
Hukum rimba, itu adalah sebuah hukum mutlak bagi setiap Kultivator. Dimana yang kuat adalah yang berkuasa sedangkan yang lemah tertindas.
Sedangkan saat ini, tepat di depannya dua orang yang baru saja ia temui dua hari lalu di hutan luar kota Ashura, di gantung disebuah tiang besar dengan tubuh mereka dipenuhi dengan bekas luka.
Bahkan jika waktu itu Zhukai tidak menolong mereka, takdir yang mereka akan hadapi adalah kematian.
"Haahh, dunia ini sungguh kejam. Suatu saat ketika aku sudah mencapai puncak dunia, aku akan menciptakan dunia dimana tidak ada pertumpahan darah."
Setelah Kai mengucapkan kalimat itu, dia berbalik dengan helaan nafas berat.
Ketika dia kembali ke penginapan ia duduk di atas lantai, mengambil sikap Lotus dan mulai berkultivasi.
Ia memasukkan beberapa oil kedalam mulutnya dan memejamkan matanya untuk berkultivasi. Sayangnya, entah seberapa banyak pil yang telah Kai telan, tidak ada perubahan besar pada Kultivasinya.
"Tch.. Yi'er, apakah di toko System memiliki herbal langka yang bisa aku gunakan untuk menyuling Pil?"
[Sebenarnya ada ratusan untuk itu Kai Gege, kamu tinggal memilih salah satu diantara mereka]
Layar Hologram besar muncul tepat dihadapan Zhukai, disana ada banyak sekali herbal-herbal langka yang jarang di jumpai di Alam Dewa.
Tetapi setiap dari herbal itu berharga sangat mahal, yang termurah saja berharga seratus juta Poin Takdir.
"Aku tidak berniat menghabiskan Poin Takdir ku dengan herbal-herbal ini." Kai berfikir sejenak, ia mencari cara yang lebih baik dengan itu.
Selang beberapa detik, Kai akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sepuluh miliar Poinnya untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menyuling Pil.
Bahkan intinya ada sebuah kristal berwarna hitam pekat, itu mengandung energi kematian yang sangat cocok dengannya.
Kai tidak perlu menggunakan tungku untuk menyuling Pil, karena ia memiliki dua api ilahi, seharusnya ia dapat dengan mudah untuk menyuling Pil tanpa menggunakan tungku.
Ia melemparkan bahan-bahannya ke udara, ia juga mengeluarkan Api Phoenix dan Api Neraka kemudian mulai mencairkan bahan-bahan itu.
Setelah bahan-bahan itu telah tercampur, Kai akhirnya melemparkan kristal hitam dan mulai memadatkan bahan itu menjadi sebuah pil.
"Hahh!!.."
Duarr!!
Ledakan keras menggema di seluruh ruangan, asap debu mulai mengumpul dan menghalangi pandangan Zhukai.
Ketika asap debu itu perlahan menghilang, tepat di depannya, sebuah pil hitam dengan bau busuk melayang di atas udara.
Meski pil itu mengeluarkan bau busuk, tetapi efek yang dihasilkan berbanding terbalik dengan penampilannya.
Kai menelan ludahnya, ia mengangkat tangannya dan mengambil pil.hitam yang melayang di udara.
"Hoek, bau yang dikeluarkan pil ini benar-benar busuk."
Meski begitu, Kai memaksakan dirinya untuk menelan pil itu.
Kai mengunyahnya dan rasa pahit dan aneh dengan cepat memenuhi mulutnya. Meskipun Kai ingin muntah, dia tetap bertahan hingga akhirnya menelan pil itu.
Setelah Pil hitam tersebut terlarut kedalam perutnya, itu dengan cepat menyebar keseluruh Meridian hingga berkumpul di satu titik ... Laut Qi (Dantian).
Booomm!!
Ledakan sekali lagi terdengar begitu keras, wajah Zhukai yang memucat setelah menelan pil pahit itu kembali dipenuhi energi.
Luapan energi spiritual secara terus-menerus merembes keluar dari tubuh Zhukai melewati pori-pori kulitnya.
Aura disekitarnya juga berubah bersamaan dengan membesarnya Meridian yang ada di dalam tubuhnya.
Kai mengukir senyum lebar di wajahnya bersamaan dengan tangan kanannya yang mengepal.
Immortal God tahap Abadi!.
Dengan kenaikan Kultivasinya, Kai hanya butuh selangkah lagi untuk memasuki ranah Dewa Semesta.
Pada saat yang sama, tepat di sebelah kamarnya, Chi Bingxin yang sedang bermain dengan Xiao Hu tiba-tiba terkejut dengan energi yang begitu besar berasal dari kamar ayahnya.
"Dasar ayah! Kecepatan Kultivasinya sangat abnormal." Dia terkekeh dengan matanya yang menyipit.
Chi Bingxin bersenandung sambil mengambil kain untuk membuat sebuah pura di tanduk Xiao Hu.
"Huu... Huu..."
Karena seharian dia dipermainkan oleh Chi Bingxin, Xiao Hu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
Pada akhirnya, setelah semalaman penuh, Xiao Hu sama sekali tidak bisa tidur karena harus menemani Chi Bingxin bermain.
Esok paginya, Zhukai mengetuk pintu kamar Chi Bingxin tiga kali dan menyuruhnya untuk bersiap-siap.
"Baik ayah, tunggu sebentar."
Sesaat setelah pintu terbuka, dengan kecepatan yang bahkan membuat Kai terkejut, Xiao Hu keluar dari kamar Chi Bingxin dan segera melompat ke pundak Zhukai.
"Grrr... Huu..."
Dia memberi Chi Bingxin tatapan marah dan ingin segera menjauh darinya.
"Baiklah, ayah akan menunggu di lantai bawah."
Kai turun dari lantai kedua, ia berjalan menuju ke meja yang masih kosong.
"Permisi, aku besan makanan ringan dan satu kendi arak."
Karena ia masih menunggu putrinya bersiap diri, ia merasa kalau makan arak di pagi hari juga cukup bagus.
Ketika pesanannya datang, Zhukai memegang kendi arak itu dan meneguknya secara langsung.
Ia menatap keluar jendela yang terbuka, sinar matahari hangat menerpa tubuhnya dan membuatnya segar.
"Ayah, aku sudah bersiap ayo pergi.."
Chi Bingxin turun dari lantai dua dengan penampilan yang benar-benar berbeda. Dia memakai pakaian layaknya seorang wanita sungguhan dengan tampilan feminim.
Karena selama ini Chi Bingxin tidak pernah memakai pakaian itu, dia sama sekali tidak terbiasa. Tetapi karena ayahnya yang menyuruhnya, ia tidak ragu sama sekali.
Seketika, Chi Bingxin dengan cepat menjadi pusat perhatian dari para pemuda yang ada disana karena kecantikannya.
Rambut panjangnya yang terikat tapi dengan lekukan tubuhnya yang terlihat, ia benar-benar terlihat seperti wanita dewasa yang sangat cantik.
Melihat ada banyak pemuda yang menatap putrinya, Kai memberi mereka semua tatapan tajam.
"Kalian berani memandang putriku dengan tatapan itu, akan aku congkel mata kalian." Ujarnya dalam hati.
"Ayah, aku benar-benar tidak terbiasa dengan pakaian ini."
"Jangan mengeluh, kamu itu seorang wanita, jadi kamu harus berpakaian layaknya seorang wanita dewasa." Ucap Zhukai sambil menasehati putrinya.
"Karena kita masih di kota ini, haruskah aku membelikan mu beberapa pakaian lain?"
Mendengar itu, Chi Bingxin dengan cepat menggeleng. Dia segera mendesak ayahnya untuk segera pergi.
Jika kakaknya sampai tahu dia berpenampilan seperti itu, Chi Bingxin bisa membayangkan betapa parahnya kakaknya akan membulinya nanti.
"Hahaha, jangan malu seperti itu. Ayo."
Kai dan putrinya dengan cepat berkeliling di kota Ashura bagian dalam, setelah Kai merasa cukup banyak membelikan putrinya hadiah, ia mengambil sebuah pedang dan mengalirkan Qi miliknya.
"Mari naik..."
Sesaat sebelum Chi Bingxin naik, dia dengan malu berkata pada Zhukai. "Ini mungkin sedikit memalukan untuk mengatakannya tetapi, terimakasih untuk hadiahnya ... Ayah!."
Mendengar senyuman di wajah putrinya, Kai sekuat tenaga menahan air mata agar tidak keluar dari matanya.
Dia menatap Chi Bingxin dan berkata dalam-dalam, "Tidak Bing'er, kamu seharusnya membenci ayah sepertiku yang telah membuatmu dan kakakmu menderita."
Chi Bingxin menggeleng, "Itu tidak benar, aku malah sangat bersyukur karena ayah masih mengingat kami berdua."
Tanpa diduga, Kai meneteskan air mata di wajahnya.
"Hihi, apakah ayah terharu sampai menangis seperti itu." Chi Bingxin tertawa kecil, tetapi jauh di dalam hatinya dia sangat bahagia.
"T–Tidak.. Mataku hanya kemasukan debu." Kai menjawab dengan malu sambil mencari alasan.
Dia dan Chi Bingxin naik keatas pedang bersama Xiao Hu yang duduk di pundak Zhukai.
Mereka berdua melesat bagaikan roket untuk menuju ke Sekte Ashura.
***
Bersambung..