Re-system

Re-system
Bukan Ibu Kandung



"Kultivasi !?"


Reita dan Hanu tertegun sejenak, mereka kembali menatap Kai dengan pandangan aneh, "Kai apa maksudmu dengan Berkultivasi?"


Reita yang semakin penasaran mulai bertanya, Baru saja ia melihat Kai mengeluarkan api dari telapak tangan, mungkin itu juga bersangkutan dengan apa yang Kai ucapkan tadi.


Kai tidak menjawab, Ia mengangkat kedua jari tangannya dan masing-masing menujuk ke dahi Reita dan Hanu.


Cahaya keperakan bersinar dari ujung jari Kai dan langsung masuk kedalam kepala Rei dan Han. Mereka berdua terpana dengan pergantian peristiwa tersebuta dan merasakan aliran hangat mengalir dari ujung kepala sampai ujung Kaki.


Proses tersebut memakan waktu kurang lebih lima menit, Reita pertama kali membuka matanya, Sebuah sinar emas memancar dari tubuhnya.


"Kai- Tidak, Master Kai, terima kasih telah mengajariku cara berkultivasi."


Reita sedikit menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih kepada Zhukai, Cahaya perak yang keluar dari ujung jari Kai sebenarnya adalah sebuah pengetahuan tentang dasar-dasar Kultivasi, serta cara mengolah Kai dan berbagai teknik dasar lainnya.


Tak lama setelah itu Hanu juga membuka matanya, ia juga berterima kasih seperti Reita, kini pandangan kedua orang itu kepada Kai menjadi lebih hormat.


"Kalian berdua!! Aku akan marah jika kalian masih memperlakukanku seperti ini. Apa kalian lupa, kita bertiga adalah saudara, cukup panggil aku Kai Seperti biasa."


Kai mengungkapkan senyuman tulus dari susut mulutnya, Ia telah menganggap Rei dan Han sebagai saudara, jika mereka memperlakukan Kai seperti ini, berarti hubungan persaudaraan diantara mereka bertiga perlahan-lahan akan memudar.


"Ini.... !"


Kai menepuk bahu dua sahabatnya, dan memberi mereka masing-masing 10 Pil dasar untuk membentuk fondasi mereka sendiri.


Rei dan Han kemudian duduk lalu mengambil sikap Lotus dan masingmasing dari mereka berdua menelan satu Pil dasar yang Kai berikan.


Kai membantu mereka berdua dalam proses pemurnian Pil, dan juga membantu mereka membuka Laut Qi (Dantian) dan juga membuka titik-titik Meridian di setiap sel tubuh.


Setengah jam berlalu, akhirnya dua orang mulai membuka mata masing-masing. Mereka telah menghabiskan 10 Pil dasar, kini mereka berdua akhirnya memasuki Ranah pembentukan Qi.


Kai sudah tidak perlu memberitahu mereka lagi, dan mengeluarkan dua botol yang berisi Pil dari sakunya. Ia memberikan botol itu kepada Reita dan Hanu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang terlebih dulu, Sampai Jumpa."


Rei dan Han mengangguk kemudian saling menatap dan kembali pulang kerumah masing-masing.


Kai bergegas pulang dan sesekali melihat jam tangannya, Saat ini sudah Pukul 17.00, ini sudah senja dan jarak rumahnya hanya kurang dari 1 Kilometer lagi.


Kerumunan orang membanjiri jalanan, Kai menarik nafas dan hanya bisa memilih jalan lain untuk pulang.


**


Di rumah, Chiyan sedang duduk-duduk di ayunan yang berada di taman, Ia memandang matahari berwarna oranye yang berada di sisi barat.


Rambutnya yang panjang mulai terurai, dua bola mata yang menawan membuat dirinya saat ini terlihat terlalu memikat.


Sesat Pandangan matanya yang indah berubah menjadi tajam ketika melihat sesosok bayangan melintas di dalam halaman.


Ia mendengus dengan dingin sambil menatap siluet bayangan hitam, "Kenapa kau datang kesini, sudah ku beritahu padamu sebelumnya. Jangan pernah menggangu kehidupan ku dan anak ku!"


Mendengar kata Anakku keluar dari mulut Chiyan, bayangan itu mulai tertawa. "Kekeke... Chiyan oh Chiyan, bagaimana kamu bisa punya anak sedangkan kau masih seorang gadis murni (Perawan)."


Chiyan mengertakkan giginya dengan matanya melotot menatap bayangan hitam, Ia dengan berkata dengan penuh amarah, "Jadi apa!!.. Katakan, ada urusan apa kau kemari."


Bayangan hitam seketika melempar sebuah surat kearah Chiyan, setelah itu tubuhnya perlahan menghilang bercampur dengan malam yang mulai tiba.


Ketika Chiyan hendak membuka surat, sebuah suara familiar terdengar dari luar, "Ibu.. Aku pulang."


Chiyan kembali ke penampilannya yang biasa dengan senyuman manis di wajah cantiknya, "Kai sayang, ibu ada disini nak."


Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Kai segera berjalan kearah taman sambil membawa bungkusan di tangannya.


Sampai di taman, Kai melihat bayang-bayang Chiyan yang sangat mempesona seakan dirinya memiliki daya tari tersendiri yang membuat hati Kai menjadi berdetak cepat.


"Ah, Ibu... Ini aku membeli Nasi kota untuk makan malam."


Mulut Chiyan membentuk huruf O dan sambil tersenyum hangat meraih nasi kotak yang Kai berikan.


"Ibu, aku akan ganti baju terlebih dulu, Ibu bisa menunggu Kai di ruang makan. Udara disini dingin."


Kai segera melepas seragam sekolahnya ketika dirinya sudah memasuki kamar, Ia membersihkan diri dan berganti ke pakaian kasual yang biasanya ia pakai sehari-hari.


Menuruni tangga, Dia melihat ibunya yang masih duduk menunggunya makan bersama. Suasana diruang makan itu begitu hidup, Kai sesekali bercanda dengan ibunya dan juga kadang-kadang bertanya sesuatu.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, Kai pamit keluar pada ibunya dan berjanji kembali pada pukul 9.


Di kedalaman Hutan, masih terdengar suara lolongan binatang di tengah malam. Sebuah siluet hitam melintas sangat cepat seperti layaknya menyatu dengan angin.


Siluet itu akhirnya berhenti di pinggiran sungai dan mulai mengucapkan beberapa kata kuno.


Whuss!!


Hembusan angin berhembus di sekitar sungai, Sebuah dinding tipis mulai terlihat. Segera, Kai memasuki dinding tipis itu dan pemandangan di depannya seketika berubah.


Ia mengingat dengan jelas dimana desa klan fox berada, dengan kecepatan nya saat ini hanya perlu beberapa menit untuk sampai.


**


Desa Klan fox terlihat damai seperti biasanya, para anggota terlihat sedang melakukan kegiatan sendiri sedangkan Patriak Ming sedang bermeditasi di ruangannya.


Putrinya telah memberitahu dirinya bahwa Kai akan datang ke klan fox malam ini, ia juga menjadi bahagia bahwa hubungan antara putrinya dan juga dermawan klan rubah menjadi dekat.


Patriak Ming membuka mata ketika merasakan aura milik Kai yang berada tidak jauh dari klan fox berada.


"Ia akan sampai.."


Selesai mengucapkan kalimat itu, Patriak Ming berdiri dari tempat ia duduk dan pergi keluar untuk menyambut kedatangan Zhukai.


Putri dan istrinya saat ini sedang di dapur untuk menyiapkan makan malam.


Di depan pintu masuk desa klan fox, Kai berdiri diam seolah menunggu kedatangan seseorang. Setelah beberapa saat kemudian, Ia melihat Patriak Ming dan juga beberapa tetua klan fox berjalan kearahnya.


"Salam Paman Ming, salam para tetua." Kai menyapa Patriak Ming serta para tetua dengan sikap hormat, Kai sangat menghormati hubungan, Ia bisa kejam terhadap musuhnya tetapi ia juga bisa begitu lembut terhadap Wanita dan juga orang yang berhubungan baik dengannya.


"Kai muda tidak perlu bersikap sopan, ada urusan apa hingga Kai muda mengunjungi Pria tua ini."


"Paman Ming sebelum itu, bisakah anda mengumpulkan seluruh anggota klan fox, Aku ingin membahas hal yang cukup penting kepada kalian semua."


Patriak Ming mengangguk dan tanpa ragu-ragu memanggil seluruh anggota klan fox untuk berkumpul di alun-alun desa.