Re-system

Re-system
Alam Bintang



Melihat kepercayaan diri di wajah Xia Wen, Zhukai mencoba menhan diri untuk tidak tertawa.


Meski begitu, Zhukai tidak bisa menahan tawa keluar dari mulutnya. "Hahaha..."


"Hah!? Apa yang kau tertawakan keparat."


"Haha, tidak ada... Aku hanya menertawakan seberapa bodohnya dirimu. Jika kau memang sangat percaya diri dengan artefak itu, kenapa kau tidak segera pergi dari sini."


Mendengar itu, Xia Wen merasa ada yang aneh dengan ucapan Zhukai. Tetapi karena dia ingin segera melarikan diri, ia tanpa ragu memecahkan giok itu dengan tangannya.


Tepat setelah giok itu hancur, tubuh Xia Wen sama sekali tidak menghilang. Dia tetap berdiri dengan bodoh di tempatnya.


Melihat bahwa artefak miliknya tidak berfungsi, keringat dingin mulai mengucur di wajah Xia Wen..


Saat pandangan matanya menatap Zhukai yang tak jauh di depannya, Zhukai secara tiba-tiba muncul di depannya dan mencengkeram leher Xia Wen dengan kuat.


"Arghh..." Xia Wen menjerit kesakitan sambil mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri.


Sayangnya, karena kekuatannya jauh lebih lemah dibandingkan Zhukai, Xia Wen sama sekali tidak bisa melepaskan diri.


Sementara itu, tetua Klan yang melihat dari jauh hanya berdiam diri tanpa menolong Xia Wen yang sedang di ujung kematian.


Ini bukan karena mereka tidak ingin menolong Xia Wen, tetapi jika mereka membantu Xia Wen, Kai pasti akan membunuh mereka setelah membunuh Xia Wen.


Saat cengkeraman Zhukai semakin erat, terdengar teriakan keras dari seorang wanita yang baru saja tiba.


"Tidak... Kai Gege berhenti!!.."


Suara itu tidak lain berasal dari Xia Bing Yao, dia segera bergegas untuk pergi setelah mendengar bunyi ledakan dari kediaman pamannya.


Benar saja seperti yang ia pikirkan, Zhukai benar-benar mencoba membunuh Xia Wen. Meski Xia Wen ingin mengambil alih Klan Xia dan bahkan mencoba membunuhnya, tapi Xia Wen adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa.


Xia Bing Yao jelas tidak ingin satu-satunya keluarganya yang masih hidup pergi meninggalkan nya sendirian.


"Apa yang kamu lakukan Yao'er..." Dengan acuh, Zhukai berkata pada Xia Bing Yao tanpa sedikitpun melepaskan cengkeramannya.


"Aku bilang hentikan itu!!..." Xia Bing Yao dengan marah meminta Zhukai untuk melepaskan cengkeramannya dari leher Xia Wen..


"Ha!? apa maksud perkata–..."


Plak!!


Xia Bing Yao dengan keras menampar wajah Zhukai, dia kembali berteriak.


"Kubilang cepat lepaskan!! Apakah kau ingin membunuhnya..."


Meski tamparan itu tidak sakit, tetapi entah mengapa Zhukai merasakan rasa sakit di hatinya.


Dengan begitu, senyum di wajah Kai perlahan menghilang dengan ekspresi nya juga berubah menjadi semakin dingin


"Tch, jadi ini yang aku dapatkan setelah membantumu."


Dengan perasaan marah sekaligus kecewa, Zhukai melepaskan cengkeramannya pada leher Xia Wen.


Uhuk!! Uhuk!!..


Setelah lepas dari cengkeraman Zhukai, Xia Wen batuk beberapa kali sambil memegang lehernya yang memar.


"Paman, kamu tidak apa-apa?" Xia Bing Yao segera membantu Xia Wen untuk berdiri sambil memberinya sebuah pil penyembuhan.


"Ya aku baik-baik saja, terimakasih.."


Sementara itu, Zhukai menghela nafas panjang sambil bergumam pelan.


"Selamat tinggal!."


Zhukai berbalik dan berjalan pergi. Dia menggunakan skill teleportasi untuk memindahkan tubuhnya ke sebuah tempat dimana dia bisa melepaskan rasa kesal dan juga kecewanya.


***


Di sebuah tempat yang sangat indah, terlihat ada banyak tanaman bunga yang sangat indah dengan sebuah pohon besar yang ada di tengah-tengah taman bunga tersebut.


Tepat di bawah pohon, sebuah cahaya putih terang muncul bersamaan dengan keluarnya seorang pria dari cahaya tersebut.


Pria itu menatap kosong kearah taman bunga yang sangat luas di depannya, kenangan istrinya mulai bermunculan dalam benaknya hingga membuat pria itu meneteskan air mata.


"Zhi'er, apa yang harus aku lakukan saat ini?" Zhukai bergumam pelan sambil memetik satu tangkai bunga yang berada tidak jauh darinya.


Setelah mengambil bunga tersebut, Zhukai berjalan kearah pohon besar dan duduk di bawah pohon besar itu sambil menghirup bunga di tangannya yang mengeluarkan aroma harum.


"Hahaha, jadi ini balasan aku aku dapatkan setelah bersusah payah membantumu." Zhukai memegangi pipi kanannya tempat dimana Xia Bing Yao menamparnya.


Dia memejamkan kedua matanya sambil mencoba menghapus ingatan itu dari benaknya.


Tanpa Kai sadari, dia akhirnya tertidur dengan lelap di bawah pohon besar itu. Tepat setelah Zhukai tertidur, cahaya putih muncul secara tiba-tiba dan membentuk seorang wanita cantik dengan senyum manis di wajahnya.


"Suamiku, kamu telah berjuang sangat keras. Meski aku hanyalah sisa jiwa yang terbentuk dari kenangan kita berdua, aku selalu mengawasi mu dari sini. Jadi... Tetaplah semangat."


Cahaya itu memeluk mendekat dan memeluk Zhukai dengan erat. Sayangnya, begitu dia menyentuh Zhukai, tubuhnya perlahan memudar dan akhirnya menghilang.


Sementara itu di Klan Xia, Sun Wukong yang merasakan aura Zhukai yang hilang tiba-tiba mengerutkan keningnya sedikit terkejut.


Dia segera keluar dari ruangannya untuk mencari Xia Bing Yao. Tak berselang lama, Sun Wukong menemukan Xia Bing Yao sedang duduk di bangku taman yang ada di halaman istana.


"Bing Yao, apakah kamu tahu dimana kakak saat ini? Tadi aku merasakan auranya masih ada di sekitar sini, tapi mengapa itu menghilang seketika?"


Mendengar pertanyaan Sun Wukong, Xia Bing Yao diam tidak menjawab.


"Bing Yao apa kamu–..."


"Paman! bisakah kamu diam, aku hanya ingin menenangkan diri saat ini.." Dengan marah, Xia Bing Yao berdiri dan berjalan kembali ke ruangannya.


"Apa mereka berdua bertengkar? Tapi mengapa..."


Karena Sun Wukong menghabiskan waktunya berlatih, dia tidak tahu apa yang terjadi beberapa saat yang lalu di kediaman Xia Wen.


****


Di Alam yang terbengkalai yang letaknya jauh dari Alam Surgawi dan beberapa Alam lain di dunia ilahi.


Setelah kejadian ratusan tahun yang lalu, tidak ada seorang Kultivator pun yang berani menginjakkan kaki mereka di Alam itu.


Karena ada larang yang diberikan oleh sebelas dewa perang kuno, Alam tersebut mendapat julukan sebagai Alam terkutuk oleh Kultivator di dunia ilahi.


Selain energi spiritual di alam itu yang semakin menipis, sumber daya, herbal, dan juga beberapa artefak lainnya juga sudah di rampas oleh dewa perang kuno.


Dengan begitu, tidak ada satupun batang berharga di Alam tersebut.


Jauh di sebuah bangunan yang sudah tua dan juga rusak, seorang pria berjalan dengan ekspresi yang sangat sedih di wajahnya.


Dia mengambil salah satu puing bangunan tua itu dan menatapnya selama beberapa menit. Kenangan tentang para murid dan juga sahabatnya mulai bermunculan di benak pemuda itu.


"Kalian semua... Apakah kalian masih hidup."


Tepat setelah Zhukai menyelesaikan ucapannya, terdengar suara panggilan dari seseorang.


"Guru... Apakah itu kamu?"


***


Bersambung...