Re-system

Re-system
Menyerap Batu Permata



Setelah mencium Chiyan tepat di Pipi Kananya, Kai segera duduk di meja makan untuk makan malam. Melihat tingkah anaknya, Chiyan tersenyum menawan, ia berjalan menaiki tangga sembari mengingatkan Kai. "Setelah selesai makan, cuci piring lalu tidur."


Kai mengangguk dan melanjutkan makan malamnya. Beberapa saat kemudian, Kai beranjak masuk kedalam kamarnya mengeluarkan sebuah bola permata berwarna hijau zamrud.


Kai mengambil sikap Lotus dengan menggunakan Budidaya Pelahap Bintang ia dengan cepat menyerap seluruh energi spiritual yang terkandung di dalam batu permata. Saat Kai bangun dan menyadari ia kembali ke bumi, hanya budidaya Pelahap Bintang yang masih dapat ia gunakan sedangkan untuk teknik lainnya seperti itu tersegel oleh sesuatu hingga membuat Kai tidak dapat menggunakan nya.


Satu jam berlalu, Bamm!! Dari ruangan Kai sebuah ledakan yang sangat keras dapat terdengar. Untungnya Kai sudah memasang Array pelindung di sekitar ruangnya.


Pejuang Perunggu Tier 2.. !


Pejuang Perunggu Tier 3.. !


Sayangnya setelah Kai sepenuhnya berhasil menyerap energi spiritual dari batu permata, Ia hanya dapat menerobos dua tingkat.


Kai membuka kedua matanya, dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Kai berbaring di atas kasur sambil mengingat peristiwa yang terjadi hari ini.


"Tanda di leher pria itu sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat...."


Semakin Kai mencoba mengingat dimana ia pernah melihat tanda itu semakin kepalanya merasa sakit. "Sudahlah, sebaiknya aku tidur. Tubuhku sudah terlalu lelah."


Malam berlalu dengan cepat di gantikan oleh sinar matahari yang menembus jendela kamar. mengenai tubuh Kai yang sedang terbaring diatas kasur.


Kai merasakan perasaan hangat di sekujur tubuhnya membuat dirinya terbangun.


"Hoamm... Sudah pagi?"


Ia beranjak dari tempat tidur sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku, Seperti biasa Kai membersihkan diri dan turun untuk sarapan setelah itu ia berangkat sekolah.


Kurang dari 5 menit Kai sampai di depan gerbang sekolah, Pandangannya menyapu kedepan dan berhenti ketika melihat seorang gadis remaja sedang berdiri di depan pintu gerbang.


Gadis itu terlihat seperti Dewi dengan dua lesung pipi di wajahnya. Kulit putih seputih salju, begitu Kai melihat sosoknya ia tertegun sebentar, "Apakah Yola memang secantik ini!?"


Banyak pandangan dari siswa laki-laki mengarah pada tubuh montok Yola, melihat situasinya Kai dengan cepat menyeret Yola meninggalkan semua pandangan dari para murid laki-laki.


"Sayang, kemana kamu akan membawaku?"


Yola merasa sangat senang ketika Kai menyeretnya pergi, dia tahu bahwa Kai tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian dari para murid laki-laki.


Saat ini jam tangan Kai telah menunjukkan pukul 06.58, yang berarti tersisa dua menit sebelum kelas dimulai.


Ia mengajak Yola duduk di bangku taman sekolah, dua orang duduk dengan suasana canggung. Kai kemudian mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan halus Yola. Yola juga secara terbuka membiarkan Kai menyentuh nya.


"Yola, aku..." Kai mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir Yola yang berwarna merah muda. Tepat saat kedua bibir akan bersentuhan ...


Toooott!! Kringg!!


Kai menggertak kan gigi mendengar bel sekolah, ia mengutuk para karyawan sekolah yang menyalakan bel ketika ia akan berciuman.


"Sialan, menggangu saja.."


Kai mendengus kemudian melihat wajah Yola yang sudah memerah karena malu, "Aa.. Aku masuk ke dalam kelas dulu."


Melihat bayangan Yola yang sedang berlari menuju ke dalam kelas, Kai juga tidak berdiam diri di bangku taman. Ia juga berdiri dan segera berlari ke dalam kelas.


Rei dan Han mengangguk setuju, setelah itu Kai pergi menemui Yola dan memberitahunya malam ini ia akan berkunjung kembali ke klan fox.


Tak sampai sepuluh menit, Kai sampai di taman biasa ia bermain dengan kedua sahabatnya. Ia melihat Rei dan Han yang sedang bermain-main dengan loli kecil.


"Adik kecil yang manis, ayo bermain dengan kakak..." Reita yang juga seorang lolicon menggoda gadis kecil yang saat ini sedang bermain dengan teman-teman nya di taman. Ia mengungkapkan senyuman aneh yang menguat gadis kecil itu menangis.


"Hua... T_T, Mama, Papa.. ada orang aneh yang menggangu ku!" Tangisan gadis itu membuat Reita terkejut dan dengan segala cara ia membuat gadis itu berhenti menangis.


Hanu melihat Reita dan tertawa terbahak-bahak begitu juga Zhukai yang baru saja sampai. Zhukai tersenyum melihat sikap Rei yang masih belum berubah semenjak dulu.


"Kai tolong bantu aku membuatnya berhenti menangis, Aku akan memberimu permen Kopiko!"


Reita tersenyum canggung sambil memohon, Ia tanpa malu mengeluarkan satu buah permen Kopiko dari sakunya.


Kai mengerutkan kening dan melototi Reita Ia berkata dalam hatinya, " Setidaknya beri aku 5 atau 10 permen bodoh, apa-apaan ini."


Kai mengernyit melihat satu buah permen di tangannya, Ia menghela nafas menghadapi tingkah sahabatnya. "Baiklah, cepat Menyingkir aku akan menghiburnya, cukup lihat dan pelajari."


Kai dengan bangga berkata sambil mendekati gadi kecil yang sedang menangis. "Cup... Cup.. adik kecil lihat Kaka akan melakukan sulap."


Kai mengangkat tangan kanannya dan api ungu mulai keluar dari telapak tangan, Kai melakukan hal itu seperti seorang pesulap handal.


Tiba-tiba gadis itu berhenti menangis dan matanya bersinar menatap aksi Kai yang begitu mengagumkan, ia bergumam pelan, "Kakak, itu hebat!! itu hebat!!"


Gadis itu tidak bisa menahan rasa senangnya dan terus menerus memuji Zhukai, setelah melakukan beberapa aksi lagi Kai berhenti dan mengelus-elus kepal gadis kecil itu.


"Hebat Kakak!! Terima kasih, ini hadiah dari Fu Fu."


Gadis itu mendekat dan dengan kedua bibir kecilnya meninggalkan sebuah ciuman kecil di pipi kanan Zhukai.


Kai terpana sesaat, "Haha, terima kasih kembali. Cepat kembali pulang, sebentar lagi malam akan tiba."


"Emm..." Gadis kecil itu menganguk dan segera berlari meninggalkan Kai dan dua sahabatnya.


Setelah bayangan gadis itu sudah tidak terlihat, Kai berbalik dan mendapati pandangan iri dari Reita, "Sialan kau Kai, kenapa tidak aku yang mendapat ciumannya. Juga dari mana kau belajar trik sulap seperti itu?"


Hanu juga menganguk dengan penuh rasa ingin tahu, "Itu bukan sulap, Itu memang api asli."


Kai menjawab pertanyaan Reita dengan nada acuh tak acuh, kemudian mengeluarkan api ungu sekali lagi dan melemparkannya Kearah pohon. Tak sampai dua detik, pohon itu sudah hangus menjadi debu.


Rei dan Han tercengang melihat kejadian tidak masuk akal di depannya, "Apa-apaan itu!! bagaimana ada sihir seperti itu di dunia ini!"


Hanu yang dari tadi diam, berkata dengan nada gemetar. Ia memandang Reita dan menggunakan bahasa isyarat agar Reita mencubit tangannya.


"Ahh.." Hanu menjerit, kemudian menyadari bahwa ini bukanlah mimpi.


Reita juga begitu terkejut tetapi tidak dapat mengatakan apa-apa, mereka hanya menunggu Kai menjawab semua pertanyaan itu.


"Baiklah, aku tahu kalian sangat penasaran. Aku memanggil kalian berdua kemari untuk mengajari kalian berkultivasi!"