
Di dalam kereta yang memiliki ruang yang cukup lebar, Kai tertidur dengan menggunakan paha Yu Chi Lan sebagai bantal.
Melihat itu, Biao Jian sedikit iri. Tetapi rasa iri itu segera menghilang setelah melihat senyuman bahagia di wajah ibunya.
"Ibu, kamu baru saja tersenyum.." Biao Jian tertawa kecil, dia juga mendekati ibunya dan bermain-main dengan rambut panjang ibunya.
"Eh, J–Jian'er..." Yu Chi Lan bergumam pelan memanggil nama putrinya.
Karena selama ini dia hanya memanggil Biao Jian dengan 'Putriku' Ia merasa sedikit kurang dekat dengannya.
"Ya? Apakah ibu baru saja memanggil ku?"
"Ah, T–Tidak..."
"Anu ibu, aku minta maaf telah mengatakan sesuatu yang buruk padamu dulu.." Sambil bermain-main dengan rambut ibunya, Biao Jian berkata dengan nada sedih.
"Hmm, Tidak apa-apa putri ku sayang, ibu sangat senang bisa bertemu denganmu kembali. Maaf aku tidak bisa menjadi ibu yang baik bagimu.." Yu Chi Lan memeluk putrinya erat, setelah kematian suaminya, ia selalu sendiri dan itu membuat hatinya sedih.
Tetapi sekarang, ada cahaya baru dalam hidupnya yaitu putri tercintanya. Bahkan jika harus mengorbankan nyawanya untuk menolong putrinya, Yu Chi Lan tidak akan ragu.
Waktu telah berjalan, kereta kuda yang Kai naimi berhenti setiap malam tiba. Karena kereta kuda itu sangat mewah, Kai menghabiskan 70 batu raja untuk pergi ke Kota terdekat.
Ketika malam hari tiba, Kai tidak membangun sebuah tenda. Dia hanya membuat sebuah api unggun dan memasak sup untuk makan malam.
Ketika waktu untuk tidur, Kai mengambil selimut besar yang cukup untuk menutupi tubuhnya serta dua gadisnya agar tidak kedinginan.
Perjalanan Kai menuju kota terdekat berlalu tanpa ada hambatan. Ketika dia sampai di gerbang kota, terdapat tembok yang begitu besar sekitar sedikit lebih tinggi dengan gerbang kota awan.
Karena Kusir kereta kuda merupakan seorang yang berpengalaman, Kai masuk tanpa adanya hambatan.
Setelah masuk kedalam kota, kusir kuda mulai menjelaskan secara umum tentang kota yang mereka masuki saat ini.
Setelah mendengar penjelasan dari kuris kuda, Kai tahu bahwa kota yang dia masuki saat ini adalah ibukota Benua Xuanzhen.
Kota Bulan!!
Sedangkan Istana Kaisar, itu berada jauh di dalam kota. Jika Kai ingin kesana, dia setidaknya membutuhkan waktu empat hari dengan kereta kuda.
"Ada apa itu? Kenapa sangat ramai?"
Kai bertanya, salah satu jarinya menunjuk kesebuah tempat yang mirip seperti arena pertarungan tetapi tempat itu sedikit melayang di udara.
"Oh, itu ada tempat pertaruhan. Setiap hari akan ada banyak orang untuk berjudi dan bertaruh siapa yang akan memenangkan pertarungan dengan uang mereka." Jelas kusir kuda panjang lebar.
Kai mengangguk dan memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan. Dia sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu.
Ketika dia sudah berada cukup jauh ke dalam kota, ada sebuah toko yang membuatnya tertarik. Itu karena toko tersebut mengeluarkan bau yang begitu harum dan juga aura yang misterius.
"Kusir, berhenti!!.."
Dengan perintah Zhukai, kusir kuda mulai menghentikan kereta kuda tepat di depan toko tersebut.
"Ada apa Kakak?"
Di sampingnya, Biao Jian bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Tidak apa-apa Jian'er, hanya saja ada sesuatu yang membuatku tertarik.."
Kai keluar dari dalam kereta kuda dan masuk kedalam toko, terlihat seorang pria muda sedang duduk sambil membaca sebuah buku di tangannya.
"Permisi..."
Mendengar suara seseorang masuk, pria muda itu segera menutup bukunya dan menyambut Zhukai dengan penuh hormat.
"Ah, selamat datang pelanggan terhormat. Jika boleh saya tahu, apakah ada barang yang anda cari di toko kami?"
"Ah, biarkan aku mencari-cari terlebih dulu."
"Silahkan."
Toko itu tidak besar, itu hanya seluas sebuah rumah kecil. Tetapi, barang-barang yang di jual di toko itu cukup langka, bukan hanya herbal, melainkan juga artefak dan juga senjata.
"Hmm.." Kai bergumam pelan dan terus berjalan mencari sumber Aura misterius yang menarik minatnya.
"Ada apa?.."
Mendapati pertanyaan dari Zhukai, pemuda itu terkejut kemudian tertawa kecil.
"Tidak ada tuan, tetapi kenapa aura yang keluarkan mirip dengan penguasa Alam Dewa?"
Kai terkejut, minatnya pada aura misterius menghilang digantikan dengan rasa penasaran dengan apa yang baru saja pemuda itu Katakan.
"Apa maksudmu?"
"Ya, seperti yang aku bilang tadi. selain aura, fitur wajah, dan juga tatapan matamu semua sama dengan dia.." Jawab pemuda itu acuh tak acuh.
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu dengan percaya diri, memangnya kau dekat dengannya?"
"Tentu saja, itu karena aku adalah bawahan–.. Oh tidak, tuan-tuan lupakan apa yang baru saja aku katakan tadi.." Pemuda itu bersikap dengan sangat gugup.
"Hmm, terimakasih atas informasinya..." Kai segera berjalan untuk mencari aura misterius itu.
"Maaf, aku harus menggunakan cara kasar.."
Dari belakang, sebuah kepalan tangan melesat dengan begitu cepat. Untuk Kai sendiri dalam jarak seperti itu akan sulit untuk di hindari.
Whuss!!
Tubuh Zhukai menghilang dan muncul kembali tepat di belakang pemuda tadi.
"Heh, aku sudah tahu bahwa kau akan bertindak seperti itu.."
Kai menepuk pundak pemuda pemilik toko dan mengalirkan Api Phoenix kuno nya hingga membuat baju pemuda itu terbakar.
Meski pakaian pemuda itu habis terbakar, kulitnya sama sekali tidak tersentuh seolah-olah terdapat sebuah pelindung tipis yang melindungi tubuhnya.
Pandangan Kai segera terfokus pada sebuah kain di dada pemuda itu, "Eh, k–kau... Kau seorang wanita!!.."
Blinkk!!..
Seolah wajah pemuda itu berubah, sosok yang begitu cantik dengan lentik mata yang begitu indah.
Tetapi jika Kai harus melihatnya lebih teliti lagi, wanita itu terlihat seperti Meng Yudie.
"Grr... Mati kau bajingan mesum!!.."
Gadis itu buru-buru mengeluarkan sebuah kain untuk menutupi tubuhnya. Dia menarik sebuah pedang pendek dan menyerang Zhukai.
Sebuah pedang dengan kecepatan tinggi mengarah padanya, Kai yang terkejut sedikit terlambat menghindar dan membuat sebuah luka sayatan di pipinya.
Tubuhnya yang begitu pendek membuat pergerakan gadis itu begitu cepat dan lincah.
"Segel Domain : Sayatan Godhood."
Pedang pendek yang dipegang gadis itu mengeluarkan sebuah cahaya terang bersamaan dengan hembusan angin yang berputar disekitarnya.
Crat! Crat!!..
Kai begitu terkejut ketika mendapat luka sayatan di sekitar lengan dan juga kakinya. Bahkan pakaiannya juga mulai sobek karena terkena luka sayatan Pedang.
Ia telah melatih tubuhnya denagn berbagai cara hingga sampai tingkat tertentu, bahkan jika musuhnya adalah seorang Immortal God Tahap Abadi, itu tidak akan cukup melukainya hanya dengan beberapa sayatan..
"Tch, jika terus begini akan gawat..."
"Teknik Penguatan Tubuh : Tubuh Suci.."
Duarr!!..
Toko yang Kai masuki saat ini meledak, terlihat sosok pria dengan dua pasang sayap berwarna putih terbang di atas udara.
Sementara itu, di bawahnya sosok gadis cantik dengan membawa pedang pendek menatap pemuda itu dengan penuh niat membunuh..'
***
Bersambung..