Re-system

Re-system
Mempermalukan Empat Kekuatan Besar



Niat membunuh yang merembes keluar dari pria itu seakan mencekik Mu Hanyan dan membuatnya kesulitan untuk bernafas.


Bulu matanya yang lentik dan matanya yang indah menatap pria di depannya dengan ekspresi sedikit takut.


Sementara itu, pria di depannya mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Yu Ming serta membelainya dengan lembut.


"Oh, kamu juga gadis yang cantik. Apakah kamu ingin jadi wanitaku?" Pria itu bertanya dengan senyum di wajahnya.


Dia bernama Ling Lung, dia berasal dari Dunia Ilahi tepatnya di Alam Matahari. Dia diperintahkan oleh gurunya untuk mencari He Miao yang telah menghilang untuk waktu yang lama.


Jejak terakhir yang di tinggalkan oleh He Miao adalah di Kekaisaran Xuanzhen di alam Dewa. Ling Lung sendiri merupakan murid dalam di sekte matahari.


Basis Kultivasinya juga tidak rendah, jika bukan karena hukum di Alam Dewa yang menekan Kultivasinya hingga Original God Realm, Kultivasinya sebenarnya jauh dari itu.


"T–Tuan, bisakah anda bersikap sedikit lebih sopan." Mu Hanyan menepis tangan Ling Ling yang terus membelai kepalanya.


Perlakuan itu seketika membuat Ling Lung marah, dia menarik rambut Panjang Mu Hanyan dan membentaknya dengan suara keras.


"****** bodoh! Beraninya kau menolak kebaikan ku. Kau seharusnya bangga bisa menjadi salah satu wanita ku."


Mu Hanyan buru-buru mengambil sebuah token dari balik sakunya, dia menunjukkan token itu tepat di hadapan Ling Lung.


Sesaat setelah Ling Lung melihat token itu, tubuhnya bergetar dan buru-buru melepas cengkeraman nya pada rambut Mu Hanyan.


"Hahaha, aku tidak tahu bahwa adik ini adalah putri dari Klan Mu di Alam Gagak Emas. Jika seperti itu, aku minta maaf atas kekasaran ku barusan."


Mu Hanyan tidak peduli, dia segera merapikan rambutnya yang berantakan dan menatap Ling Lung dengan kekesalan.


"Jika sudah tidak ada hal lain lagi, kau bisa meninggalkan ruangan ini."


Sebenarnya Mu Hanyan ingin merahasiakan identitasnya sebagai putri dari Klan Mu. Tetapi karena Ling Lung baru saja berniat melecehkannya dia tidak punya pilihan lain selain menunjukkan token itu.


"Hahahah, kalau begitu aku pergi.." Ling Lung berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah penuh kemarahan.


Sementara itu, Zhukai yang masih duduk sambil melihat lelang berlanjut hanya diam tanpa menawar sedikitpun.


"Meski aku sudah menduga ini, tetapi ini lebih buruk dari perkiraan ku." Kai menghela nafas sambil terus mengawasi jalannya lelang.


Bahkan setelah lelang telah berakhir, Kai sama sekali tidak menawar satu barang pun.


Dia berdiri dan menggunakan Lapisan tak terlihat untuk menyelinap masuk kedalam gudang harta milik Rumah Lelang Huang.


Tetapi tiba-tiba, jauh di depannya ia dapat merasakan aura yang membuat kemarahan dalam tubuhnya mendidih.


"Aura ini!!..."


Tak jauh dari tempatnya berada, sosok pria dengan pedang besar di punggungnya berjalan.


Mata pria itu yang sangat tajam menatap ke sekeliling, ia tiba-tiba berhenti dan mengambil pedangnya dan menebas dengan sangat cepat.


"Aneh, apa perasaanku saja. Kurasa aku barusan merasakan niat membunuh dari seseorang." Ling Lung bergumam pelan, setelah itu berjalan pergi.


Kai sendiri dengan refleknya yang luar biasa dengan mudahnya menghindari serangan itu.


"Haahh, untung saja aku bisa menghindarinya. Pria tadi, siapa dia..."


Kai mengabaikan itu dan fokus dalam tujuan utamanya yaitu merampok seluruh kekayaan dan harta milik Rumah Lelang Huang.


"Mwehehe, aku tidak sabar melihat reaksi wanita itu ketika mengetahui hartanya hilang dalam sekejap."


Kai menggunakan Persepsi Ilahinya dan menyadari ada empat orang yang bersembunyi dengan sangat baik di dalam gudang harta.


Mereka berempat memiliki Aura yang sangat familiar dan tidak lain adalah Han Wenqing, Ji Gong, Len Kuo, dan Mu Hanyan.


"Ternyata mereka bersembunyi disini.." Kai berdiri tepat di depan Han Wenqing dan melambai-lambaikan tangannya tepat di hadapannya.


Meski begitu, Han Wenqing sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


"Mwehehe, jika begini.."


Kai memukul kepala belakang Han Wenqing dan segera berpindah tempat.


"Omong kosong kau pak tua! Siapa yang memukulmu." Ji Gong yang merasa tidak bersalah sedikit kesal ketika Han Wenqing menuduhnya.


Sementara itu dari belakang Ji Gong, Len Kuo tiba-tiba menampar wajahnya.


"Bajingan!! Kau benar-benar berani."


Percekcokan antara ketiga orang itu disadari oleh Mu Hanyan karena hanya dia yang pintar diantara mereka berempat.


"Ketiga idiot ini, apakah dia tidak berfikir bahwa mereka sedang dipermainkan.."


Tepat setelah dia menyelesaikan kalimatnya, ia tiba-tiba mendesah kencang dan membuat ketiga orang itu terdiam..


"Ahhnnm~.."


"Apakah kau mendengarnya barusan?" Han Wenqing terdiam dan bertanya pada Ji Gong.


"Ya, bukankah itu nona Hanyan yang baru daja mendesah.." Pikiran mereka dipenuhi dengan pikiran cabul.


Sementara itu, Mu Hanya dengan marah menyerang secara membabi buta. Karena dia tidak tahu Kai ada dimana, dia terus menyerang tanpa henti kesetiap sudut yang ada.


Sementara Kai sendiri, dia dengan gerakan cepat melahap semua harta dan kekayaan yang ada dalam gudang harta.


"Ck ck ck... Idiot yang tidak bisa berfikir, dan terimakasih atas harta gratis yang kalian berikan. Sebelum aku pergi, terimalah hadiahku."


Kai melempar sebuah bubuk berwarna merah muda setelah itu menghilang di tempatnya secara tiba-tiba.


"Jangan hirup ini, ini beracun."


Meski Mu Hanyan sudah memperingati mereka, tetapi itu terlambat. Han Wenqing, Ji Gong, dan Len Kuo merasakan rasa panas di tubuh mereka.


Mereka bertiga melepas baju masing-masing dan melakukan...


Sementara itu Mu Hanyan sudah meninggalkan gudang harta dan muntah-muntah karena melihat pemandangan yang begitu menjijikan di dalam sana.


Jauh di dalam hatinya, dia benar-benar marah karena Zhukai berani menyentuh tubuhnya.


"Bajingan itu!! Aku pastikan akan membalas semua ini."


***


Jauh di perbatasan Kekaisaran, Zhukai dengan jubah hitam berjalan di sana tanpa berhenti untuk tertawa ketika mencoba membayangkan apa yang terjadi disana.


"Mereka benar-benar bodoh, mungkin reputasi mereka akan hancur hanya dalam semalam." Ucapnya sambil terus berjalan Kedepan.


Hingga sebuah kereta kuda tiba-tiba berhenti dan menanyakan hal padanya.


"Pria disana, apakah kamu ingin pergi ke Benua Ashura?" Kusir kuda itu adalah seorang pria tua dengan senyum bertanya pada Zhukai.


"Ya.." Kai membalasnya dengan anggukan sopan.


"Begitukah? Kenapa tidak bersama kami saja? kami juga ingin kesana."


Kusir itu membalikkan badannya dan bertanya pada wanita yang ada di dalam kereta.


"Bolehkah nona?"


Melihat anggukan dari wanita yang ada dalam kereta, Pria tua itu segera menyuruh Zhukai untuk masuk.


"Baiklah akan kuterima itu dengan senang hati."


Ketika Zhukai berjalan masuk, seorang wanita bercadar dan tertutup kerudung ada dalam kereta itu.


Dia dan wanita itu saling bertatapan untuk beberapa saat dan mereka berdua terkejut.


"Itu Kamu!!..." Ucap mereka berdua bersamaan.


***


Bersambung.