
Klan fox menggelar pesta hingga pagi hari, sayangnya Kai harus pulang sebelum Tengah malam karena khawatir ibunya akan cemas menunggunya.
"Paman Ming(Patriak klan) aku minta maaf karena tidak bisa ikut pesta ini karena takut ibuku akan cemas menunggu dirumah." Kai berkata dengan sopan.
"Ah, tidak perlu meminta maaf junior Kai, anda adalah penyelamat klan kami. Jika di masa depan anda membutuhkan bantuan tolong hubungi kami dengan batu giok ini."
Patriak Ming menyerahkan sebuah batu giok berwarna hitam dengan setitik cahaya terlihat dari lapisan luar giok, Kai memasukkan kekuatan spiritual nya kedalam batu giok dan menyadari sebuah susunan array terdapat di dalamnya.
"Menarik..!"
Kai menerima batu giok itu dengan senang hati, sebelum ia berjalan pulang tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dibenaknya.
"Paman Ming, jika boleh tahu apakah Paman tahu apa itu Alam Kultivator?"
Patriak Ming terkejut dengan apa yang Kai tanyakan, Ia terdiam beberapa saat kemudian memandang Kai dan berkata, "Memang aku pernah mendengarnya, juga tertulis di catatan leluhur bahwa klan fox kami dan beberapa klan beast lainnya berasal dari Alam Kultivator, tapi ada sebuah kejadian yang memaksa Kaisar Bintang saat itu menggunakan teknik terlarang untuk membuka celah dimensi dan mengirim para klan fox kami dan lainnya ke Bumi."
Mendengar kata-kata Kaisar Bintang sebuah kejutan muncul di mata Kai yang tajam, Ia mengingat kembali deskripsi Kaisar Bintang yang pernah Yi tuliskan di layar Hologram dulu ketika ia pertama kali mendapat Title Kaisar Bintang.
Dituliskan di sana, Kaisar Bintang merupakan seorang Kaisar yang sangat hebat pada masanya, ia membangun sebuah Kekaisaran untuk para ras binatang buas bahkan dari tingkat rendah hingga tingkat Penguasa.
Ternyata klan fox juga termasuk salah satu ras yang pernah tinggal dibawah pimpinan Kaisar Bintang. Untuk saat ini Kai masih belum dapat membuka teknik apapun dari System ataupun Title Kaisar Bintang miliknya.
"Untuk sekarang aku harus fokus pada peningkatan Kultivasi ku, Setelah aku mencapai Ranah Pendekar Raja, Aku bisa menggunakan System kembali." Ucap Kai dalam hatinya.
Setelah itu Kai berpamitan kepada Ibu Yola dan Patriak Ming, Ia juga mengucapkan selamat tinggal pada para anggota klan fox. Di pintu masuk Desa terlihat seorang gadis remaja berdiri di sana.
Cahaya bulan menyinari Tubuh gadis itu membuat nya terlihat sangat mempesona, Kai terdiam sesaat dan mengagumi keindahan yang ada didepannya saat ini.
Gadis itu berdiri Disana cukup lama akhirnya menarik pandangannya ke selatan dan melihat sesosok laki-laki berseragam sekolah berdiri diam sambil memandanginya.
Melihat seorang laki-laki yang telah menyelamatkan dirinya dan juga seluruh anggota klan dan keluarganya, rasa terima kasih tidak akan cukup untuk membalas kebaikannya.
"Tuan, apakah kamu ingin pulang?" Yola dengan hati-hati Bertanya.
"Tolong jangan panggil aku tuan lagi, panggil aku Kai saja sudah cukup."
Kata-kata Kai juga mengandung jejak kehangatan membuat Yola tanpa sadar menangis dan segera berlari kepelukan nya.
"Kai, aku sungguh berterima karena telah menyelamatkan keluarga dan anggota klan fox. Sebagai rasa terima kasih ku aku akan melakukan apapun perintah mu." Yola menangis dalam pelukan Kai, bukan karena sedih melainkan tangisan bahagia.
Kai memeluk Yola dan membelai rambut serta punggungnya, Kai dapat mencium aroma wangi yang memabukkan dari tubuh Yola. Ia mencium dahi nya dan berkata lembut, "Dasar gadis ini.. baiklah karena kau memaksa, aku ingin sebuah ciuman! itu saja."
Kai mengungkapkan senyuman manis yang dapat membuat para gadis langsung jatuh cinta padanya. Wajah Yola sudah sangat merah, Ia dengan malu memegang pipi Kai dan dengan mata tertutup langsung mematuk wajah Kai seperti burung yang mematuk biji-bijian.
Kai menghela nafas, tangan kirinya merangkul tubuh montok Yola sedangkan tangan kanannya memegangi Kepala Yola. Kai memasukan lidahnya yang panas kedalam mulut Yola, Segera Yola terkejut membuka kedua matanya menatap Kai dengan penuh gairah.
Tubuh Kai mengang dan rasa panas menjalar keseluruh tubuhnya, Tangan kirinya sekarang mulai meraba-raba di sekujur tubuh Yola, ia dengan ganas memegangi sua buah bola yang berada di dadanya.
"Ah, Kai... Disana!" Yola mengeluarkan desahan menggoda ketika Kai menyentuh tempat terlarangnya.
Kai segera kembali ke akal sehatnya, "Hehe, Maaf Yola aku terlalu terbawa suasana." Kai tersenyum canggung menatap Yola yang sudah sangat bergairah sekarang.
Yola juga kembali ke akal sehatnya dan memukul-mukul dada Kai dengan malu, "Kamu jahat! Rasakan ini."
Kai tertawa melihat tingkah imut yang Yola tunjukkan, Sekali lagi Kai mencium bibir Yola. Setelah itu Yola terdiam sesaat dan dengan gugup bertanya, "Apakah mulai saat ini aku sudah menjadi pacarmu?"
Kai terkejut mendapati pertanyaan dari Yola, segera ia membuang nafas dan menatap Yola dengan tatapan cabul. Yola yang tak sanggup bertatapan langsung dengan Kai segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kau memang gadis bodoh, kita sudah pacaran sejak di pabrik tadi." Kai mengetuk dahi Yola dan berkata dengan senyuman lebar.
Yola tersipu malu dan memberanikan dirinya untuk memberi Kai sebuah ciuman di pipinya, "Jaga dirimu, S-a-y-a-n-g."
Yola segera berlari ke dalam desa dengan wajah merahnya. Kai terdiam beberapa saat setelah itu dengan cepat memegang tempat Yola menciumnya, "Gadis ini... sangat imut."
Kai meninggalkan wilayah Klan fox dengan suasana hati yang sangat gembira, Ia segera sampai di rumah. Ketika hendak mengetuk pintu, Ia melihat ibunya sedang duduk di sebuah bangku kecil di halaman.
"Ibu kenapa kamu masih belum masuk, udara di sini sangat dingin. Apakah ibu tidak takut terkena masuk angin?" Kai bertanya dengan khawatir dan segera melepas bajunya untuk di pakaian pada tubuh ibunya.
Chiyan berbalik dan melihat Kai berdiri di sampingnya menatap dirinya dengan cemas, "Anak bodoh, kenapa kamu kembali larut malam, apa kau tahu ibu sangat khawatir padamu."
Butiran air mata mulai menetes di wajahnya yang cantik, Ia memeluk Kai dengan erat seakan enggan berpisah dengannya.
"Ibu, Kai minta maaf, Aku berjanji tidak akan pulang larut malam lagi."
Kai berkata dengan tulus, setelah beberapa waktu berlalu. Tubuh Kai telah basah karena air mata yang Chiyan keluarkan.
"Anak nakal, sekarang ibu akan menghukum mu, Untuk 3 hari ke depan, Ibu tidak akan memberimu uang saku lagi." Chiyan berkata dengan marah tapi itu semua hanyalah pura-pura, sebenarnya ia tidak ingin menghukum Kai.
Kai tidak menjawab dan segera membawa ibunya masuk kedalam Rumah, terlihat di ruang makan ada banyak sekali makanan yang masih hangat seperti baru saja di panaskan.
Saat ini jam tangan Kai telah menunjukkan pukul 22.45, Ia tahu bahwa ibunya telah memanaskan makanan untuk nya beberapa kali agar tidak menjadi dingin.
"Terima kasih ibu." Kai mendekatkan wajahnya dan mencium Pipi Chiyan.