
"Karena dia adalah Ayahku!!.." Bayangan hitam yang tidak lain adalah perwujudan jiwa dari seorang penguasa Alam Dewa berkata dengan suara serak.
Pernyataan bayangan hitam itu sontak membuat Meng Nie menjadi sangat kaget.
"T–Tuan penguasa, A–Apa maksudmu, bagiamana dia bisa menjadi Ayahmu?" Meng Nie mengatakan sebuah omong kosong seolah-olah tidak percaya apa yang bayangan hitam itu katakan.
"Sudahlah, lupakan saja tentang itu. Aku punya perintah padamu, baru-baru ini aku merasakan kemunculan Harta Dewa tingkat tinggi di Gunung Xuanzhen."
"Akan berbahaya untukmu datang sendiri kesana, bawalah ayahku bersamamu. Mungkin dia akan mendapat beberapa keberuntungan dan mendapatkan warisan dari 12 Dewa Perang Kuno.."
Meng Nie mengangguk, tepat ketika dia mengedipkan keuda matanya. Bayangan Hitam di depannya seketika menghilang.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Dari belakang, suara seorang pria terdengar dengan begitu jelas.
Ketika dia berbalik, sosok pria yang begitu familiar berjalan menghampirinya, ia adalah Zhukai.
"Ah, eh, anu... A–Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Mendengar Meng Nie mengulangi pertanyaannya, kerutan di dahi Zhukai semakin bertambah.
"Hah, seharusnya itu yang aku tanyakan.."
Alasan kenapa Kai bisa sampai di tempat itu adalah karena dia merasakan Aura yang sama seperti yang dia rasakan tadi siang.
Tetapi aura itu tiba-tiba menghilang seketika dengan Meng Nie berada di tempat terakhir aura itu berasal.
Mau tidak mau, Kai menaruh rasa curiga pada Meng Nie. Sedari awal, Kai sudah merasakan hal aneh tentangnya.
"T–Tidak, aku hanya berjalan-jalan saja.." Meng Nie menghapus kegugupannya dan menjawab Kai dengan ekspresi datar.
"Baiklah kalau begitu, cepatlah kembali karena ini sudah sangat malam.."
Meski Kai tidak percaya dengan apa yang Meng Nie katakan, dia menahan dirinya untuk tidak berbicara lebih lanjut.
Kai melesat kembali menuju penginapan sementara itu Meng Nie masih berdiam diri di tempatnya.
"Untunglah identitas ku tidak ketahuan.." Meng Nie menghela nafas panjang, tetapi apa yang tidak dia sadari adalah bahwa yang berlari kembali ke penginapan hanyalah kloning bayangan Kai saja.
Sementara itu, Kai yang asli sedari tadi bersembunyi di atap rumah. Dia dapat secara jelas mendengar apa yang Meng Nie katakan barusan.
"Sudah kuduga, gadis ini sangat mencurigakan." Kai berdiri, dia segera bertukar tempat dengan bayangannya yang saat ini sudah berada di dalam penginapan.
"Aku akan memikirkannya besok pagi, untuk saat ini aku akan mencoba memperbaiki Jimat yang rusak ini."
Kai mengeluarkan Jimat rusak yang dia dapat dari Meng Nie secara gratis. Karena Profesinya sebagai Master Array, Kai sangat paham betul tentang Rune kuno.
Sayangnya, Rune kuno yang terdapat di secarik kertas hitam itu sangatlah sulit untuk dimengerti, bahkan untuk Kai seorang.
"Ha, aku tidak bisa memperbaikinya secara langsung, jimat ini terlaku sit untuk dimengerti." Kai menghela nafas, bahkan setelah satu jam mencoba memahami, Kai hanya mendapat penyelesaian kecil.
Karena waktu itu sudah sangat malam, Kai menghentikan latihannya dan memutuskan untuk tidur.
Di dalam ruangan, hanya tersedia satu buha kasur, dan itu sangat luas. Mungkin akan cukup untuk tiga sampai lima orang.
Kai tidur di samping Biao Jian dan memeluknya bersama dengan Yu Chi Lan dengan erat. Merasakan pelukan hangat dari Zhukai, Yu Chi Lan tidak menolak, itu malah membuat tidurnya semakin pulas.
Ketika pagi hari menjelang, sinar matahari mulai masuk kedalam ruangan melalui celah-celah jendela.
Kai terbangun ketika merasakan aliran hangat disekujur tubuhnya.
"Hoamm..." Kai duduk diatas kasur dan menoleh ke sampingnya.
"Dimana mereka berdua?"
Tak jauh dari Penginapan, terdapat sebuah taman yang cukup luas. Terlihat pasangan Ibu dan Anaknya sedang berlatih disana.
Meski saat ini masih pagi hati, Biao Jian berkeringat deras hingga membasahi pakaiannya.
Pada awalnya, api yang ada di kedua matanya masih sangat sulit untuk di kontrol. Tetapi saat ini, Biao Jian sedikit bisa mengontrol Api di dalam tubuhnya.
Terdapat tiga jenis api di dalam tubuh Biao Jian, itu adalah Api Kuno, Api Es, dan juga Lotus Api Hijau.
Di antara ketiga api itu, Lotus Api Hijau adalah jenis api yang sangat sulit di kontrol sekaligus memiliki daya ledak dua kali lebih besar dari dua Api lainnya.
Dari jauh, Kai hanya tersenyum melihat Biao Jian berlatih dengan keras. Karena tidak bermaksud untuk menganggu latihan Biao Jian, ia memutuskan untuk pergi berkeliling kota sekaligus mengumpulkan informasi.
Karena tadi malam Kai merasakan salah satu Skeleton nya telah hilang seketika, Kai segera tahu bahwa Empat kekuatan Kekaisaran Xuanzhen tidak bisa di anggap remeh.
Dia menuju perpustakaan yang berada di pusat kota, terdapat ribuan buku yang tertata dengan rapi.
Kai mengambil salah satu buku dan membacanya sekilas, dia terus melakukan hal itu hingga tak terasa bahwa hampir setiap buku yang ada di perpustakaan telah dia baca semua.
"Hmm, semua ini tidak berguna.."
Kai meletakkan buku terakhir yang dia baca dan berjalan keluar meninggalkan perpustakaan.
Sebelum itu, dia berhenti disebuah bar dan memesan dua kendi arak.
"Rumah Lelang Huang akan mengadakan pelelangan besok? Apakah yang kau katakan ini benar?" Tak jauh dari tempat duduk Kai saat ini, terdengar suara seorang pemuda yang sedang berbicara dengan tamannya.
"Ya, bukan hanya itu. Rumah Lelang Huang juga mengatakan akan ada informasi penting yang akan di lelang. Aku sama sekali tidak sabar untuk menunggunya."
"Ya, setiap kali Rumah Lelang Huang mengadakan pelelangan, mereka sama sekali tidak pernah mengecewakan."
Perbincangan mereka berdua terus berlanjut dan terdengar dengan sangat jelas di telinga Zhukai.
Dia juga telah menerima sedikit informasi tentang Rumah Lelang Huang dari kusir kuda kemarin.
"Kurasa mereka akan menyediakan barang-barang bagus.." Kai menghabiskan tegukan terkahir dan pergi meninggalkan bar.
Di tengah perjalanan kembali menuju penginapan, Kai bertemu dengan Meng Nie di tengah jalan.
Karena dia masih mengingat kejadian tadi malam dengan sangat jelas, Kai sama sekali tidak menyapanya bagaikan orang asing.
"Halo.."
Tetapi Meng Nie bersikap biasa seolah kejadian tadi malam sama sekali tidak pernah terjadi.
Kai mengangguk sebagai jawaban, mengabaikan Meng Nie yang berdiri disana. Kai segera kembali ke penginapan.
"Apakah dia mencurigai ku sekarang? Itu sudah jelas.." Meng Nie berkata sambil menghela nafas, dia kemudian melesat pergi menuju ke Utara.
Sementara itu, Kai menjemput Biao Jian yang sedang beristirahat dan mengajaknya untuk makan siang.
Kai juga memberitahu Biak Jian serta Yu Chi Lan bahwa dia akan menghadiri pelelangan besok.
"Pelelangan? Kakak, aku ingin ikut." Biao Jian berkata dengan penuh semangat.
Bahkan Yu Chi Lan juga menunjukkan sedikit ketertarikan.
"Baiklah, besok kita bertiga akan pergi ke Pelelangan."
***
Bersambung..