luar pelajaran sekolah.


“Rasanya langkahnya bukan seperti itu,” jawab Ghazanfar masih ngotot juga. Terlebih di tingkat resmi pendidikannya sudah lebih tinggi dari Ghaylan.


“Ayo coba kita cari referensi yang benar,” kata Ghaylan walaupun dia masih lebih rendah level pendidikan resminya tapi dia juga tak mau kalah.


“Abang coba deh ini menurut Abang bagaimana?” tanya Ghaylan pada Ghibran yang kebetulan datang.


“Kan tadi aku bilang kita cari referensi bukan tanya ke Abang,” protes Ghazanfar.


“Ya nggak apa-apa. Kita cari referensi juga tanya ke Abang. Nanti kalau Mas sudah selesai salat kita juga tanya ke Mas mana yang lebih benar. Namanya cari referensi atau kebenaran itu tidak harus baku ke satu orang semakin banyak input semakin bagus,” kata Ghaylan


“Ini tentang apa?” tanya Ghibran.


“Ini tentang penggabungan benda padat A dan benda padat B. Langkahnya menurut aku masing-masing dicairkan lebih dulu baru kita bikin emulsinya. Tapi kalau menurut Kak Ghaz, A dan B langsung dibikin emulsi tidak perlu dilarutkan lebih dahulu,” jelas Ghaylan pada abangnya.


Ghibran memang mengerti kesalahan ada di mana tapi dia ingin tahu latar belakang pemikiran masing-masing adiknya ini.


“Ghazanfar kenapa kamu ambil langkah tersebut? Jelaskan,” kata Ghibran.


Lalu secara rinci Ghazanfar pun menerangkan langkah yang diambil menurut versi dia.


“Benar Bang. Kalau menurut Abang bagaimana?”


“Kalian berdua tidak salah, tapi juga tidak benar. Kalau kita cari pembenaran dari semua pendapat itu tidak akan ketemu. Kita harus cari mana jawaban yang baku,” kata Ghibran.


“Benar langkah yang diambil oleh kalian masing-masing itu benar, tapi bukan yang terbaik. Dua benda padat ini memang bisa langsung kita leburkan dengan satu cairan untuk melarutkan keduanya seperti jalan yang Ghaz buat. Itu benar tapi tidak tepat! Tidak yang terbaik. Karena dua padat itu punya perbedaan toleransi terhadap zat pelarut, maka penggabungan saat masih padat tidak dianjurkan.”


“Pendapatnya Ghaylan dicairkan dulu masing-masing lalu digabungkan itu juga benar, tapi di perhitungannya salah sehingga hasil akhir tidak tepat.”


“Yang terbaik yang terbaik adalah cairkan dulu masing-masing dengan setengah cairan total. Kenapa? Karena nanti begitu digabung setengah cairan total benda padat A ditambah setengah cairan benda padat B menjadi satu keutuhan cairan AB.”


“Kalau yang Ghaylan lakukan 1 cairan A + 1 cairan B menjadi 2 cairan AB. Tentu kepekatannya berbeda,” Ghibran merinci mana yang seharusnya mereka ambil.


“Waduh aku salah,” kata Ghaylan. Mereka memang terbiasa mengakui kesalahan tanpa malu. Dan mereka akan langsung mengubah kesalahan itu.


“Ternyata aku juga salah ya,” kata Ghazanfar.


“Itulah gunanya kita diskusi. Jangan saling marah, jangan saling menuding kalau kita itu benar. Kita harus cari solusi yang terbaik. Dengan adanya diskusi kita akan dapat kebenaran yang hakiki,” kata Ghibran.


Tentu saja kedua adiknya mengerti. Belum diajarin sama Ghifari saja mereka sudah paham. Terlebih kalau Ghifari yang mengajarkan. Mereka pasti langsung mengerti  karena Ghifari memang lebih hebat di science tapi kalah di olahraga oleh Ghibran.


Semua orang pasti punya kelemahan dan punya kelebihan masing-masing itu yang Dinda terapkan yang lebih pasti dipupuk yang kurang ditambah agar bisa maksimal.