
Setelah Kai hendak masuk kedalam Goa, dia terhenti tepat di pintu masuk Goa.
"Ada penghalang!.." Ucap Zhukai mengentikan langkahnya. Dia membuka mata ilahinya untuk melihat seberapa kuat penghalang didepannya.
"Hmm, penghalang ini sangat kuat. Siapa yang membuatnya apalagi di tengah hutan seperti ini." Kai memegang dagunya sambil berfikir.
Bahkan jika dia menggunakan seluruh kekuatannya, ia tidak memiliki keyakinan untuk menghancurkan penghalang.
"Kakak, apa yang sedang kamu lakukan?" Biao Jian dari bertanya melihat Zhukai yang termenung sedari awal.
"T–Tidak, tidak apa-apa.." Kai menoleh dengan senyum agar tidak membuat Biao Jian khawatir.
Detik berikutnya, Kai tersentak kaget ketika melihat energi penghalang hampir mirip dengan aura milik Biao Jian.
"Jian'er!!.." Kai menepuk kedua pundak dengan sebuah seringai muncul di wajah nya.
"Y–Ya..!?" Biao Jian terkejut untuk sesaat, kemudian setelah mendengar penjelasan Zhukai, dia mengangguk dengan wajah polosnya.
Beberapa detik berlaku setelah itu, Biao Jian yang sudah mengerti penjelasan Zhukai segera mendekati penghalang.
Dia mengangkat kedua tangannya dan menempelkannya pada penghalang di mulut Goa.
Biao Jian kemudian memejamkan kedua matanya dan mulai mengalirkan Qi miliknya keseluruh tubuhnya.
Seolah tidak menolak energi yang Biao Jian berikan, Penghalang tersebut mengeluarkan cahaya merah terang bersamaan dengan bertambahnya nya suhu api disekitar Goa.
Pohon-pohon yang letaknya dekat dengan mulut Goa langsung terbakar hanya dalam hitungan detik.
Sementara itu, butiran keringat mengucur deras dari wajah Zhukai. Merasakan hawa yang begitu panas yang bahkan tidak bisa ditahan oleh dua Api Ilahinya, Kai mengerutkan kening kesal sekaligus gembira dalam hatinya.
"Ini mungkin adalah harta yang sangat langka.."
Waktu berlalu dengan cukup cepat, Jian'er juga hampir mencapai batasnya. Dia membuka matanya dan menatap Zhukai, "Kakak, ini sudah batasku.." Ujar Biao Jian.
Kai mengangguk dan menyuruh. Biao Jian untuk beristirahat, "Baiklah saatnya menunjukkan kehebatan ku pada Jian'er."
Kai mengepalkan tinjunya, Aura hitam bercampur merah melapisi kepalan tangannya membentuk sebuah cetakan kepalan tangan di udara.
"Hiatt..."
Whuuuss...
Kai melepaskan pukulannya menciptakan sebuah hembusan angin, ketika pukulan Zhukai dan Penghalang saling berbenturan.
Tercipta sebuah ledakan keras dengan asap tebal mengelilingi menutupi pandangan Zhukai. Tetapi karena Kai memiliki mata Ilahi, asap seperti itu tidak berguna.
Dia menarik lengan Biao Jian dan bersama-sama masuk kedalam Goa..
Tepat ketika Kai masuk, dia merasakan pijakannya diatas tanah tiba-tiba menghilang..
"Eh... Aaa.."
Kai dan Biao Jian terjatuh kebawah, di sekeliling mereka hanyalah gumpalan awan. Biao Jian buru-buru mengubah wujudnya menjadi seekor Phoenix berwarna merah terang yang begitu indah.
"Kakak, cepat naik!."
Kai mengangguk, dia memegangi leher Biao Jian dan segera naik keatas punggungnya.
"Huufff... Terimakasih Jian'er, tapi kita ada dimana?" Kai melihat sekelilingnya dan bergumam.
Tiba-tiba, ekspresi Zhukai menjadi serius, "Jian'er, cepat berbalik!..."
Biao Jian tidak tahu alasan mengapa Kai berkata demikian, tetapi dia hanya mengangguk dan segera berbalik.
Sayanganya....
"Sial kita terlambat.."
Mereka semua menatap marah sambil mengeluarkan tekanannya yang masing-masing berada di Ranah True God Realm, Chaos God tahap Kaisar.
"Jangan bergerak kau penyusup! Atau aku akan membunuhmu.." Setu salah satu Phoenix itu sambil membuka paruhnya.
Kai berdiam diri tidak menjawab, "Hmm, ada baiknya aku mengikuti apa yang mereka katakan. Mungkin mereka akan membawaku menuju penguasa Dunia ini." Batin Zhukai.
Dengan begitu, Kai dan Biao Jian mengikuti puluhan Phoenix api tersebut dengan beberapa Phoenix memimpin di depan serta beberapa lainnya mengikuti di belakang.
Meski Biao Jian sedikit takut, tetapi Zhukai menyalurkan Qi miliknya agar Biao Jian menjadi tenang.
"Tenang Jian'er, jangan gugup aku ada disini.." Bisik Kai pelan hingga membuat Biao jIan menjadi tenang.
Waktu berlalu dengan cukup cepat, setiap jalan yang Kai lalui. Dia hanya melihat gumpalan awan disekitar nya dan tidak menemukan kehidupan lain dengan Persepsi Ilahi nya.
"Tuan sebenarnya kita berada dimana?" Biao Jian mendongak kebelakang dan berkata.
'Aku tidak bisa mengatakannya secara pasti Jian'er. Sebenarnya kita masih berada di Alam Dewa, tetapi ini adalah Dunia yang lebih kecil di bandingkan dengan Alam Dewa. Atau lebih jelasnya, ini mirip seperti Dunia Jiwa milikku." Jelas Zhukai pelan.
Apa yang dikatakan Kai memang benar, setelah dia melihat sekelilingnya dengan lebih teliti lagi. Dia bisa merasakan Qi yang cukup mirip dengan Alam Dewa.
Tetapi apa yang membuatnya bisa berkata seperti itu adalah karena dia memahami Hukum Ruang dan Waktu.
"Kita sudah sampai!!.." Ujar seorang Phoenix menoleh kearah puluhan rekannya.
Mendengar hal itu, Kai memfokuskan Persepsi Ilahinya untuk menatap lurus Kedepan. Begitu terkejut nya dia ketika melihat sebuah Pulau besar terapung dibatas udara. Bukan hanya itu, ada ribuan, tidak hampir puluhan ribu Phoenix beterbangan disana.
"Tidak mungkin!! Apakah itu..." Kai tiba-tiba teringat tentang apa yang Tang Ye katakan ketika berada di Profound Ark.
"Ras Phoenix Kuno belum punah, mereka menyembunyikan diri mereka dari manusia dan ras lain dari Alam Dewa.."
Kai tidak bisa menahan rasa semangat di hatinya, "Mungkinkah aku bisa menemukan orang tua Jian'er disana?" Pikir Zhukai dalam benaknya.
Bahkan jika Biao Jian tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi takdir secara tidak langsung mempertemukan mereka.
"Kalian penyusup!! Bergerak lebih cepatlah!!.." Phoenix yang berjalan paling depan menoleh dan berkata dengan keras hingga membuat Biao Jian ketakutan.
Seketika, Kai memberikan tatapan tajam dengan niat membunuhnya kearah Phoenix itu. "Kau burung sialan!! Berhenti membuat kekasihku ketakutan!!.."
Dengan tekanan dan niat membunuh yang Kai keluarkan, hampir setiap Phoenix yang ada disekitarnya merasakan nafas mereka menjadi semakin sesak.
"K–Kakak, tidak perlu seperti itu. A–Aku baik-baik saja.." Ucap Biao Jian pada Zhukai, dia takut jika Kai menyinggung para Phoenix itu, mereka berdua akan berada dalam bahaya.
"Hahaha, baiklah Jian'er.." Kai tersenyum lebar dan segera menarik tekanan serta niat membunuhnya.
Setelah merasakan tekanan dari Zhukai menghilang tiba-tiba, puluhan Phoenix Api itu menjadi takut dan hanya diam tak bersuara
Hanya ketika Zhukai dan Biao Jian sampai di Pulau terapung, mereka Puluhan Phoenix itu digantikan oleh tiga sosok Pria setengah baya dengan wajah penuh bekas luka di wajah mereka.
"Apakah mereka berdua orang yang secara paksa menghancurkan penghalang yang telah Matriak buat?"
"Ya benar tetua.." Salah satu dari Puluhan Phoenix itu menjawab dan mendekat untuk membisikkan sesuatu di telinga tetua itu.
"Hati-hati!!.. Pria itu, dia sangat kuat.."
Tetua yang mendengar itu segera menatap Zhukai dan mengangguk. Tepat setelah siluet Puluhan Phoenix menghilang, ketiga tetua itu menatap Zhukai dan berkata.
"Cepat ikut aku!!.."
Dengan begitu, Kai dan Biao Jian mengikutinya sosok tiga Tetua itu tepat dibelakang mereka.
***
Bersambung..