
Melihat langit yang perlahan berubah warna, Sun God merasakan perasaan gelisah di dalam hatinya.
"Apa yang terjadi?" Sun God bertanya pada Sky God setelah melihat warna langit yang berubah menjadi hitam.
"Aku juga tidak tahu, kurasa kertas di tangannya itu yang mengubah atmosfer disekitar kita." jelas Sky God sedikit gelisah.
Tak berselang lama, gelombang angin yang begitu besar berhembus dan membentuk sebuah lingkaran angin bercampur dengan debu di udara lepas.
Karena gelombang angin bercampur debu itu, pandangan setiap orang menjadi tertutup. Mereka memejamkan kedua mata agar debu tidak bisa masuk kedalam mata mereka.
Saat sembilan dewa perang kuno merasa bahwa pusaran angin itu tiba-tiba berhenti, mereka semua membuka kedua mata mereka.
Sementara itu di atas langit yang telah berubah menjadi hitam, terlihat sebuah petir berwarna merah dengan tekanan besar berasal dari petir itu.
Sun God mendongak keatas dan melihat petir merah itu, saat dia merasakan tekanan yang berasal dari petir itu. Wajahnya berubah menjadi pucat.
"Sial, ini tidak baik! kalian semua, cepat buat pelindung!..." Sun God berteriak keras setelah dia menyadari ada yang salah dengan petir itu.
Sayangnya, sebelum semua pasukan itu selesai membuat pelindung, sambaran petir pertama turun.
Zzrrtttt!!
Ctarr!!
Petir merah itu turun dan menghantam area dimana pasukan dewa perang berada.
Boomm!!
"Arghh!!"
"Selamatkan aku!.."
Teriakan dari para prajurit terus menggema di telinga sembilan dewa perang kuno. Mereka hanya bisa diam tanpa bisa menyelamatkan mereka dari petir itu.
Sambaran petir kedua dan ketiga turun. Itu juga mengakhiri perubahan warna di atas langit.
Boomm!!!
Boomm!!
Ledakan besar kembali terjadi, sambaran petir ketiga yang di hasilkan dari petir merah itu telah memusnahkan hampir sepertiga dari jumlah pasukan dewa perang.
Ding!. Ding!. Ding!.
Berbagai notifikasi terus berdering di dalam kepalanya.
Ding!.
[Kai Gege membunuh 30 juta pasukan Dewa Perang, menghitung poin ....]
[Kai Gege mendapatkan 34,61 Kuadriliun Poin Takdir dan 69,22 Kuadriliun Poin Pengalaman]
Dengan berakhirnya notifikasi system, Kai merasakan adanya energi spiritual yang begitu besar bergejolak di dalam tubuhnya.
"Ini ... Kesempatan ku untuk menerobos!."
Kai dengan cepat-cepat memasang Array pelindung di sekitar tubuhnya dan memerintahkan seluruh pasukan Undead nya untuk melindunginya selama menerobos.
Dia tidak mungkin membiarkan kesempatan menerobos itu akan menjadi sia-sia. Karena terobosan adalah hal yang sulit bagi sebagian Kultivator, tidak mungkin mereka akan melepas kesempatan emas seperti itu.
Dengan terbentuknya array pelindung, Kai segera mengambil sikap lotus dan memejamkan kedua matanya.
Sementara itu, sembilan dewa perang yang dikejutkan dengan kematian tiga juta pasukannya cukup terpukul.
Apalagi setelah melihat sebuah kawah seluas tiga mil di depan mereka, mereka semua jelas tahu bahaya yang mereka dapatkan jika membantu pasukannya menahan sambaran petir merah.
"Sial! bagaimana ada jimat seperti itu di dunia ilahi!." Earth God menahan nafas sesaat setelah melihat dampak serangan petir merah itu.
Detik berikutnya, terdengar teriakan dari Thunder God, "Tidak baik, dia mencoba menerobos di saat-saat seperti ini."
"Apa!!!..." Sun God yang mendengar itu segera mengerutkan keningnya.
Dia memfokuskan pandangan hingga akhirnya melihat sosok Zhukai yang sedang duduk bersila dengan banyaknya energi spiritual yang bergejolak di sekitarnya.
"Sial!! Jangan biarkan dia menerobos atau itu akan menjadi akhir dari kita semua." Sun God berteriak keras tanpa ragu memerintahkan 60 juta pasukannya yang tersisa untuk menyerbu Zhukai dari berbagai arah.
Martial God juga mengangguk setuju dengan apa yang Sun God katakan. Jika Zhukai benar-benar dapat menerobos, tidak ada peluang menang untuk mereka.
Dengan tiga juta Undead yang melindungi Zhukai di setiap sisi, Undea-undead itu dengan cepat terdesak oleh jumlah pasukan dewa perang.
Hanya dalam setengah jam berlalu, hanya tersisa puluhan Undead yang tersisa.
"Mundur!!... Ada array pelindung yang mengelilinginya." Moon God mengangkat tangan nya untuk menghentikan pasukannya.
Delapan dewa perang lain juga segera sadar bahwa terdapat Array pelindung yang sangat kuat mengelilingi tubuh Zhukai.
"Kekuatan fisik tidak berpengaruh terhadap pelindung ini, kita butuh sesuatu yang menggunakan energi murni untuk menghancurkannya."
Tepat setelah Sky God menyelesaikan kalimatnya, dia tiba-tiba teringat dengan sebuah artefak yang ia temukan secara tidak sengaja di Alam rahasia.
"Apakah kita bisa menggunakan ini?" tanya Sky God sambil mengeluarkan sebuah palu besi yang terlihat sangat biasa.
Delapan dewa perang lain mengerutkan keningnya sambil mencoba mengutuk Sky God dalam hati. "Apa kau bodoh!! Bagaimana palu seperti itu bisa menghancurkan Array pelindung–..."
Detik berikutnya, wajah semua orang dipenuhi dengan keterkejutan. "Sky God, jangan bilang ..."
"Benar, ini adalah palu pemurnian suci. Meski hanya sedikit penjelasan tentang palu ini di catatan kuno, tapi kurasa ini akan bekerja."
Setelah menyelesaikan ucapannya, Sky God menyerahkan palu itu pada Martial God.
"Kenapa kau memberikan ini padaku!?"
"Apa? tentu saja karena kau yang memiliki fisik paling kuat di antara kami." jelas Sky God.
Mendengar itu, Martial God menganggukkan kepalanya dan mengambil palu hitam dari tangan Sky God..
Setelah palu itu berada di genggaman tangan Martial God, dia menatap palu itu sekilas kemudian menghela nafas panjang.
Dia mengalirkan energi spiritualnya kedalam palu hitam itu. "Hraaa..."
Otot-otot di kedua tangan Martial God bereaksi dan memunculkan urat-urat di sekujur tangannya.
Bamm!!
Saat palu itu menghantam Array pelindung yang Kai buat, ledakan terdengar memekakkan telinga semua orang.
Itu terdengar seperti besi yang tengah menghantam besi lain, sangat kuat dan juga kokoh.
Saat pandangan delapan dewa perang menatap tempat dimana Martial God memukul lapisan pelindung itu, terlihat sebuah retakan kecil di tempat itu.
"Hahaha, itu bekerja! itu bekerja!." Wajah semua orang dipenuhi dengan kegembiraan dan juga kemenangan.
Karena setelah mereka berhasil menghancurkan Array pelindung tersebut, kemenangan akan berada di pihak mereka.
Pihak dewa perang.
Bam! Bam! Bam!..
Martial God tanpa henti mengayunkan palu pemurnian suci pad lapisan pelindung itu hingga membuat retakan di pelindung itu selain membesar.
Selang beberapa menit setelah itu, terdengar suara...
Pyaar!!..
Lapisan pelindung itu akhirnya hancur setelah Martial God tanpa henti memukulnya. Terlihat raut wajah kelelahan dan juga keringat yang mengucur deras membasahi tubuhnya.
"Ha Ha Ha..." Martial God menghela nafas panjang sambil menyeka keringat itu.
"Hahahaha... Apa yang kalian tunggu, cepat akhiri hidupnya..." Martial God tertawa lepas.
Mendengar itu, delapan dewa perang benar-benar sangat gembira. Terlihat senyuman terukir di wajah masing-masing orang.
"Matilah kau dewa bintang!!..."
Saat banyak serangan tertuju ke arahnya, waktu seolah-olah berhenti berjalan.
Tepat di depan Zhukai, keluar sosok wanita cantik dari dalam pedang hitam yang tertancap di tanah di depan Zhukai.
"Hubby, kamu terlalu ceroboh tahu... Aku akan membantumu menahan mereka sebentar, jadi cepatlah menerobos."
***
Bersambung...