
Di Alam Surgawi, Xia Wen yang terus menunggu pesan dari God of Darkness selama beberapa hari mulai menjadi kesal.
"Bagaimana, apakah ada pesan dari tuan dewa?" Xia Wen menatap seorang tetua dan bertanya dengan suara dingin.
Tetua itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku juga belum mendapatkan perintah darinya."
Mendengar bahwa tetua lain juga belum mendapatkan pesan dari God of Darkness, kekesalan Xia Wen sudah mencapai puncaknya.
Dia sebenarnya sudah menunggu selama tiga hari lebih hanya untuk perintah itu. Meski begitu, tidak ada satupun pesan Godof Darkness yang datang.
Ini bukan karena God of Darkness tidak ingin memberi perintah, tetapi Xia Wen tidak mengetahui bahwa God of Darkness telah terbunuh oleh Zhukai pada pertarungan satu hari yang lalu di sekte kegelapan.
Saat Xia Wen sedang berdiskusi dengan tetua-tetua lainnya, suara teriakan seseorang terdengar dari luar ruangan.
"Tetua-tetua!!.."
Suara itu terdengar sangat jelas di telinga Xia Wen dan tetua lain, "Cepat suruh dia masuk.."
Saat sosok murid Klan Xia masuk kedalam kediaman Xia Wen, dia bernafas panjang terlebih dulu sebelum menceritakan apa yang dia dengar.
"Tetua, beberapa saat lalu kami telah mendapatkan kabar dari murid yang pergi ke Alam Kegelapan." Murid itu kembali menghela nafas panjang.
"Cepat katakan!!.." Xia Wen berjaya dengan suara tinggi sambil mengeluarkan tekanannya pada murid itu.
Tekanan yang begitu kuat segera membuat tubuh murid itu bergetar, "B–Baik t–tetua... Mereka mengatakan kalau sekte kegelapan sudah hancur dan rata dengan tanah."
Deg–
Seakan detak jantungnya baru saja berhenti berdetak, wajah Xia Wen berubah menjadi pucat.
"Apa kau bilang tadi?" Karena tidak ingin percaya apa yang ia dengar, Xia Wen kembali bertanya.
Melihat ekspresi dingin di wajah Xia Wen, murid itu menelan ludahnya dalam-dalam.
"I–Itu... Mereka mengatakan kalau sekte kegelapan sudah rata dengan tanah."
Bam!
Begitu murid itu menyelesaikan ucapannya, Xia Wen memukul meja di depannya dengan keras hingga membuat meja itu hancur menjadi serpihan kayu kecil.
"Sialan!! siapa orang di dunia ilahi yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Tidak mungkin para dewa perang yang melakukan hal itu. Kau! apa kau memiliki sebuah petunjuk tentang hal ini?"
Murid itu diam sejenak, dia menatap Xia Wen kemudian menghela nafas panjang. "Dari pesan yang mereka kirim beberapa saat yang lalu, ada kemungkinkan kalau orang yang melakukannya adalah.. Dewa bintang."
Begitu mendengar kata dewa bintang keluar dari mulut murid itu, wajah semua tetua dan juga Xia Wen seketika berubah.
"Baiklah kau bisa pergi..."
Setelah menyuruh murid itu pergi, terjadi perbincangan di antara para tetua Klan.
"Dewa bintang!? bukankah dia sudah mati ratusan ribu tahun yang lalu?" Seorang tetua bertanya penuh ketakutan pada tetua lainnya.
"Itu memang benar, jika tidak bagaimana keberadaannya menghilang begitu saja setelah ratusan ribu tahun lamanya." jawab tetua lain sambil memejamkan mata.
"Tapi jika dia benar-benar masih hidup, bukankah itu akan berbahaya bagi kita?"
"Apa maksudmu?" Tetua yang paling muda mengerutkan keningnya tidak paham.
"Kau masih terlalu muda, wajar bagimu jika tidak mengetahuinya. Dulu sekali, Matriak kita Xia Bing Yao adalah muridnya."
"Tapi–..."
Saat tetua itu mencoba menjelaskan lebih jauh, Xia Wen memukul dinding rumahnya untuk menghentikan tetua itu berbicara lebih jauh.
"Bisakah kau diam! bukankah murid itu hanya mengatakan kemungkinan saja. Bagaimana orang yang sudah mati bisa hidup kembali."
Tepat setelah Xia Wen menyelesaikan ucapannya, suara seorang pria terdengar dari depan pintu masuk.
Sontak saja dengan suara itu, para tetua segera bersikap waspada dan mengambil sebilah pedang dari Inventory.
"Siapa kau!!" Xia Wen mengerutkan alisnya sambil menatap pria di depan pintu masuk dengan tatapan tajam.
Karena saat itu adalah malam hari, Xia Wen tidak dapat melihat dengan jelas dalam kegelapan tersebut.
Tapi setelah pemuda itu masuk kedalam kediaman Xia Wen, beberapa tetua terkejut sedangkan Xia Wen mematung sesaat.
"Bajingan!! jadi ini kamu!.."
Xia Wen dengan ganas menyerang maju, tangannya membentuk sebuah cakar dengan tekanan kuat yang keluar dari tubuhnya.
Sayangnya, Zhukai sama sekali tidak mencoba menahan dirinya lagi. Hanya dengan satu hentakan dari kakinya, tubuh Xia Wen terhempas jauh hingga menghantam dinding rumahnya.
Brak!!
Dinding itu hancur seketika dengan tubuh Xia Wen yang tertutup oleh bebatuan dinding. Terlihat luka memar dan juga darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.
Xia Wen kembali berdiri sambil menyeka noda darah yang ada di hidung dan juga mulutnya "Cepat bantu aku sialan, jangan hanya berdiri disana."
Melihat bahwa tidak ada seorang pun tetua yang datang membantunya, Xia Wen benar-benar sangat marah.
Mendengar teriakan marah dari Xia Wen, para tetua lain saling memandang dan memberi anggukan satu sama lain.
Whuss!!.
Saat mereka hendak menyerang Zhukai, suara Zhukai yang sangat dingin terdengar di telinga mereka.
"Berhenti!! Apa kalian juga ingin bernasib sama seperti God of Darkness?"
Meski suara itu begitu pelan, tetapi itu terdengar sangat jelas dan juga membuat tubuh mereka bergidik saat mendengarnya.
"Tidak percaya?" Zhukai tersenyum tipis.
Dia memejamkan kedua matanya dan mengeluarkan tekanannya yang merupakan seorang Kultivator ranah God of Creation Langit Ke-enam.
Tekanan yang begitu berat menekan tubuh Xia Wen dan juga tetua lain, mereka segera berlutut setelah tak kuat lagi menahan tekanan itu.
"Apa kalian pikir apa yang aku katakan tadi hanyalah sebuah candaan?"
Zhukai mengepalkan tangannya dengan Qi berwarna hitam mengelilingi kepalan tangannya.
Bommm!!
Saat Zhukai mengayunkan pukulannya ke udara kosong, tubuh salah satu tetua itu meledak dengan organ dalamnya berceceran di tanah.
Saat tetua lain melihat mayat seorang tetua yang hanya menyisakan organ dalamnya, mereka semua merasa ingin muntah.
"M–Maafkan kami Kultivator terhormat, kami hanya di hasut oleh babi gemuk itu!." Seroang tetua menunjuk Xia Wen dengan tubuhnya yang masih bergetar.
Setelah melihat bahwa pria di depannya tidak bercanda ketika akan membunuh mereka semua, dia benar-benar sangat ketakutan.
Sementara itu, Xia Wen menatap kosong pada apara tetua yang mengkhianatinya.
"Bagus! bagus!! kalian benar-benar bajingan yang tidak tahu malu. Ingat ini, aku pasti akan membalas ini di masa depan.."
Mendengar ucapan Xia Wen, Zhukai tersenyum tipis sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, apa kau pikir kau bisa selamat dari situasi ini?"
Dengan penuh kepercayaan diri, Xia Wen menyeringai sambil mengeluarkan sebuah giok dari sakunya.
"Hahaha, tentu saja... Dengan artefak ini, aku bisa pergi dari tempat ini dengan mudah."
***
Bersambung...