
Yang Jihui berdiri dan mengeluarkan sebuah Pedang dua tangan dari Cincin Ruangnya, Ia saat ini masih berada di Ranah Raja Dao Puncak, jadi bagaimana mungkin ia menjadi tandingan dari Tian Wei.
Benar saja, dalam waktu kurang dari satu menit, Yang Jihui terpental kembali ke tanah dan membentuk sebuah lubang lainnya.
Melihat seluruh kejadian itu Jiuyang Lin tidak diam saja, ia segera terbang menuju Tian Wei dan memberinya sebuah Pukulan keras.
Bamm!!
Tian Wei yang baru saja terkena serangan Jiuyang Lin mundur beberapa langkah di udara, sebenarnya Tian Wei dapat menahan serangan tersebut, hanya saja ia terlalu meremehkan kawannya hingga membuat dirinya sedikit terluka.
"Arghh, Gadis kecil! beraninya kau menyerang ku secara diam-diam!" Ia meraung marah, tetapi tidak dapat menyembunyikan jejak rasa malu di wajahnya.
Jiuyang Lin memberikan sebuah 'Humph' dingin, ia segera mengangkat pedang berwarna birunya tinggi-tinggi dan menyerang Tian Wei menggunakan salah satu teknik andalannya.
"10 Tebasan Mata Air!"
Gerakan Jiuyang Lin yang begitu indah memukau semua orang, bahkan sebagai musuhnya, Tian Wei juga terpesona dengan gerakan indah Jiuyang Lin.
Tepat setelah Jiuyang Lin mengeluarkan gerakan itu, Mata pria paruh baya di belakang Tian Wei menyala.
Ia mengeluarkan sebuah tawa dingin yang menguat suasana seketika menjadi suram, "Kekeke... Ternyata gadis kecil klan Jiuyang berada di sini!!"
Wajah Pria paruh baya itu tertutup sebuah jubah, yang menganut orang di sekitarnya tidak bisa melihat wajahnya.
"Aku terus mencari-cari di seluruh Alam Dewa, tidak pernah aku sangka kamu bersembunyi disini." Ia mengeluarkan sebuah aura berwarna hitam pekat yang menyegel gerakan Jiuyang Lin di udara.
"Siapa kamu!! bagaimana kamu tahu dari mana aku berasal." Jiuyang Lin sangat kaget dan ketakutan, Ia adalah satu-satunya orang yang selamat dari Klannya. Jika ia terbunuh disini bukankah Klan Jiuyang akan segera musnah?
Ia menggerakkan giginya dan memaksa Qi dalam Dantian nya untuk secara paksa melawan aura Hitam itu.
"Guahh!!.. " Jiuyang Lin meninggal kan jejak darah dari sudut bibirnya karena perlawanan yang kuat dari Aura hitam. Tidak ada yang tahu apa aura hitam pekat itu kecuali...
Jiuyang Lin menyeka noda darah di sudut bibirnya, Ia menatap pria patuh baya itu dengan tatapan membunuh, bagaimanapun ia harus membunuh Pria paruh baya itu disini. Jika tidak dimasa depan bukankah ia akan memberitahu beberapa Klan Lain untuk memburunya.
Tetapi ia juga tahu tentang batas kekuatannya, ia tidak akan pernah bisa membunuh pria patuh baya itu bahkan dengan kekuatan penuh nya di masa lalu.
Jiuyang Lin terus memikirkan cara tentang bagaimana membunuh Pria itu ketika ia menurunkan kewaspadaan.
"Eh, kamu hebat juga gadis kecil.. bisa keluar dari rantai kematian milikku, jelas kekuatan mu setidaknya berada di ranah Emperor atau bahkan lebih tinggi." Pria paruh baya itu memperlihatkan sedikit mata merahnya dan itu mampu untuk menekan Jiuyang Lin dan yang lainnya sepenuhnya.
Ia terbang mendekat tubuh Jiuyang Lin yang sudah tidak bisa bergerak dan menunjukkan senyuman mesum ketika melihat dua buah dada Jiuyang Lin yang menonjol.
"Kekeke.. Bagaimana jika aku melecehkan mu terlebih dulu sebelum mengambil kehidupanmu." Dia menjulurkan lidahnya sambil membuat ekspresi aneh yang dapat menguat seseorang jijik hanya dengan melihatnya.
"Jhuuhh!!... " Jiuyang Lin meludah kearah wajah Pria paruh baya itu sambil berteriak keras, "Lebih baik aku mati daripada di disentuh oleh bajingan Mesum sepertimu."
Pria paruh baya itu tida marah, ia hanya tersenyum kemudian dengan wajahnya yang semakin liar ia mencoba memegang dua buah dada Jiuyang Lin dengan tangannya.
"Tidakk!! Kamu bajingan, aku bilang berhenti!"
Jiuyang Lin Tampak sangat tidak berdaya di bawah tekanan dari Pria paruh baya berwajah cabul, Ia ingin bunuh diri tetapi tubuhnya sama sekali tidak merespon.
Ia menggertakkan gigi dan air matanya mulai membasahi wajah, "Kai Gege, tolong maafkan Lin'er."
Tepat ketika ia selesai berkata, dua kilatan pedang mengarah ke tubuh Pria paruh baya dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan Jiuyang Lin tidak dapat melihat serangan itu.
Ibu jari dari pria paruh baya itu terbelah dan darah mulai mengalir deras dari tempat dimana ibu jarinya terpotong. Ia merintih kesakitan dan dengan marah mencari sumber serangan itu.
Matanya tertuju pada seorang wanita biasa yang menggunakan sebuah gaun tipis berwarna merah, tubuhnya begitu montok dengan dua buah dada yang sangat besar. Bahkan itu lebih besar dari milik Jiuyang Lin.
Itu Adalah Xia Bing Yao.
"Hehe ternyata ada wanita cantik lainnya... Gadis cantik datang kemari, Jika kamu tidak mau menurut maka Heheh.. "
Jubah pria paruh baya itu terbuka memperlihatkan sebuah wajah yang sangat buruk dengan banyak bekas luka terpampang di wajahnya. Ia adalah salah satu Tetua dari Klan Qin, salah satu dari 4 Klan utama di Dataran Xie, karena Klan Jiuyang telah sepenuhnya di musnahkan 5 Klan besar akhirnya berubah menjadi hanya 4 Klan.
Bing Yao masih dalam ekspresi nya yang tenang, dengan hanya gerakan lembutnya sebuah Qi angin dengan cepat mengarah ke Qin Ke, itu begitu cepat bahkan lebih cepat daripada kilatan pedang tadi.
Qin Ke mencoba menghindar tetapi sayangnya ia masih sedikit lambat, Paha kirinya mendapat luka sayatan dan dari luka sayatan itu dapat terlihat sebuah daging merah dan beberapa pembuluh darah di paha Qin Ke.
Ia merintih dengan keras, ia dengan cepat-cepat mengalirkan Qi miliknya untuk menghentikan pendarahan, tetapi ketika ia menyalurkan Qi pada pahanya, luka. itu tidak menutup malah bertambah besar.
"Aregghh.." Akhirnya Qin Ke menggertakkan giginya menahan rasa sakit, Ia berjuang dengan keras berdiri dan memegang sebuah pedang besar.
Dengan Qi miliknya yang luar biasa kuat, ia menyuntikkan Qi miliknya kedalam pedang dan seketika pedang itu bercahaya...
Ia melesat dengan cepat kearah Bing Yao dengan kedua tangannya yang menggenggam pedang, ia mengerahkan seluruh otot-otot dengan sekuat tenaga mencoba menebas Xia Bing Yao menjadi beberapa potong.
Sayangnya dengan kecepatan Bing Yao, ia dengan mudah menghindari serangan itu. Tubuh Bing Yao kini melayang diatas udara, dan bunga mawar mengelilingi tubuhnya dan membentuk sebuah pedang.
"Seni Pedang Mawar, pembunuhan instan."
Suaranya begitu lembut dan memikat jiwa, bahkan Jiuyang Lin juga sedikit terpikat walaupun ia adalah seorang wanita.
Kumpulan Qi itu mengandung niat membunuh yang luar biasa, bahkan hanya dengan sayatan Pedang itu sudah dapat memotong seorang Holy Emperor menjadi beberapa bagian kecil.
"Bajingan Kecil, beraninya kamu menginginkan tubuhku, Tubuh ini hanya dapat disentuh oleh suamiku(Kai maksudnya). Aku akan memberimu kematian yang menyakitkan."
Jejak ekspresi ketakutan terlintas di mata Qin Ke, ia buru-buru berdiri dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk melarikan diri.
Ia melesat dengan sangat cepat di udara dan menuju ke arah barat, tetapi bagaimana ia bisa lolos dari Seni Pedang Mawar milik Xia Bing Yao.
Dan pada akhirnya Qin Ke terbunuh hanya dengan sekali serang. Jiuyang Lin menunjukkan ekspresi tidak percaya, Seorang wanita yang selama ini berpura-pura sebagai orang biasa sebenarnya begitu kuat.
Jiuyang Lin sangat tahu kekuatan milik Qin Ke, itu setidaknya berada di atas ranah Holy Emperor dan juga sudah sangat lama menembus Ranah itu. Tetapi sebenarnya Kakak perempuan Yao dapat membunuhnya dengan sekali serang?
Setelah kembali Ke akal sehatnya, ia melihat Xia Bing Yao dibalut dengan gaun mawar mendekat kearahnya dengan senyum di wajahnya yang sangat cantik.
"Kakak Perempuan Yao, Itu Tadi...Sshhh."
Xia Bing Yao menggunakan jari telunjuknya untuk menghentikan Jiuyang Lin bertanya, ia kemudian menatap Jiuyang Lin dengan hangat.
"Adik Lin, jika suatu saat Suami kita (Zhukai) kembali, katakan padanya untuk jangan mencariku sebelum ia benar-benar berhasil melewati Ranah Holy Emperor atau lebih kuat."
Setelah selesai berbicara dan tanpa penjelasan lain, tubuh Xia Bing Yao benar-benar menghilang dari sana, bahkan auranya ikut menghilang.
Jiuyang Lin segera sadar dan mengungkapkan senyuman hangat, "Baik kakak perempuan Yao."