
Zhukai melepaskan pukulan yang sangat cepat, bahkan untuk para murid Klan Xia, mereka tidak bisa melihat kecepatan dari pukulan Zhukai.
Wajah tetua Klan yang melihat serangan datang padanya menjadi sangat pucat, dia mengucurkan banyak keringat dingin di tubuhnya.
Boomm!!
Tubuh tetua Klan itu meledak menjadi kabut darah, potongan tubuhnya yang tersisa beterbangan ke berbagai arah.
Bahkan setelah membunuh tetua Klan itu, Zhukai sama sekali belum puas. Dia sangat membenci seorang yang disebut sebagai pengkhianat.
Karena dia sudah pernah mengalaminya, Kai tidak akan pernah membiarkan orang yang ia sayangi mengalami rasa sakit seperti yang dia rasakan.
Saat Zhukai mengalihkan pandangannya pada murid Klan Xia, Xia Bing Yao dan Zi Lin Yue memelukmu dari belakang.
"Kai Gege, sudah hentikan itu ... Aku baik-baik saja." Xia Bing Yao berbisik dengan lembut.
Tak jauh berbeda, Zi Lin Yue juga mencoba berbagai hal untuk menenangkan Zhukai yang dipenuhi dengan amarah.
Hanya berselang sebentar, Zhukai akhirnya menjadi tenang.
Di menatap wajah Xia Bing Yao dan juga Zi Lin Yue kemudian tersenyum bahagia. "Maafkan aku karena menakuti kalian berdua, aku sudah tenang sekarang."
Kedua wanita itu bernafas lega, mereka berdua akhirnya melepaskan pelukannya dari Zhukai.
"Baiklah Kai Gege, ayo kita kedalam Klan." Xia Bing Yao tersenyum menawan, di menarik lengan Zhukai dan berlari masuk kedalam Klan Xia.
Karena saat ini mereka hanya berada di perbatasan Klan, itu membuat tempat itu sangat sepi dan dipenuhi oleh binatang buas.
Setelah Siluet Zhukai dan tiga gadis lainnya hilang dari hadapan murid Klan Xia, puluhan murid itu terjatuh lemas dengan wajah mereka yang berubah pucat.
"A–Apa kalian melihatnya!? P–Pria itu membunuh tetua hanya dalam satu serangan ... Sebenarnya siapa dia." Murid senior yang merasa baru saja lepas dari maut menghela nafas sebanyak yang dia bisa.
"B–Benar... Apalagi setelah mendengar Matriak memanggilnya dengan sebutan khusus, jelas sekali dia memiliki hubungan dengan Matriak." Sahut murid lainnya dengan celana basa kuyup.
Setelah detak jantung mereka kembali normal dan ketakutan mereka pada Zhukai menghilang, puluhan murid itu segera berdiri dan kembali ke halaman murid.
Sementara itu, setelah berjalan melewati hutan. Kelompok Zhukai sampai di sebuah kota yang sangat besar.
Kota itu merupakan salah satu kota di bawah kekuasaan Klan Xia. Dengan status Xia Bing Yao, mereka berempat pasti bisa masuk dengan mudah.
Sayangnya Xia Bing Yao tidak terlalu ingin menarik perhatian, pada akhirnya, Zhukai membayar biaya masuk mereka bertiga sebesar 4 batu dewa.
"Hmm, ini kota yang hebat... Aku meragukan apakah ini benar-benar kota yang sama seperti dulu. Perkembangannya selama ratusan tahun benar-benar membuatku enggan untuk percaya."
Zhukai yang memperhatikan seberapa maju kota itu dibandingkan dengan kota-kota yang pernah ia datangi membuatnya berdecak kagum.
"Hehe, tentu saja siapa juga pemimpinnya." Xia Bing Yao menyentuh dadanya bangga.
"Haha, kerja bagus Yao'er." Kai meletakkan telapak tangannya di kepala Xia Bing Yao dan mengelusnya dengan lembut.
Zi Lin Yue yang melihat itu menggembungkan pipinya cemberut, "K–Kai... A–Aku juga menginginkannya."
Wajah Zi Lin Yue yang merah menarik lengan baju Zhukai dengan malu-malu. Seolah terhipnotis dengan apa yang Zi Lin Yue lakukan, Kai tanpa sadar mengelus kepala Zi Lin Yue dengan lembut.
"Hmph, tuan... aku juga menginginkannya." Long Zi mendengus dingin sambil memalingkan wajahnya.
Setelah Zhukai juga memberi Long Zi elusan di kepalanya, dia akhirnya kembali fokus pada tujuannya.
"Ah, kita tidak bisa terus bermain-main di tempat ini, ayo kita segera pergi ke Klan Xia."
Dengan begitu, Zhukai dan ketiga gadis yang mengikutinya bergegas menuju kediaman Klan yang letaknya di pegunungan tak jauh dari kota.
Tetapi sesaat sebelum Zhukai pergi meninggalkan kota, dia melihat sosok yang familiar.
"Tunggu!!..."
Ketiga gadis yang melihat Zhukai berhenti menjadi bingung sekaligus penasaran, "Kakak, kenapa kita berhenti disini?"
"Bukankah itu wukong?"
Ketiga gadis itu membeku tepat setelah mendengar apa yang Kai ucapkan, mereka menoleh ke tempat yang Zhukai tunjukkan dan benar saja... Memang ada seorang pria paruh baya yang sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bulu lebat.
"Paman wukong!! Apa yang dia lakukan di tempat ini!!..." Xia Bing Yao berteriak dalam hatinya.
"Tunggu dulu, jangan-jangan..." Xia Bing Yao kembali teringat dengan sosok wanita cantik yang bersama dengan Sun Wukong sebelum dia pergi meninggalkan Klan.
Tidak di sangka bahwa Sun Wukong akan secara terang-terangan memperlihatkan hubungan mereka saat dirinya tidak ada.
"Kai Gege, itu..."
Melihat Zhukai sudah tidak berada di sampingnya, Xia Bing Yao segera mengalihkan pandangannya ke tempat Sun Wukong dan kekasihnya berada.
Benar saja seperti yang dia pikirkan, Zhukai sudah berada tepat di belakang Sun Wukong hanya dalam waktu sepersekian detik.
"Permisi, kalian berdua menghalangi jalan."
Zhukai menepuk pundak Sun Wukong dari belakang dan berkata dengan suara dingin.
Sun Wukong yang terkejut karena tidak menyadari hawa keberadaan pria itu segera berbalik untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya.
Tepat setelah dia berbalik, tubuh Sun Wukong diam mematung. Sudut bibirnya bergetar tak terkendali, "K–Kakak... K–Kapan kamu tiba disini."
"Hmm, Wukong, lama tak bertemu... Lalu, apa yang kau lakukan di tempat ini." Zhukai menyeringai lebar.
Pada saat terdapat pengkhianat di dalam Klan, bisa-bisanya Sun Wukong malah berkencan dengan seorang gadis di dalam kota.
Zhukai akan ragu apakah pria di depannya benar-benar Sun Wukong atau tidak.
"Ah, itu..." Sun Wukong mengeluarkan banyak keringat di wajahnya.
Dia terus memutar otaknya untuk mencari alasan yang dapat menyelematkan dari situasinya saat ini.
"Kakak, jika aku bilang padamu bahwa aku sedang menjalankan misi Klan apakah kamu percaya!?"
Mendengar itu, amarah dalam tubuh Zhukai semakin membesar. "Bagus! Bagus! kurasa setelah ratusan ribu tahun tidak bertemu kau benar-benar menjadi seorang bajingan yang mengucapkan omong kosong di depanku."
Zhukai mengepalkan tangannya dan memberikan Sun Wukong pelajaran yang akan dia ingat selama hidupnya.
***
Tempat dimana sekte Martial berada, Martial God yang mendengar kabar bahwa istrinya batu saja disembuhkan sangat bahagia dan segera berlari masuk.
Saat dia melihat kondisi istrinya yang mulai membaik, dia terus mengeluarkan tangisan kebahagiaan.
Sementara itu, Demon God yang berdiri tepat di belakangnya mengerutkan keningnya tidak senang.
"Hei! Apakah kau masih mengingat apa yang kau janjikan padaku!."
Martial God segera berbalik, dia menatap Demon God kemudiannya menundukkan kepalanya.
"Tentu saja, kamu sudah menyelamatkan nyawa istriku! Jika ada hal yang bisa ku bantu, tolong beritahu aku apa itu?"
Bahkan tidak memperdulikan harga dirinya sebagai dewa perang kuno, Martial God benar-benar menundukkan wajahnya pada orang lain.
Tetapi itu tidak aneh jika orang itu adalah Demon God.
"Untuk saat ini, aku tidak memiliki sesuatu yang aku inginkan darimu. Tapi tak lama lagi, aku pasti akan datang lagi kesini."
Dengan begitu, sosok Demon God berubah menjadi asap hitam yang sangat tebal dan menghilang seketika dari ruangan itu.
***
Bersambung..