
Sekte Ashura, itu adalah sebuah sekte dimana mereka hanya merekrut para jenius yang ada di Alam Dewa.
Sekte Ashura sendiri menjadi kekuatan mutlak yang tidak dapat di singing oleh siapapun, dengan kepala sekte mereka adalah penguasa Alam Dewa sendiri, siapa orang bodoh yang berani menyinggung mereka.
Diatas pegunungan yang berjejer rapi, pundak tertinggi gunung itu, seorang pria duduk tepat di depan meja yang ada di halaman kediamannya.
Dia terlihat seperti menunggu kedatangan seseorang dilihat dari ekspresi nya yang penuh dengan kerinduan.
"Hahh, kapan Ayah datang kemari! Liontin ibu terus bercahaya, itu berarti ayah semakin dekat untuk datang kesini." Gumam Chi Zhen dengan sedikit sedih.
Tiba-tiba, seorang suara pria terdengar dari kejauhan. Ketika pria itu naik ke puncak gunung setelah menaiki banyaknya anak tangga, dia mengatur nafasnya dan menghela berat.
"Ketua sekte, ada yang ingin saya katakan." Ujar pria paruh baya itu dengan nafas terengah-engah.
"Tetua agung? Apa yang ingin kau katakan."
Seolah terkejut dengan kedatangannya, Chi Zhen bertanya sambil menyuruh Tetua agung untuk duduk di sampingnya.
"Masalah ini tentang kebangkitan aura misterius yang terjadi beberapa hari yang lalu. Semua murid yang kita kirim hilang tanpa jejak, apakah kepala sekte memiliki pendapat dibaliknya?"
Mendengar itu, Chi Zhen menatap Tetua agung untuk beberapa saat dan berfikir dengan rumit.
"Hmm, kurasa masalah ini lebih berbahaya dari yang aku duga. Kirim beberapa murid dalam dan berikan mereka artefak perpindahan." Ucap Chi Zhen dengan tegas.
"Baiklah ketua sekte, Aku akan menyuruh beberapa murid dalam lagi untuk mencari informasi tentang mereka."
Tetua Agung membungkuk hormat, berbalik dan segera pergi.
Sementara itu, Zhukai dan Chi Bingxin masih duduk diatas pedang besar yang melesat cepat menuju ke tempat dimana Sekte Ashura berada.
"Ayah, sekte kakak kurang dari 1 mil dari sini. Kita akan segera sampai." Ucap Chi Bingxin, sambil bermain-main dengan Xiao Hu yang ada di pangkuannya.
"Baiklah Bing'er, bersiap ayah akan menambah kecepatan."
Whusss!!
Pedang itu melesat sangat cepat, meskipun tekanan angin yang begitu besar menghantam Zhukai dan Chi Bingxin, mereka masih berdiri dengan kokoh tanpa goyah sedikitpun.
Akhirnya, setelah berselang tiga menit, Kai dan Chi Bingxin akhirnya sampai di sebuah pegunungan yang berjejer rapi.
Mereka tidak langsung pergi ke tempat Cho Zhen berasa karena terdapat lapisan pelindung disana yang membuat mereka berdua harus melewati pintu masuk gerbang.
Ketika Zhukai mendaratkan pedangnya, pedang itu seketika mengecil hingga berukuran seperti pedang pada umumnya.
Kai mengambil gagang pedang itu dan menyarungkan kedalam sarung pedang yang Kai genggam di tangan satunya.
Ia mendongak keatas dan berdecak takjub melihat betapa besarnya sekte Ashura.. Diantara puluhan gunung, ada satu gunung paling tinggi diantara yang lainnya.
Disitulah tempat putra berada.
"Ayah, lewat sini..." Chi Bingxin berjalan pada sebuah tangga yang ada di kaki gunung dengan Xiao Hu dalam pelukannya.
Karena Chi Bingxin pernah datang kesana beberapa kali untuk bertemu kakaknya, dia cukup akrab dengan jalan gunung.
Mereka berdua bertemu dengan beberapa murid yang memakai seragam sekte, itu berwarna hitam dengan motif tanduk di belakang punggung mereka.
"Berhenti! Kalian siapa, apa yang kalian lakukan disini." Seorang pria muda terlihat berumur 30 tahun-an, dengan rambut merah pendeknya menghentikan Zhukai dan Chi Bingxin.
Karena dia terpesona oleh kecantikan Chi Bingxin, dia bermaksud untuk berbicara dengannya.
"Pergi, kamu menghalangi jalanku." Chi Bingxin dengan marah berkata, karena dia ingin segera bertemu dengan kakaknya, ia sangat tidak senang dengan perlakuan orang itu.
"Cantik, ini adalah sekte Ashura. Jika itu aku, aku akan berfikir dua kali sebelum membuat masalah disini." Murid itu tertawa bangga memperlihatkan statusnya sebagai murid dalam.
Meski Kultivasinya masih di ranah Immortal God tahap Saint, dia sudah berani bersikap sombong seperti itu.
"Cantik.. Jika kamu menjadi wanitaku, aku akan membiarkan masalah ini berakhir."
Mendengar itu, tubuh Cho Bingxin memancarkan niat membunuh yang begitu pekat.
Mendengar itu saja, Kai sudah sangat marah dan berniat menghancurkan kepala pria itu menjadi kabut darah.
"Katakan sekali lagi atau akan kupotong jarimu." Chi Bingxin berkata dingin, sorot matanya tidak lagi menunjukkan kehangatan.
"Hahaha, biar kukatakan lagi.. Jadilah wanita–..."
Slashh!!
Puluhan tebasan keluar dari Chi Bingxin, itu seketika memotong sepuluh jadi pemuda itu, "Arghh... Sialan! Apa yang kau lakukan."
Murid dalam sekte Ashura itu berteriak marah, dia merintih kesakitan sambil mencoba menghentikan darahnya.
Dia kembali menatap Chi Bingxin dan berniat untuk menyerang, tetapi sebuah tekanan kuat terlebih dulu datang dan menghantam tubuh pria itu.
Beberapa tulang rusuknya patah dan murid dalam itu mengerang kesakitan. "Arghh, sial.."
Pria murid sekte Ashura itu mendongak keatas dan melihat bahwa Zhukai sedang menatapnya dengan mata merah penuh niat membunuh.
"Pergilah! Jika kau mengatakan sepatah lagi, maka selanjutnya kepalamu yang akan terpisah dari tubuhmu." Zhukai berkata dengan dingin tanpa ekspresi, tetapi mata merahnya terus menyala.
Pria itu seketika ketakutan, dia menggunakan sisa tenaga nya untuk berdiri dan berlari menjauh dari Zhukai dan Chi Bingxin.
"Ayah, kamu tidak perlu berbuat seperti itu, aku bisa mengurusnya sendiri." Ucap Chi Bingxin sedikit malu.
Selama hidupnya, selain kakak dan ibunya, tidak ada orang lain yang membantunya seperti itu.
"Putri bodoh, aku ayahmu tentu saja aku akan melindungimu."
Mereka berdua naik keatas tangga hingga tiba-tiba mata Chi Bingxin menyala, "Kakak, kamu datang.."
Di sebuah lapangan luas yang masih berada di tengah gunung, Zhukai dan Chi Bingxin melihat sosok pria dewasa dengan rambut coklat panjang mendarat dari atas.
Dia memiliki aura yang begitu dewasa dan juga tenang, berbanding terbalik dengan Chi Bingxin yang bersikap manja.
Chi Zhen berhenti berjalan, tubuhnya mematung ketika matanya menatap sosok pria dewasa di samping Cho Bingxin.
"A–Ayah ... Ini kamu."
Dia tidak tahu emosi apa yang dia alami saat ini, perasaan rindu dan bahagia bercampur aduk dalam pikirannya.
Hal yang sama juga Kai alami, dia sudah merasakan aura dari pria di depannya semenjak dia berada di Alam Kultivator.
Saat itu, dia sama sekali tidak tahu siapa pemilik dari aura itu karena ingatannya belum kembali.
Tetapi sekarang, dia tahu, bahwa orang yang telah melindunginya adalah putranya sendiri.
Cho Zhen dengan air mata mengucur di matanya berlari dan memeluk Zhukai dengan erat.
Chi Zhen yang biasanya bersikap tenang dan dewasa kini terlihat seperti anak kecil yang merindukan kasih sayang orang tuanya.
Dia tidak tahu sudah berapa lama dia memperlihatkan sisi seperti itu pada orang lain.
"Putraku, maafkan ayah.."
Melihat seberapa rindunya putranya kepadanya, Kai merasa hatinya sangat sakit seperti diiris oleh ribuan pisau tajam.
Dia memeluk erat putranya sambil terus meminta maaf. Air mata yang menetes membasahi pakaiannya, tetapi Kai tidak peduli dengan itu.
Setelah melepas rindu dengan putra dan putrinya, Zhukai akhirnya menghela nafas panjang.
Dia menatap keatas langit sambil membayangkan wajah istrinya, dia bergumam. "Zhi'er, aku akan menjaga mereka dengan baik sekarang."
***
Bersambung..