
"Hahaha, aku tahu kamu pasti berhasil.." Iblis Pedang tertawa terbahak-bahak sambil berjalan mendekat kearah Zhukai.
Sebenarnya dia sangat khawatir tentang muridnya karena dia juga pernah mengalami ujian itu.
Bahkan saat itu Iblis Pedang hampir saja gagal dalam membangkitkan Garis Keturunannya. Tetapi karena beberapa keberuntungan, dia akhirnya bisa menyelesaikan Ujiannya.
"Bagaimana? Garis Keturunan mu berada di tingkat berapa?"
"Tingkat? Tingkat apa yang guru maksudkan?" Kai berkata dengan kedua alisnya berkedut.
"Eh, apakah aku belum memberitahumu? Garis Keturunan Sekte kami di bagi menjadi 5 tingkatan."
"Tingkat satu yang berarti biasa, Tingkat dua yang berarti langka, tingkat tiga yang berarti super langka, tingkat empat berarti legenda, dan tingkat Lima berarti surga.
"Garis Keturunan ku berada di tingkat tiga, dengan begitu kecepatan Kultivasi ku meningkat sebanyak 5 kali lipat." Ujar Iblis Pedang menjelaskan.
Kai segera mengangguk paham. Gurunya berada di tingkat dua, hal itu membantu Kecepatan Kultivasinya meningkat 5 kali lipat.
Sedangkan untuk Kai, kecepatan Kultivasinya meningkat 10 kali lipat. Dia seharunya berada di tingkat empat.
"Kurasa aku berada di tingkat empat guru."
"Benarkah? Kamu memang lebih berbakat dariku, aku sudah menduga hal ini hahaha."
Setelah berbicara untuk waktu yang cukup lama, Kai dan Iblis pedang segera meninggalkan Altar Pembangkitan.
Ketika Kai dan Iblis Pedang sampai di halaman Sekte, Iblis Pedang menghentikan langkahnya dan bertanya.
"Kai, berapa lama kamu akan tinggal di Sekte ini?" Ucap Iblis pedang dengan wajah serius. Dia sudah menyadari ini sedari awal bahwa Kai tidak akan tinggal lama di dalam sektenya.
Tetapi ia sangat bahagia karena Kai masih mengingat dia sebagai gurunya.
Mendengar pertanyaan itu, Kai tidak langsung menjawab. Dia berfikir untuk waktu yang cukup lama.
"Aku tidak tahu, mungkin 4 hari lagi atau juga bisa lebih lama." Ucap Kai dengan suara pelan, jelas sekali bahwa dia sangat tidak ingin menyakiti hati gurunya.
Iblis pedang nyang mendengar itu hanya tertawa kecil dan tidak bertanya lagi, "Kalau begitu aku akan pergi, kamu pergi berlatihlah. Jika kamu kekurangan sumber daya, katakan saja padaku."
Kai mengangguk, setelah dia menatap siluet gurunya pergi, dia juga segera berbalik untuk pergi.
Tak berselang lama, Kai tiba di depan sebuah rumah yang begitu besar. Rumah itu terletak tepat di samping lapangan untuk murid berlatih.
Kai melangkah mendekat kearah rumah itu dan mengetuk pintunya sebanyak tiga kali.
Klakk!!
Setelah pintu terbuka, sosok wanita dengan pakaiannya yang sedikit terbuka, keluar wajahnya yang agak pucat.
"Ah, T–Tuan.. Ada urusan apa kemari?" Ucap Tetua Lin dengan tubuh gemetar. Dia masih sangat ingat bagaimana rasa sakit yang dialaminya beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu, seringai di wajah Kai semakin melebar. Dia menatap Tetua Lin dan berkata. "Bagaimana? Apakah kamu bisa melepaskan diri dari Segel Jiwaku."
"Aa–aaaa...." Tetua Lin membuka mulutnya, tetapi tidak ada satupun kata yang keluar darinya.
"Hehe, Tidak perlu panik seperti itu. Aku tidak akan menghukum mu. Jadi, apakah kamu sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan padamu?" Kai bertanya tanpa menghapus seringai dingin di wajahnya.
"A–Aku sudah melakukannya seperti yang tuan minta. Dia akan datang nanti malam di rumahku."
"Bagus, ini hadiah untukmu." Akai melemparkan sebuah botol kaca yang berisi Pil Kultivasi.
"Itu Pil Kultivasi.." Jawab Kai acuh tak acuh.
"T–Tapi kenapa tuan memberiku Pil ini, Bukankah aku hanyalah sebuah budak bagimu?" Tetua Lin sekali lagi bertanya.
"Dengar ini, Aku tidak pernah menganggap mu sebagai budak. Aku sangat tidak menyukai hal-hal seperti itu." Kai mendengus dengan dingin dan berkata pada Tetua Lin.
Setelah itu, Kai berbalik dan segera kembali ke rumahnya. Sementara itu, ketika Tetua Lin menatap sosok Zhukai perlahan menghilang, dia bergumam pelan.
"Bocah yang aneh..."
***
Malam hari akhirnya tiba, Kai yang saat itu sedang berlatih mulai membuka kedua matanya. Dia menatap ke sekitarnya dan menghembuskan nafas pelan.
"Huuu Haaahhh... Ini luar biasa, efek dari garis keturunan Kera suci benar-benar mencengangkan." Kai berkata dengan takjub melihat peningkatan besar pada Kultivasinya.
Dia segera berdiri dan menggunakan Shadow Clone untuk membuat satu Clone bayangan. Dia menyuruh Clone itu berlatih sementara dirinya pergi ketempat Tetua Lin.
Dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, Kai melesat dengan cepat dalam gelapnya malam hari itu.
Jarak antara kediamannya dengan Tetua Lin terpaut beberapa Mil. Selang dua menit berlalu Kai sampai dan menggunakan Lapisan tak terlihat untuk membuat tubuh serta auranya menghilang.
"Hmm.. Benar saja, di dalam rumah ini ada aura wanita waktu itu.."
Kai tidak langsung masuk kedalam, dia membuat Array Penghalang terlebih dulu dan memperkuatnya dengan darahnya.
Begitu Array Penghalang terbentuk, Kai segera masuk kedalam rumah Tetua Lin melalui jendela yang terbuka lebar.
Tepat ketika di masuk, Kai melihat dua sosok wanita yang cukup cantik. Mereka berdua adalah Tetua Lin serta wanita yang ditemuinya kemarin.
"Huang Lin, kenapa kamu memanggilku kemari. Apa kamu tahu betapa susahnya baku untuk masuk kedalam sekte ini." Wanita itu menggerutu kesal sambil melepas jubah yang di pakainya.
"Hahh pengap di dalam sini. Apakah kamu tidak merasa kepanasan." Tanya Wanita itu pada Tetua Lin.
Sementara itu, Tetua Lin hanya diam saja sambil memejamkan matanya. "Kapan dia datang, Apakah dia hanya mempermainkan ku." Batin tetua Lin cemas sambil berharap Kai akan segera datang.
"Hei Huang Lin, kenapa kamu diam saja." Wanita itu berkata sambil menatap penuh curiga.
"Ah, Itu.. B–Benar disini sangat pengap bukan? He He.."
"Hmm, ada yang aneh denganmu Huang Lin. Cepat katakan kenapa kamu memanggilku kemari?"
Tetua Lin terdiam, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan nya. "Maaf Xue Lian, Aku lupa tentang hal itu."
"Apaa!! Bagaimana kamu bisa lupa.. Cih, membuang-buang waktuku saja." Wanita yang dipanggil Xue Lian itu berkata dengan sangat marah.
Dia mengambil jubahnya dan segera berjalan menuju pintu. Tepat ketika dia ingin melangkah keluar, ia terpental mundur beberapa langkah kebelakang.
"Bagaimana bisa!! Ada sebuah Array disini." Xue Lian segera mengalihkan pandangannya pada Huang Lin, sudut mulutnya terbuka dan beberapa kata keluar darinya.
"Huang Lin, jangan-jangan kamu–..." Belum sempat Xue Lian menyelesaikan kata-katanya, terdengar sebuah tawa yang begitu keras dari dalam ruangan.
"Kekeke.. Tepat seperti yang kamu pikirkan, Tetua Lin sudah berkhianat pada kalian."
***
Bersambung..